Mengapa Gelar Juara Manchester City Tak Perlu Dicabut?

0

Investigasi Komisi Independen yang berlangsung sejak 2017 hingga 2026, akhirnya berujung pada kesimpulan pahit bagi fans Manchester City. Citizens dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan Liga Primer Inggris selama sembilan musim, sejak 2009-10 hingga 2017-18.

Manchester City terbukti membuat kontrak-kontrak semu yang tidak mencerminkan kesepakatan sebenarnya antara para pihak dengan sejumlah mitra komersialnya, serta mengandalkan perjanjian semu dengan pihak lainnya, untuk secara artifisial meningkatkan pendapatan klub dan mengurangi biaya klub.

Selain itu, laporan keuangan yang disampaikan Manchester City tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Manajemen Citizens menyembunyikan kondisi keuangannya yang sebenarnya dari auditor serta regulator sepak bola.

Manchester City terbukti melakukan pelanggaran signifikan terhadap batas pengeluaran Premier League maupun UEFA. Namun, selama penyelidikan oleh Premier League, Manchester City melakukan sejumlah pelanggaran terhadap kewajiban kerja sama dan iktikad baik sepenuhnya kepada Liga. Dengan demikian, tiga dari empat pelanggaran yang dituduhkan dinyatakan terbukti.

Modus kecurangan finansial City adalah dengan mewajibkan perusahaan-perusahaan sponsor hanya membayar sebagian dari nilai sponsorship yang relevan. Sisa nilai sponsor kemudian didanai pemilik klub sendiri, yakni Abu Dhabi United Group Investment & Development Ltd (ADUG).

Modus ini membuat klub dapat mencatatkan biaya operasional yang lebih rendah daripada biaya yang sebenarnya dikeluarkan. Selain itu, menurut siaran pers Premier League, terdapat pengaturan sirkular ‘semu’ dengan Fordham, sebuah entitas yang membeli hak citra para pemain klub, yang juga didanai oleh ADUG.

Dengan skema ini, City secara artifisial meningkatkan pendapatan klub dan mengurangi biaya klub lebih dari £900 juta selama periode yang terdampak, agar klub terlihat mematuhi aturan keuangan.

Menutupi hal itu, klub menyampaikan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan menyembunyikan kondisi keuangannya yang sebenarnya dari auditor serta regulator sepak bola. Komisi menyimpulkan bahwa melalui tindakannya, klub jelas bermaksud menghindari aturan-aturan Premier League.

Premier League menyebut perkara disipliner ini dan keputusan ini merupakan yang paling signifikan dalam sejarah Premier League. City diberikan hak mengajukan banding terhadap temuan Komisi Independen paling lambat 2 Oktober 2026.

“Ada sejumlah aspek perkara yang masih harus diputuskan, termasuk, yang terpenting, sanksi apa yang harus dijatuhkan atas pelanggaran-pelanggaran tersebut. Sekarang setelah kami menerima keputusan Komisi, kami berkomitmen untuk bergerak cepat menyelesaikan sisa proses, sehingga memberikan kepastian bagi Liga, klub-klub, dan para penggemar,” demikian siaran pers Premier League.

Spekulasi berkembang soal sanksi tersebut. Ada keinginan dari komunitas sepak bola untuk mendegradasikan City hingga level kompetisi profesional terbawah dan mencabut semua gelar juara City, baik Liga Primer, Piala FA, Piala Liga, Community Shield, dan bahkan Piala Eropa.

Sebagai fans berat Liverpool, tentu saja saya senang jika gelar juara Liga Primer Inggris yang diraih City pada musim 2013-14 dicabut dan diserahkan kepada The Reds. Ini akan menghapus kenangan buruk terpelesetnya Steven Gerrard yang mengawali kolapsnya mimpi Liverpool untuk menjuarai Liga Inggris kembali sejak 1990.

Namun, perlukah City dijatuhi sanksi pencabutan gelar juara?

Sebelum menjawab itu, kita perlu meninjau sepak bola dari dua sisi: sistem permainan dan ekosistem.

Sepak bola sebagai sistem terdiri atas aktor dan perangkat aturan yang memungkinkan sebuah pertandingan berlangsung dengan tertib. Pemain, pelatih, wasit, hakim garis, video assistant referee, kartu merah, kartu kuning, offside, tendangan penjuru, penalti, tendangan bebas, maupun durasi pertandingan adalah sejumlah elemen sistem pertandingan. Hilangnya salah satu elemen membuat pertandingan tak memungkinkan terjadi.

Sebagai sebuah sistem, pertandingan sepak bola adalah sesuatu yang independen, tak boleh diintervensi oleh anasir-anasir luar. Proses dan hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola hanya bisa ditentukan oleh elemen-elemen resmi di dalamnya. Itulah kenapa tidak ada yang bisa mengubah hasil pertandingan sepak bola sekontroversial apa pun.

Selama angka di papan skor ditentukan oleh pertandingan yang mempertemukan dua tim dengan kesempatan yang sama untuk meraih kemenangan, maka tidak boleh ada perubahan hasil. Bahkan sejumlah kesalahan pengambilan keputusan pengadil di lapangan sekrusial apa pun, tidak bisa mengubah hasil pertandingan. Poin tidak pernah diubah dan tak akan dikoreksi.

Gelar juara adalah hasil akumulasi kemenangan dan kekalahan serangkaian pertandingan dalam sebuah kejuaraan. Maka sebelum memutuskan untuk mencabut trofi, perlu dibuktikan sejauh mana Manchester City mengintervensi salah satu atau lebih pertandingan dalam perjalanan menjadi juara.

Apakah mereka menyogok wasit untuk dimenangkan? Apakah mereka menyuap pemain tim lawan? Apakah mereka melakukan upaya-upaya pengaturan hasil akhir pertandingan atau match fixing?

Inggris pernah diguncang skandal pengaturan skor pada 2 April 2015 yang melibatkan sejumlah pemain Liverpool dan Manchester United. Kemenangan 2-0 di Old Trafford berhasil menyelamatkan Man United dari degradasi, namun membuat Chelsea yang berada di peringkat 19 klasemen turun kasta bersama Tottenham Hotspur.

Football Association menjatuhkan sanksi larangan bermain untuk masing-masing empat pemain Liverpool dan United. Namun, mereka tidak didegradasi dengan alasan pengaturan skor tersebut tanpa sepengetahuan kedua klub itu.

Chelsea tentu saja melayangkan protes keras. Namun, John McKenna, pemilik Liverpool kala itu yang menjabat Ketua Komisi Liga Inggris, punya siasat untuk menyelamatkan Chelsea.

Usai Perang Dunia I, kompetisi digelar dengan penambahan jumlah kontestan Divisi Pertama dari 20 menjadi 22 tim. Berdasarkan hasil pemungutan suara terbanyak, Chelsea selamat dari degradasi dan hanya Tottenham Hotspur yang turun kasta.

Tony Kay, pemain Sheffield Wednesday, dijatuhi skorsing karena terlibat pengaturan skor saat timnya melawan Ipswich Town pada Desember 1962. Belakangan dia kemudian dipenjara selama sebelas pekan atas tuduhan kasus penyuapan. Namun, tidak ada satu pun klub yang dijatuhi sanksi berat.

Sanksi pencabutan gelar juara justru terjadi di Liga Italia Serie A. John Foot dalam buku Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer menyebutkan, selama lebih dari 100 tahun, skandal sepak bola telah menyebabkan tiga gelar juara dicabut, sejumlah klub terdegradasi dan dikurangi poinnya, serta tak terhitung banyaknya pemain, pelatih, dan administrator yang dijatuhi skorsing.

Klub pertama Italia yang dicabut gelar juaranya adalah Torino pada 1927. Seorang pejabat Torino sebelum pertandingan derbi melawan Juventus terbukti menyuap Luigi Allemandi, bek Juventus, 50 ribu lira untuk bisa menang dan jadi juara untuk pertama kalinya.

Dua tahun sebelum Piala Dunia 1982, 33 pemain Liga Italia didakwa bersalah karena kasus pengaturan skor untuk perjudian. Lazio dan AC Milan diturunkan ke Serie B.

Kamis, 28 Juli 2005, otoritas olahraga Italia memutuskan Genoa bersalah karena menyuap para pemain klub Venezia yang saat itu dalam kondisi bangkrut dan bahkan tidak mampu membayar staf mereka menjelang akhir musim.

Tidak hanya promosi ke Serie A yang dicabut, Genoa juga diturunkan ke Serie C1 dan mendapat tambahan hukuman pengurangan tiga poin.

Terakhir, skandal terjadi pada Mei-Juli 2006: calciopoli atau Moggiopoli (mengambil nama petinggi Juventus Luciano Moggi).

Mengutip La Gazzetta dello Sport, John Foot menyebut ‘Moggiopoli bekerja seperti ini: kejuaraan dikendalikan selangkah demi selangkah, mulai dari pasar transfer hingga gol yang dianulir pada menit-menit terakhir, dari posisi offside yang luput hingga kartu merah yang diberikan atau tidak diberikan berdasarkan tingkat perlindungan yang dinikmati setiap pemain’.

Hasil akhir lebih dari 20 pertandingan Serie A diduga telah “diatur”. Gelar juara ke-28 dan 29 Juventus dicabut. Namun, John Foot mengatakan, ‘kasus ini bukan hanya menyangkut Juventus, tetapi juga AC Milan, Fiorentina, dan Lazio’.

“Moggiopoli menjadi kemenangan bagi para penganut teori konspirasi. Mereka terbukti sepenuhnya benar. Hampir semuanya telah diatur: kemenangan, kekalahan, degradasi, tayangan ulang gerak lambat, kartu,” tulis John Foot.

Apakah skandal keuangan Manchester City bisa disamakan dengan calciopoli atau Moggiopoli? Hingga saat ini, Tim Independen tidak menemukan adanya pengaturan skor atau intervensi terhadap pertandingan yang mempengaruhi hasil akhir.

Namun, kecurangan Manchester City juga tak kalah berbahayanya, yakni merusak ekosistem sepak bola Inggris yang sudah dibangun susah payah sejak liga diputar pada 1888. Jika sistem dalam pertandingan sepak bola hanya melibatkan pemain, pelatih, wasit, dan perangkat pertandingan, ekosistem dibangun dengan kehadiran penonton, fans, pemilik dan manajemen klub, sponsor, otoritas liga, hingga pemerintah.

Mereka saling bersepakat untuk menciptakan iklim kompetisi yang kondusif, yang memberikan kesempatan yang sama dan setara kepada semua kontestan. Sebagaimana siaran pers Premier League, “Sangat penting bahwa Liga tetap kompetitif dan adil bagi seluruh klub dan para penggemar’.

Dengan semangat yang sama, UEFA memperkenalkan Financial Fair Play (FFP) yang mulai berlaku pada 2014 untuk mencegah klub-klub membelanjakan dana jauh melampaui kemampuan finansial mereka yang sebenarnya dan terjerumus ke dalam masalah keuangan.

Berdasarkan aturan FFP antara 2011 dan 2013, klub hanya diperbolehkan mencatatkan total kerugian maksimal sebesar €45 juta. Setiap pelanggaran aturan akan berujung pada pencoretan klub dari kompetisi Eropa. Dan pada musim 2010–2011, Man City mencatatkan angka kerugian terbesar yang pernah dicatatkan oleh klub sepak bola Inggris: £197 juta.

David Conn dalam buku Richer Than God: Manchester City, Modern Football and Growing Up yang terbit pada 2012 mengatakan, ‘jumlah itu lebih dari lima kali lipat total kerugian yang diizinkan bagi City selama dua tahun berikutnya, sehingga tampak mustahil bagi mereka untuk mendekati titik impas pada tenggat waktu yang ditentukan tanpa dukungan dana dari Sheikh Mansour.’

David Conn benar. City tak pernah mendekati titik impas, bahkan memperluas skala dan modus pelanggaran terhadap FFP.

Dengan masifnya pelanggaran administrasi ini, maka City layak dijatuhi hukuman berat administratif tanpa sanksi pencabutan gelar juara. Selain memberikan kompensasi uang terhadap klub-klub kontestan Liga Primer, City layak didegradasikan ke divisi terbawah sepak bola profesional Inggris.

Glasgow Rangers, klub legendaris Skotlandia, pernah didegradasi hingga level keempat Liga Skotlandia pada 2012 karena krisis keuangan parah. Lisensi keanggotaan mereka dicabut oleh Scottish Football Association dan Scottish Premier League.

Klub-klub anggota Liga Utama Skotlandia dan Liga Sepak Bola Skotlandia menolak partisipasi Rangers dan memutuskan klub itu harus memulai kembali proses kompetisi dari tingkat terbawah. Salah satunya dengan alasan menjaga integritas olahraga, karena Rangers menghindari pajak demi mendanai skuad bertabur bintang. Sesuatu yang serupa tapi tak sama dengan Man City. [wir/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.