Kebaya Jawa dengan Sentuhan Internasional, Cara Desainer Surabaya Danny Dwa Hidupkan Motif Batik Jogja
Yogyakarta (beritajatim.com)– Perpaduan estetika busana internasional dengan kekayaan tradisi Jawa menjadi ciri khas rancangan desainer asal Surabaya, Danny Dwa, dalam gelaran Jogja Fashion Rendezvous (JFR) 2026. Melalui koleksi kebaya premium, Danny menghadirkan interpretasi busana Jawa yang modern dengan memadukan siluet kontemporer dan motif batik asli Yogyakarta.
Dalam peragaan busana yang berlangsung di Jogja City Mall, 9–11 Oktober 2026, Danny tidak hanya membawa koleksi kebaya rancangannya. Ia juga menghadirkan tiga figur perempuan, yakni Puteri Indonesia 2024, Puteri Indonesia 2025, serta Puteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk memperagakan karya-karyanya di atas panggung mode.
Kehadiran mereka menambah daya tarik koleksi Danny yang berupaya mempertemukan keanggunan kebaya dengan pendekatan desain yang lebih modern dan berkarakter internasional.
Salah satu ciri khas yang ditonjolkan Danny adalah perpaduan kebaya dengan elemen busana kontemporer, seperti bustier dan obi. Bustier memberikan struktur pada bagian tubuh atas, sedangkan obi menjadi aksen yang mempertegas siluet sekaligus menghadirkan sentuhan estetika busana Asia.
Kombinasi tersebut tidak menghilangkan karakter kebaya sebagai busana tradisional. Sebaliknya, pendekatan itu memberikan ruang bagi kebaya untuk tampil lebih dinamis, elegan, dan relevan dengan perkembangan mode masa kini.
Keunikan lainnya terlihat pada pemilihan material. Dalam koleksi yang ditampilkan di JFR 2026, Danny memadukan rancangannya dengan sejumlah motif batik khas Yogyakarta, di antaranya Sekar Jagad, Kawung, dan Truntum.
Ketiga motif tersebut menghadirkan karakter visual sekaligus membawa nilai budaya yang berbeda. Sekar Jagad dikenal dengan komposisi motif yang menyerupai mozaik, Kawung memiliki pola geometris berbentuk elips yang tersusun teratur, sedangkan Truntum lekat dengan simbol kasih sayang.
Perpaduan potongan busana modern dengan motif batik Yogyakarta itu menjadi cara Danny menghadirkan dialog antara tradisi dan inovasi. Kain batik tidak sekadar menjadi ornamen, tetapi menjadi bagian penting yang membangun identitas koleksi.
Bagi Danny, keikutsertaannya dalam JFR 2026 juga menjadi kesempatan untuk memperluas jangkauan karya sekaligus membangun kolaborasi dengan figur-figur publik.
“Seru pastinya ya membawa mereka Puteri Indonesia ke ajang Fashion Show Rendezvous 2026, ke depan kita akan bawa lagi mereka keliling daerah memeragakan busana karya Danny Dwa,” jelasnya.
Perluas Panggung Kebaya Premium
Danny Dwa sebelumnya dikenal melalui kiprahnya dalam mengolah wastra lokal menjadi busana modern. Pada Indonesia Teen Fashion Week 2024 di Jakarta, ia menampilkan 12 rancangan berbahan batik khas Mojokerto dengan konsep Party Wear Edgy yang menyasar pasar remaja.
Pengalaman tersebut memperlihatkan ketertarikannya mengeksplorasi kain tradisional melalui pendekatan desain yang mengikuti perkembangan pasar. Jika sebelumnya batik Mojokerto menjadi salah satu material yang diangkat, dalam JFR 2026 Danny turut mengeksplorasi motif batik Yogyakarta untuk memperkaya karakter kebaya premium rancangannya.
Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana desainer dapat mengolah kekayaan wastra dari berbagai daerah menjadi karya yang memiliki karakter berbeda tanpa melepaskan akar budaya.
Ke depan, Danny telah menyiapkan sejumlah agenda untuk membawa koleksinya ke panggung yang lebih luas. Beberapa di antaranya adalah Malang Fashion Week, Mojobatik Festival, dan Surabaya Fashion.
Rangkaian agenda tersebut menjadi peluang bagi Danny untuk memperkenalkan desainnya kepada pasar yang lebih beragam, sekaligus memperluas ruang promosi bagi busana yang memadukan unsur tradisional dan kontemporer.
JFR 2026 Hadirkan 77 Desainer dari Berbagai Daerah
Jogja Fashion Rendezvous 2026 mengusung tema “NAVARUPA” dan memasuki penyelenggaraan tahun ke-12. Berlangsung selama tiga hari, acara ini menghadirkan 77 desainer dari berbagai daerah di Indonesia dalam tujuh sesi peragaan busana.
Tema NAVARUPA merepresentasikan keberagaman bentuk dan ekspresi dalam dunia mode. Sembilan nilai menjadi landasan penyelenggaraannya, yakni warisan budaya, inovasi, identitas, keberlanjutan, kolaborasi, keberagaman, kreativitas, regenerasi, dan masa depan.
Nyudi Dwijo dari ASMAT PRO Group selaku penyelenggara mengatakan, NAVARUPA menjadi upaya untuk memandang fesyen bukan sekadar pertunjukan busana, melainkan bagian dari ekosistem kreatif yang terus berkembang.
“Navarupa kami hadirkan sebagai representasi bahwa fashion selalu bergerak dan berkembang. Tradisi tetap penting, tetapi kreativitas dan inovasi juga harus berjalan agar fashion Indonesia mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” ujar Nyudi.
Selain parade desainer, JFR 2026 menghadirkan lebih dari 50 model profesional, 250 model anak-anak dan remaja, lebih dari 10 model plus-size, serta 20 model dewasa atau mature model.
Penyelenggaraan tahun ini juga dilengkapi JFR EXPO yang menghadirkan tujuh merek, serta Sleman Halal Fashion & Craft 2026 yang diikuti 22 industri kecil dan menengah (IKM) Sleman bersertifikat halal.
Melalui berbagai program tersebut, JFR menjadi ruang pertemuan bagi desainer, model, pelaku usaha, komunitas, dan konsumen. Gelaran ini sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan pasar dan memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas.
Di tengah keberagaman koleksi yang ditampilkan, pendekatan Danny Dwa memperlihatkan salah satu kemungkinan perkembangan mode Indonesia: menghadirkan kebaya dengan siluet kontemporer dan sentuhan internasional, sembari mempertahankan karakter budaya melalui pemilihan motif batik daerah. [aje]
Link informasi : Sumber