In This Economy, Pakar UMM Beri Tips untuk Lindungi Portofolio Saham

0

​Malang (beritajatim.com) – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan hingga terperosok menyentuh level rendah. ​Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhammad Jihadi, M.Si., mengungkapkan bahwa kekhawatiran pelaku pasar muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menemukan kejanggalan dalam implementasi struktur kepemilikan saham publik di Indonesia.

​”Penyebab utamanya adalah ketidakpercayaan pengindeks internasional. MSCI menemukan bahwa batas free float lima persen di pasar kita nyatanya hanya dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang terafiliasi dengan emiten besar,” ujar Jihadi, Selasa (20/10/2026).

MSCI mengancam akan mencabut indeks Indonesia dan menurunkannya ke kelas Frontier atau Standalone, setara dengan Zimbabwe dan Palestina. ​Ancaman degradasi klasifikasi bursa tersebut sontak memicu pelarian modal asing besar-besaran dari pasar domestik, dengan estimasi nilai mencapai Rp132 triliun.

Aksi jual bersih pemodal global kian menghebat setelah investor ritel lokal turut terseret gelombang kepanikan. Imbasnya, saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti BBCA, TLKM, dan BBRI langsung menyentuh batas penolakan otomatis bawah (Auto Reject Bawah/ARB).

​Jihadi memprediksi tren pelemahan IHSG masih belum menyentuh dasar koreksi. Ia mencatat sebagian besar pelaku pasar kini memilih mengamankan likuiditas atau bermain jangka pendek.

​”Saat ini mayoritas investor dominan bersikap wait and see atau hit and run. Ada prediksi indeks bisa terus merosot hingga di bawah level 4.000. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebenarnya telah membuat simulasi stress test di angka 4.200 pada beberapa bulan lalu,” ujarnya.

​Menghadapi kondisi portofolio yang tertekan tajam, Jihadi mengimbau pemodal ritel untuk tetap berkepala dingin dan tidak bertindak reaktif. Bagi investor bermodal terbatas, mempertahankan posisi kepemilikan dinilai sebagai langkah yang jauh lebih terukur ketimbang tergesa-gesa membeli saat harga terus turun (averaging down).

Apabila opsi pemangkasan rugi (cut loss) terpaksa ditempuh, dana hasil likuidasi sebaiknya segera direalokasikan ke instrumen pasar uang maupun surat berharga negara seperti ORI dan SBR. Menurut pengamatannya, emiten perbankan nasional sebenarnya tetap membukukan kinerja operasional yang solid, sehingga pelemahan harga saat ini lebih mencerminkan sentimen histeria pasar.

“Namun, saya menilai guncangan di lantai bursa berpotensi merembet ke ranah ekonomi riil. Gelombang keluarnya dana investasi berisiko menekan kurs rupiah, memicu distorsi distribusi energi, mendongkrak biaya logistik, hingga berujung pada inflasi harga bahan pangan pokok,” katanya.

Jihadi mendesak pemerintah bersama pemangku kepentingan pasar modal segera mereformasi tata kelola bursa. Menurutnya, pemerintah harus serius melakukan negosiasi dengan MSCI yang pengumuman resminya masih wait and see hingga Juni 2027.

“Selain itu, aturan ketat terkait kepemilikan free float harus ditegakkan agar tidak ada lagi praktik manipulasi pasar dan insider trading yang dibiarkan,” katanya menutup. [dan/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.