October 25, 2021

Bahayanya Pola Pikir Masyarakat Terhadap Covid-19 dan Efeknya di Masa Pandemi Ini

3 min read
Jatimpedia.co

Pola pikir masyarakat yang keliru dalam menyikapi tes Covid membuat penyebarannya masih terus berlangsung. (sumber: Pixabay.com)

oleh: Vina Mulyadi

Jatimpedia.co – Kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan, baik  jumlah pasien yang positif maupun angka kematian pasien Covid-19. Angka-angka yang kita dapatkan dari media juga perlu dipertanyakan keakuratannya. Jumlah kasus aktualnya mungkin lebih tinggi dibanding yang terdaftar.

Kenyataannya, sulit mendata dan memastikan angka kejadian dengan pasti karena wilayah Indonesia yang tersebar luas. Apalagi adanya rasa takut dari masyarakat sendiri untuk memeriksakan diri tampaknya akan membuat angka ini makin tidak faktual.

Banyak komentar masyarakat yang menyebutkan bahwa “lebih baik sakit  diam di rumah saja, tidak perlu ke puskesmas atau rumah sakit untuk berobat, daripada nanti disangka terkena Covid-19, dan harus menjalani tes Covid”. Pola pikir yang keliru ini, mengakibatkan masyarakat enggan memeriksakan diri, bila memiliki gejala Covid-19. Dengan demikian, OTG (Orang Tanpa Gejala) berkeliaran bebas di luar sana, dan pastinya memaparkan ke banyak orang di sekitarnya.  Maka virus korona akan terus beredar di setiap lapisan masyarakat.

Tentu saja ketakutan mereka bukan tanpa alasan. Mengingat ada kabar burung yang mengatakan bahwa beberapa rumah sakit dengan sengaja meminta keluarga pasien untuk menandatangani surat kematian berstatus Covid-19. Kadang pasien yang  mengalami flu dan demam tidak mau memeriksakan diri ke puskesmas, karena akan  diminta melakukan tes Covid-19. Jika terbukti positif,  harus menghadapi stigma masyarakat: sakit akibat Covid-19 adalah aib, dijauhi masyarakat sekitar, tidak adanya pemasukan penghasilan untuk biaya kehidupan padahal hidup sudah sulit, dan lain sebagainya.

Bukan sekali dua kali, kabar ini beredar di masyarakat.  Keadaan seperti inilah yang pada akhirnya membuat masyarakat menjadi makin enggan untuk memeriksakan diri ke pusat kesehatan masyarakat terdekat. Mereka takut divonis mengidap Covid-19 padahal  sebenarnya penyakit lain atau bahkan hanya flu biasa.

Pandemi Covid-19 yang kini sudah lebih dari  setahun ini membuat banyak perubahan di berbagai bidang sebagai bentuk adaptasi atas situasi dan kondisi saat ini. Kerentanan dan risiko yang dialami oleh masyarakat dalam situasi pandemi seperti saat ini berbeda-beda. Salah satu contohnya jika dinyatakan positif Covid-19, perubahan yang  dialami adalah kehilangan akses keluar rumah karena dianggap dapat mengancam dan memperburuk keadaan kesehatan lingkungan. Dampaknya adalah kehilangan upah/penghasilan atau bahkan kehilangan pekerjaan. Dalam situasi seperti ini peran epidemiolog dan   peran sosiolog sangat dibutuhkan baik secara teoritis dan empiris dalam penanganan pandemi yang berlangsung sejak awal tahun lalu ini.

Namun, pola pikir masyarakat ini tetap saja keliru, terlepas dari segala ketakutan karena sebutan orang tanpa gejala itu bisa terjadi pada siapa saja. Pastinya imbauan lebih baik mencegah daripada mengobati, masih berlaku. Ditangani lebih cepat pasti hasilnya akan lebih baik daripada ditunda-tunda. Penundaan penanganan tentu akan memperburuk kondisi penderita, menyulitkan penanganan, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk proses penyembuhannya. Jika pola pikir ini terus menerus yang diterapkan, penyebaran virus korona ini rasanya mustahil untuk  dapat diputus dan dihentikan. PSBB atau istilah sekarang PPKM yang sedang dilakukan pemerintah pun belum bisa efektif, selama tidak adanya kesatuan visi dan misi dalam penanganannya.

Pemerintah harus lebih tegas dan lebih berani dalam melakukan mitigasi epidemi ini.  Jika memang harus PSBB/PPKM maka pemerintah harus benar-benar menyiapkan dana yang lebih besar lagi untuk membantu kebutuhan ekonomi  bagi masyarakat yang ter-lockdown.

Selain adanya aturan kedisiplinan yang tegas, pemerintah pun harus memberikan contoh tindakan pencegahan dan penanganan yang efektif. Pemerintah juga harus menyiapkan dana besar untuk melakukan tes swab secara masif, karena secara logika semakin banyak dilakukan tes, maka semakin sedikit kasus baru akan tercatat.

Sekalipun pemerintah telah menggalakkan Gerakan 3M: menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan; dan 3T: testing, tracing, treatment untuk memutus rantai penyebaran virus korona serta sedang digalakkannya program vaksin oleh pemerintah, tetapi bukan berarti masyarakat bisa bebas dan santai karena tetap saja pandemi ini belum berakhir. Kita tetap wajib menerapkan protokol kesehatan, dan ditingkatkan lagi dari 3M menjadi 5M.

Peran pemerintah adalah menggalakkan 3T; dan peran masyarakat adalah 5M: Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, dan Mengurangi mobilitas. Tanpa adanya mitigasi dan kerjasama yang solid antara semua pihak tanpa terkecuali, maka pandemi Covid-19 ini butuh waktu lama untuk mengatasinya.

Selalu wajib diingat, virus Corona ini bisa menyerang dan menginfeksi siapa saja dan tersebar dengan cepat. Akan tetapi tidak perlu  panik, sebab takut yang berlebihan justru akan membawa derita. Tetap tenang dan ikuti langkah-langkah medis yang telah dianjurkan untuk upaya penyembuhannya, jika Anda terpapar COVID-19.(*)

*Penulis adalah seorang wirausaha kuliner, kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pembelajar literasi, peserta kelas Mahir Menulis Artikel – Joeragan Artikel.

Editor: ENNI | Jatimpedia.co

2 thoughts on “Bahayanya Pola Pikir Masyarakat Terhadap Covid-19 dan Efeknya di Masa Pandemi Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *