Pohon Doa Untuk 135 Jiwa Korban Tragedi Kanjuruhan
Malang (beritajatim.com) – Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 selalu diingat oleh publik sebagai hari duka atas meninggal dunianya 135 nyawa. Kali ini, peringatan tragedi memilukan dalam sejarah sepak bola dunia itu memasuki tahun ke-4.
Sejumlah elemen memperingati 4 tahun Tragedi Kanjuruhan dengan terus menyuarakan keadilan bagi korban. Salah satunya aksi teatrikal yang dilakukan oleh Malang Performance Art (MAPAC) di kawasan Alun-alun Tugu Kota Malang pada Kamis (1/10/2026).
Mereka menggelar aksi teatrikal bertema pohon doa. Nama-nama mendiang korban Tragedi Kanjuruhan mereka tempatkan pada sebuah pot yang ditaruh di atas kepala sebuah patung. Cahaya puluhan lilin turut menerangi malam yang dingin dalam aksi teatrikal ini.
“Jadi, tadi kan nama-nama korban tragedi ditaruh di pot. Sebagai doa, posisi potnya ditaruh di atas kepala. Itu lebih ke biar Tragedi Kanjuruhan ini selalu jadi hal yang selalu diingat sama kita. Jangan sampai dilupa. Itu sih konsep untuk perform kali ini,” kata Performance Art MAPAC Sogeh Ahmad.
Sogeh yang merupakan asli Palu mengingatkan publik Malang dan suporter agar tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan. Euforia sepak bola yang mulai kembali bergairah diharapkan tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan di mana 135 jiwa meninggal dunia karena gas air mata usai menyaksikan pertandingan sepak bola.
“Yang saya lihat euforia tentang sepak bola itu masih tinggi. Kita lupa kalau pernah ada kejadian 135 orang yang meninggal. Nah itu yang saya sayangkan. Saya bukan asli Malang, saya asli Palu. Cuman saya melihat, kok orang-orang ini kayak lupa gitu ya ada kejadian Kanjuruhan,” ujar Sogeh.
Sebagai seniman, dia menyadari berbicara persoalan hukum di Indonesia cukup berat. Misi yang dia bawa dari tahun ke tahun adalah bagaimana publik masih mengingat bahwa Tragedi Kanjuruhan yang membuat 135 jiwa meregang nyawa belum benar-benar tuntas.
“Cuma paling tidak, ingatan kita tentang kanjuruhan ini jangan sampai hilang, harus selalu ingat bahwa pernah ada kejadian itu. Saya lebih menekankan itu. Karena terlalu muluk-muluk mungkin kita berharap keadilan di negeri ini, kondisi kita kayak gini, susah,” kata Sogeh. (luc/kun)
Link informasi : Sumber