30 Finalis Musabaqah Kaligrafi Pegon Lamongan Berkompetisi, Enam Pelajar Raih Penghargaan

0

Ringkasan Berita:

  • Sebanyak 30 finalis mengikuti babak final Musabaqah Kaligrafi Pegon yang digelar Lesbumi PCNU Lamongan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan.
  • Peserta dari kategori Ula, Wustha, dan Ulya mengerjakan kaligrafi Pegon di atas kertas A3 selama 150 menit.
  • Enam pelajar meraih penghargaan Karya Terbaik I dan II pada masing-masing kategori.
  • Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan aksara Pegon sekaligus memperkuat budaya literasi di Kabupaten Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Upaya melestarikan aksara Pegon di kalangan generasi muda dilakukan melalui Musabaqah Kaligrafi Pegon yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan. Sebanyak 30 finalis mengikuti babak final untuk menunjukkan kemampuan menulis kaligrafi Pegon di Graha Narita, Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Lamongan.

Para finalis berasal dari kategori Ula, Wustha, dan Ulya. Dalam babak final tersebut, peserta ditantang menulis kaligrafi Pegon secara langsung di atas kertas berukuran A3 selama 150 menit. Penilaian meliputi ketepatan penulisan Pegon, estetika, bentuk khat, dan kerapian karya.

Ketua PCNU Lamongan Syahrul Munir, melalui perwakilannya Agus Susanto, mengatakan pelestarian aksara Pegon perlu dilakukan dengan menghadirkannya kembali di ruang publik. Menurutnya, tradisi tulis tersebut merupakan bagian dari identitas Lamongan sebagai daerah yang memiliki tradisi pesantren kuat.

“Lamongan adalah kota santri yang dibangun oleh para santri dan ulama. Pegon perlu dihidupkan di ruang publik sebagai salah satu ciri khas Lamongan,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, Umuronah, mengatakan Musabaqah Kaligrafi Pegon juga menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan mendorong kebiasaan membaca dan menulis sekaligus mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat.

“Pelestarian Pegon menjadi bagian dari penguatan literasi Lamongan. Harapannya, kegiatan ini mendorong kebiasaan membaca dan menulis serta mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat,” kata Umuronah.

Berdasarkan hasil penilaian dan musyawarah dewan juri yang terdiri atas Umuronah, Abdur Ro’uf Hasbullah, dan Moh. Sholahuddin, enam peserta ditetapkan sebagai penerima penghargaan dalam tiga kategori.

Pada kategori Ula, Kayyisa Ghania Afrin dan Rafael Alvino Bastian, yang sama-sama berasal dari SD Negeri 1 Semampirejo, Sambeng, masing-masing meraih penghargaan Karya Terbaik I dan Karya Terbaik II.

Untuk kategori Wustha, Ahmad Rhafi Al Buqori dari SMP Unggulan Karangsawo meraih Karya Terbaik I. Sementara itu, Karya Terbaik II diraih Mia Lutfi Nur Ramadhani dari MTs EMAS Islamic Boarding School.

Adapun pada kategori Ulya, Karya Terbaik I diraih Muassisatun Najwa dari Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Sunan Drajat. Penghargaan Karya Terbaik II diberikan kepada Mallahul Jayyidi AlItsnan dari MA Matholi’ul Anwar.

Para pemenang memperoleh dana apresiasi, trofi, dan sertifikat. Penyelenggara juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta, guru pendamping, orang tua, serta lembaga pendidikan yang mendukung pelaksanaan musabaqah.

Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap pembinaan kaligrafi Pegon dapat berlanjut sehingga keterampilan para pelajar dan santri semakin berkembang. Upaya ini juga diharapkan menjaga tradisi tulis Pegon agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. [fak/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.