Duta Damai BNPT Jatim Ajak Pelajar Lamongan Tolak Intoleransi dan Bullying di Lingkungan Pendidikan

0

Lamongan (beritajatim.com) – Duta Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Jawa Timur, mengajak pelajar di Kabupaten Lamongan untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, toleran, dan bebas kekerasan.

Ajakan mewujudkan sekolah damai tersebut dilakukan melalui program Duta Damai Goes to School bertajuk “Pelajar Cerdas Cinta Damai: Tolak Intoleransi, Bullying, dan Kekerasan di Lingkungan Pendidikan” di MAN 2 Lamongan, Jumat (30/10/2026).

Kegiatan yang digelar bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Lamongan tersebut diikuti sekitar 150 peserta, terdiri dari pelajar dan guru.

Ketua Duta Damai BNPT Jawa Timur, Ahmad Reza Rafsanjani, mengatakan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi muda.

“Pelajar perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, agar tidak mudah terpengaruh informasi maupun narasi negatif yang berpotensi memicu perpecahan,” kata Reza.

Menurutnya, program Sekolah Damai menjadi salah satu upaya untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya menghargai perbedaan, menjaga toleransi, serta menolak segala bentuk perundungan dan kekerasan.

“Lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi setiap peserta didik. Tidak boleh ada tempat bagi intoleransi, bullying, maupun kekerasan,” ujarnya.

Reza menambahkan, pencegahan penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme yang menyasar anak-anak serta generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Termasuk lembaga oendidikan dan orang tua.

Foto BeritaJatim.com

“Pemerintah, lembaga pendidikan, guru, keluarga, dan masyarakat perlu membangun koordinasi agar upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Lamongan, Johny Indrianto, menekankan bahwa wawasan kebangsaan menjadi fondasi sekaligus bekal bagi generasi muda, untuk menghadapi tantangan modernisasi.

“Bijak dalam bermedia sosial menjadi hal yang sangat penting. Ruang digital tidak hanya memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, tapi juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya perundungan dan ujaran kebencian,” kata Johny.

Karena itu, pelajar diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Sikap saling memahami serta kepedulian terhadap sesama dinilai penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.

Sementara itu, Kepala MAN 2 Lamongan, Purnomo, berharap materi yang diberikan dapat menambah pengetahuan siswa sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan sekolah terhadap penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

“Melalui program ini, kami berharap anak-anak kami tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, semangat kebangsaan, dan sikap menghargai keberagaman,” ucapnya. [fak/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.