Warga Blitar Meradang! Gus Iqdam Disebut Influencer Luar Negeri dengan Gus Ompreng

0

Blitar (beritajatim.com) – Keresahan mendalam tengah melanda sebagian masyarakat Kabupaten Blitar menyusul maraknya konten media sosial yang dinilai mencederai kehormatan Kiai Nahdlatul Ulama (NU), Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam.

Kemarahan warga memuncak setelah seorang influencer yang berada di luar negeri secara terbuka menyindir penceramah kondang tersebut dengan julukan “Gus Ompreng”. Meskipun sang kreator konten tidak secara eksplisit menyebut nama lengkap, sebutan tersebut jelas diarahkan dan dianggap menghina salah satu kiai tersohor di Indonesia.

Perwakilan masyarakat Blitar, Jaka Prasetya, menegaskan bahwa tindakan tersebut telah melukai hati umat Islam dan para santri. Menurutnya, serangan terhadap pendakwah sama artinya dengan menghalangi upaya penyebaran syiar agama Islam yang selama ini diperjuangkan.

“Kalau sampai dihalang-halangi dan dirintangi, kami khawatir ada kemarahan dari sebagian umat Islam. Kalau zaman dulu Kanjeng Nabi dihalang-halangi yang maju sahabatnya seperti Sayyidina Ali, kalau sekarang Gus Iqdam siapa? Makanya kami berani melangkah untuk melakukan perlawanan terhadap apa yang terjadi di media sosial,” ujar Jaka, Sabtu (31/10/2026).

Julukan “Gus Ompreng” yang dilontarkan oleh kreator konten tersebut dinilai sebagai tindakan dehumanization, yakni merendahkan derajat manusia dengan menyamakannya dengan benda atau perkakas dapur. Dalam konteks hukum, tindakan ini dikategorikan sebagai hate speech atau penyerangan terhadap harkat dan martabat seseorang.

“Ada yang namanya dehumanisasi, merendahkan derajat seorang manusia dengan nama barang atau binatang. Kalau ompreng itu identik dengan alat di dapur, lalu seorang pendakwah disamakan dengan itu, namanya hate speech atau mendegradasi derajat kemanusiaan,” jelas Jaka.

Jaka juga mengenang kedekatannya dengan Gus Iqdam sejak awal tahun 2017, jauh sebelum Majelis Sabilu Taubah berdiri. Menurutnya, peran Gus Iqdam sangat besar dalam mengubah perilaku masyarakat Blitar, termasuk merangkul kelompok pemuda setempat yang dulunya lekat dengan kenakalan remaja hingga kini berubah menjadi pribadi yang religius dan bermoral baik.

“Bagaimana rekan-rekan Bledug Kelud ini dulu banyak yang nakal-nakal, tapi sejak kenal Gus Iqdam mereka berubah jauh lebih baik dan lebih mengenal agama. Beliau ini kiai yang diikuti oleh umat, tapi diperlakukan seperti itu, kalau bukan kami yang pasang badan, siapa lagi?,” tegasnya.

Dari sudut pandang hukum, Jaka menilai bahwa konten kreator tersebut berpotensi menghadapi konsekuensi hukum karena hukum positif Indonesia memiliki yurisdiksi terhadap tindak pidana tertentu meskipun dilakukan di luar wilayah teritorial Indonesia.

Kendati demikian, pihak masyarakat Blitar tetap mengkaji langkah-langkah proporsional demi menjaga kedamaian, ketertiban umum, serta marwah para ulama dari upaya pendiskreditan yang tidak beretika. [owi/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.