DPRD Sidoarjo Ingatkan Antisipasi Dini Penyakit Demam Berdarah Jelang Musim Hujan dan Peningkatan Layanan Kesehatan di Sidoarjo

0

Sidoarjo (beritajatim.com) – Menjelang musim penghujan, penyakit demam berdarah (DB) menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Wakil Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Bangun Winarso mengingatkan pentingnya antisipasi dini untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, yang sering kali muncul seiring perubahan musim.

Menurut Bangun Winarso, penyebaran penyakit DB yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti sering kali disalahartikan oleh masyarakat.

“Banyak yang mengira nyamuk penyebab DB berkembang di air yang bersentuhan langsung dengan tanah, padahal sebenarnya nyamuk ini berkembang biak di air yang terwadahi, seperti bak mandi, talang air, kaleng bekas, atau timba yang tidak bersentuhan dengan tanah,” ucapnya Senin (11/11/2024).

Untuk itu, lanjut politisi PAN itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) perlu terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan prinsip 3M, yaitu Menutup, Mengubur, dan Membuang tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DB.

“Kolam ikan di depan rumah, misalnya, sering kali menjadi tempat nyamuk bertelur. Program Dinkes seperti pemberian serbuk Apache di kolam atau bak mandi bisa sangat efektif untuk mengurangi jumlah jentik nyamuk,” terangnya.

Bangun juga menekankan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah sangat penting. Ia mencontohkan, baju yang dijemur di tempat yang lembab atau tidak terlindungi dengan baik juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Kegiatan kecil yang sering diabaikan, seperti menaruh pakaian di tempat yang tidak tepat (centelan), bisa menjadi potensi penyebaran penyakit,” tuturnya.

Foto BeritaJatim.com
Wakil Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Bangun Winarso

Selain pencegahan penyakit menular, Bangun juga membahas tentang upaya peningkatan layanan kesehatan di Sidoarjo, khususnya dalam menghadapi penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol. Salah satu program yang sedang digalakkan adalah Integrasi Layanan Primer (ILP) yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Program ini bertujuan untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat, terutama di tingkat desa.

“Integrasi Layanan Primer ini bertujuan untuk meminimalisir penyakit tidak menular yang menjadi penyumbang utama kematian di Sidoarjo, seperti darah tinggi dan diabetes. Program ini mengharuskan setiap desa memiliki posko kesehatan dengan tenaga kesehatan yang memadai, minimal satu perawat dan dua kader kesehatan terlatih,” jelas dia.

Namun, ia mengakui bahwa masih ada tantangan dalam pelaksanaan program ini, terutama terkait keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) di lapangan.

“Sekitar 20 persen desa di Sidoarjo masih kekurangan tenaga kesehatan terlatih. Kami terus mendorong Dinkes Kab. Sidoarjo untuk segera mengimplementasi- kan program ini agar bisa menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular,” tambahnya.

Bangun berharap, dengan adanya program ILP yang dijalankan secara maksimal, usia harapan hidup di Kabupaten Sidoarjo bisa meningkat, yang saat ini tercatat sekitar 73 tahun. Program ini juga diharapkan dapat mempercepat akses layanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari Ouskesmas.

“Penting bagi kami untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak hanya dengan menyediakan fasilitas, tapi juga dengan mendatangi langsung masyarakat yang membutuhkan, terutama di desa-desa terpencil,” jelas Bangun.

Foto BeritaJatim.com
Sekretaris Komisi D DPRD Sidoarjo Zahlul Yussar

Dengan berbagai upaya ini, diharapkan Sidoarjo dapat lebih siap menghadapi musim penghujan dan menurunkan angka penyakit menular maupun tidak menular di Kabupaten Sidoarjo.

Sementara, Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, Zahlul Yussar juga mengutarakan bahwa berbagai permasalahan kesehatan yang muncul akibat perubahan musim memang tidak seharusnya dianggap remeh. Sehingga perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan tersebut.

“Kami sudah mengingatkan dan menginstruksikan terutama di masing-masing puskesmas agar ada upaya preventif dalam menekan penyakit yang bakal muncul saat musim pancaroba. Seperti DB misalnya. Karena sampai saat ini DB mengalami peningkatan,” papar politisi Partai Demokrat tersebut.

Lantas dengan cara apa?, Menurutnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat khususnya agar dapat terhindar dari bahaya DB. Mulai dari membiasakan diri hidup bersih, dan membersihkan tempat-tempat yang dapat menjadi sarang bagi penyebaran DBD.

“Bisa juga dengan cara penyemprotan fooging (penyemprotan DBD). Kami juga sudah mengupayakan agar para relawan nantinya dapat membantu dalam melakukan penyemprotan. Tentunya relawan ini nantinya juga harus didampingi oleh pihak Puskesmas,” urainya.

Disamping itu, masih kata Zahlul, juga bisa dilakukan dengan cara kerja bakti secara rutin untuk membersihkan saluran-saluran air yang berpotensi menjadi sarang penyebaran DBD. Langkah- langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi berbagai macam penyakit terutama saat musim penghujan tiba.

“Puskesmas juga seharusnya lebih aktif untuk memberikan himbauan kepada masing-masing RT, agar melakukan kerja bakti secara rutin mulai bersih-bersih selokan, maupun tempat sampah,” pungkasnya. (adv/isa)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.