Sejarah Lahirnya C-41, Bibit Cabai Unggul dari Tanah Marjinal Bondowoso

0

Bondowoso (beritajatim.com) – Inovasi di dunia pertanian selalu dinamis. Di Kabupaten Bondowoso terdapat bibit cabai rawit unggulan dari tanah gersang. Lahan tadah hujan.

Bibit cabai rawit itu dibuat oleh Kelompok Tani (Poktan) Sejahtera 15 di Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso.

Ketua Poktan 15, Suliyanto menjelaskan, pada tahun 2017 lalu ia melihat peluang bahwa lahan di Desa Kretek juga bisa ditanami cabai.

“Biasanya saat musim penghujan, petani Kretek hanya menanam padi. Hasilnya tidak seberapa,” ungkap Suliyanto kepada BeritaJatim.com.

Di sisi lain, untuk menanam cabai, maka diperlukan pasokan air yang cukup. Oleh sebab itu, ia menciptakan variestas cabai yang tidak membutuhkan banyak air.

“Namanya C-41. Huruf C nya itu dari bahasa Madura artinya Clonga’ (Congkak). Sedangkan 41 itu perbandingan 4:1. Sebab kualitas 4 bibit masih kalah lawan 1 varietas unggul ini,” katanya.

Pria yang karib disapa Suliwa ini menuturkan, varietas C-41 lebih tahan hama dan penyakit. Kemudian juga tidak terlalu membutuhkan banyak air untuk bertahan hidup.

“Setiap satu hektar kalau varietas umum panen maksimal 15 ton. Sedangkan C-41 bisa panen hingga 20 ton,” ucapnya.

Kualitas cabai yang dihasilkan juga disebut lebih bagus. Lazimnya untuk cabai grade 1 hanya bisa dihasilkan dari panen 1-3.

“Cabai C-41 masuk ke panen kedelapan masih grade 1. Untuk masa panen bisa sampai 15 kali dalam semusim,” tuturnya.

Perbedaan secara fisik dari tanaman cabai C-41 terlihat dari tinggi pohon. Jika cabai umumnya tingginya hanya 1 meter, cabai rawit C-41 bisa bertinggi 2 meter.

“Sejauh ini kami menjual cabai rawit C-41 ke pasar metropolitan seperti Jakarta. Kami juga merambah pasar Sumatera,” bebernya.

Ia menyebut bibit cabai C-41 adalah inovasi yang cocok bagi lahan pertanian tadah hujan.

“Kami menyebut bahwa C-41 lahir di tanah marjinal. Karena persediaan air tidak sebagus di lahan pertanian teknis di dataran rendah,” kata dia.

Sebab wilayah tadah hujan, maka biaya produksi yang dikeluarkan petani juga tidak terlampau tinggi.

“Setiap kilogram yang dihasilkan, biaya produksinya sekitar Rp 10 ribu. Sekarang rata-rata harga jualnya Rp 20 ribu – Rp 23 ribu per kilogram,” urai Suliwa.

“Jadi petani cabai bisa meraup keuntungan 100 persen atau 2 kali lipat dari biaya produksi,” imbuhnya.

Kabid Penyuluhan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Achmad Yudhi Hidayat menambahkan, invoasi bibit cabai C-41 dilombakan di tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Kami mengirimkan dua poktan dan keduanya lolos tahap III (10 besar). Termasuk Poktan Sejahtera 15. Tinggal menunggu pengumuman juaranya saja,” terang Yudhi dikonfirmasi terpisah.

Pihaknya berharap inovasi seperti C-41 ini bisa menjadi solusi bagi permasalahan pertanian di Kabupaten Bondowoso.

“Khususnya bagi petani yang berada di wilayah kekurangan air seperti di Desa Kretek,” tuturnya. [awi/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.