AI Makin Canggih, PTKI Diingatkan Jangan Sampai Mahasiswa Jadi “Plagiator” Instan
Bondowoso (beritajatim.com) – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dituntut tidak hanya mencetak lulusan yang menguasai ilmu agama dan akademik, tetapi juga memiliki keterampilan profesional serta karakter kuat untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Hal itu mengemuka dalam acara Ngobrol Pendidikan Agama Islam (Ngopi) bertema *“Membentuk Generasi Perguruan Tinggi Keislaman (PTKI) Unggul: Berkarakter Pesantren, Berwawasan Global dan Responsif Terhadap Zaman”* di Grand Padis Hotel, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi. Peserta dibagi dalam dua sesi, masing-masing sekitar 250 mahasiswa.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Abdul Mu’is, mengatakan, tantangan perguruan tinggi ke depan semakin besar seiring meningkatnya persaingan sumber daya manusia, termasuk dengan tenaga profesional dari luar negeri.
“Cita-cita kita Indonesia akan membentuk generasi emas dan SDM yang mumpuni. Jika tidak diperkuat dari sekarang, tentu mereka akan dikalahkan oleh para kompetitor yang lainnya,” kata Abdul Mu’is.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa memiliki keahlian yang sesuai dengan bidang yang ditekuni. Lulusan FTIK, misalnya, diharapkan memiliki standar minimal sebagai calon guru profesional, mulai dari memahami pembelajaran, proses pembelajaran hingga evaluasinya.
“Keahlian-keahlian inilah yang akan terus dikembangkan mereka menuju kepada status mereka sebagai pekerja yang profesional,” ujarnya.
Abdul Mu’is juga menyoroti dampak AI terhadap dunia pendidikan. Menurut dia, AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak boleh menjadi tujuan maupun menggantikan peran manusia.
“Guru itu tidak bisa digantikan oleh AI. Kalau ilmunya iya. Tapi fungsi guru itu bukan hanya mengajar. Tetapi fungsi guru itu sebagai contoh, sebagai usaha, pemberi semangat, sebagai pendoa kepada muridnya. Itu yang tidak bisa ditiru oleh AI,” jelasnya.
Ia menilai penggunaan AI secara berlebihan justru berpotensi membuat mahasiswa tidak memahami tugas yang dikerjakan. “Sekarang kalau kita mau bikin tugas itu cukup dua menit saja sudah selesai. Tetapi apakah kemudian anak itu ngerti dengan tugasnya, kan belum tentu,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menekankan pentingnya pengawasan penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menggantikan proses belajar dan menghasilkan karya akademik secara instan.
“Ketika membuat skripsi, AI membantu memberikan informasi, tetapi harus diawasi, jangan plagiasi,” kata legislator PDI Perjuangan tersebut.
Ia juga meminta mahasiswa tetap menggunakan literatur konvensional, termasuk membaca buku dan sumber akademik di perpustakaan.
Penggunaan teknologi, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan membaca dan melakukan verifikasi terhadap sumber informasi. “Mahasiswa itu tugasnya belajar dan membaca buku, bukan plagiasi,” ujarnya.
Ina juga menekankan pentingnya dosen mengikuti perkembangan teknologi agar mampu mengawasi dan mengoreksi karya akademik mahasiswa secara lebih baik. “Dosen itu berkewajiban belajar juga, nggak bisa gaptek,” katanya.
Dalam materi sambutannya, Ina juga menekankan bahwa karakter pesantren tetap relevan di tengah perkembangan teknologi. Karakter tersebut mencakup kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, menghormati orang lain dan memiliki kepedulian sosial.
Selain karakter, mahasiswa PTKI juga didorong memiliki wawasan global dengan menguasai bahasa asing, teknologi, riset, komunikasi serta kemampuan bekerja sama secara internasional.
Ina mengatakan, tantangan berikutnya adalah memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Ia tidak sepakat jika penyerapan kerja dilakukan dengan memberikan jaminan pekerjaan yang justru berpotensi menghilangkan semangat kompetisi.
“Ya saya berharap kompetisi sehingga mereka bersaing. Nah yang digarisbawahi tidak ada KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),” tegasnya.
Menurutnya, kesempatan harus diberikan berdasarkan prestasi dan kompetensi. “Kalau berprestasi kenapa enggak? Makanya saya ini kan garis bawahi harus berprestasi dan berkompetensi,” pungkasnya. (awi/kun)
Link informasi : Sumber