Bojonegoro Masih Defisit 3.000 Ton Telur, Pemkab Perkuat Sektor Peternakan
Ringkasan Berita:
- Bojonegoro masih mengalami defisit sekitar 3.000 ton telur hingga Agustus 2026.
- Pemkab Bojonegoro memperkuat sektor perunggasan melalui pembinaan dan pengukuhan asosiasi peternak ayam pedaging serta petelur.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat menjadi peluang pasar bagi produk peternakan lokal.
- Pemkab bersama Bulog telah memfasilitasi penyaluran sekitar 468,9 ton jagung SPHP untuk membantu peternak ayam petelur.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemkab Bojonegoro memperkuat sektor perunggasan di tengah kebutuhan telur masyarakat yang belum sepenuhnya mampu dipenuhi produksi lokal. Hingga Agustus 2026, Bojonegoro masih mengalami defisit sekitar 3.000 ton telur. Penguatan dilakukan melalui Pembinaan Perunggasan Bojonegoro sekaligus Pengukuhan Pengurus Asosiasi Peternak Ayam Pedaging dan Asosiasi Peternak Ayam Petelur, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro, tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Mereka terdiri dari peternak ayam pedaging dan petelur, pengurus asosiasi, perusahaan kemitraan, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, sektor peternakan memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Ini menjadi peluang yang harus kita manfaatkan bersama. Bagaimana kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi dari produksi peternak lokal,” ujar Nurul Azizah, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, kebutuhan telur di Bojonegoro sebelumnya mencapai sekitar 8.000 ton per tahun, sedangkan produksi lokal hanya sekitar 1.000 ton. Namun, kesenjangan tersebut mulai berkurang dan kini defisitnya sekitar 3.000 ton.
Nurul mendorong peternak memanfaatkan peluang pasar yang tersedia, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut dapat menjadi pasar potensial bagi produk peternakan lokal.
“PR ini tidak hanya bisa dilakukan oleh Pemkab dan OPD. Kalau ada peluang, mari kita pergunakan bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Disnakkan Bojonegoro Catur Rahayu mengatakan, pengukuhan asosiasi menjadi wadah komunikasi dan koordinasi antara peternak, perusahaan kemitraan, dan pemerintah.
“Forum ini diharapkan dapat mewujudkan sistem usaha ayam yang sehat, produktif, dan berkelanjutan,” katanya.
Berdasarkan data Juni 2026, populasi ayam ras pedaging di Bojonegoro mencapai sekitar 3,34 juta ekor, sedangkan ayam ras petelur sekitar 658 ribu ekor. Potensi tersebut masih dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Catur Rahayu menambahkan, salah satu tantangan peternak ayam petelur adalah biaya produksi, terutama harga pakan. Untuk membantu menekan beban tersebut, Pemkab Bojonegoro bersama Bulog telah memfasilitasi penyediaan jagung SPHP.
Hingga kini, sekitar 468,9 ton jagung SPHP telah disalurkan kepada peternak ayam petelur.
“Melalui penguatan asosiasi, pembinaan dan dukungan terhadap kebutuhan produksi, Pemkab Bojonegoro menargetkan produktivitas peternakan terus meningkat sehingga kebutuhan telur dan ayam masyarakat semakin banyak dipenuhi dari produksi lokal,” pungkasnya. [fif/beq]
Link informasi : Sumber