Eri Cahyadi Lolos Ujian Kelayakan Disertasi di Unair Surabaya, Bahas Apa?

0

 

Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang sedang menjalani cuti, sukses menyelesaikan ujian kelayakan disertasinya pada Program S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Airlangga (Unair).

Lewat disertasi bertajuk “Orkestrasi Kesehatan Organisasi Publik untuk Pengembangan Kapabilitas Perubahan dan Peningkatan Kinerja,” Eri mengungkapkan temuan strategis yang berdampak langsung pada kinerja Pemerintah Kota Surabaya dan kesejahteraan masyarakat.

Di hadapan para penguji, termasuk Prof. Badri Munir Sukoco dan Prof. Dr. Rudi Purwono, Eri menguraikan bagaimana konsep kesehatan organisasi yang diterapkannya memengaruhi kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

“Dari penelitian ini, saya mendapati sejumlah temuan yang berdampak langsung pada kinerja Pemkot Surabaya, yang ujungnya adalah memberikan dampak positif ke masyarakat,” ujar Eri kepada wartawan usai ujian tertutup di Unair.

Eri mengungkapkan bahwa kesehatan organisasi yang ia teliti melibatkan kemampuan dalam konsolidasi internal, pelaksanaan kebijakan, dan adaptasi yang cepat. Semua aspek tersebut dinilai berperan dalam pencapaian kinerja organisasi yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan publik.

“Maka sangat penting bagi sebuah organisasi untuk tidak hanya fokus pada target kinerja saja, tapi juga harus memperhatikan kondisi kesehatan organisasinya,” jelas mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya ini.

Berbagai penghargaan yang diterima Pemkot Surabaya disebut Eri sebagai bukti dari efektivitas temuan disertasinya. Surabaya menjadi kota pertama yang memperoleh predikat Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) AA dari Kementerian PANRB dan menerima penghargaan sebagai Kota Sehat dari WHO.

“Dari proses penelitian, saya lakukan perubahan-perubahan sesuai dengan temuan penelitian, dan hari ini dampaknya luar biasa pada kinerja Pemkot Surabaya, yang sekali lagi ujungnya adalah dampak yang dirasakan publik,” tuturnya.

Dalam disertasinya, Eri juga menekankan pentingnya pelatihan kepemimpinan bagi para middle manager, termasuk camat, lurah, dan kepala OPD. Evaluasi yang ia lakukan menunjukkan penurunan angka stunting di Surabaya hingga 1,6 persen, terendah di Indonesia, serta penurunan kemiskinan hingga mencapai 3,4 persen.

“Setelah pelatihan leadership, hasilnya luar biasa. Stunting di Surabaya turun drastis dari 28,5 persen menjadi 1,6 persen, yang terendah di Indonesia. Kemiskinan juga turun signifikan dari 6 persen menjadi 3,4 persen,” tambahnya.

Kepada jajaran Pemkot, Eri menekankan bahwa kesehatan organisasi tidak hanya melibatkan performa, tetapi juga keadilan dan kepemimpinan yang efektif. Semua dinas dianggap setara tanpa perbedaan derajat, sehingga setiap level kepemimpinan dapat bekerja harmonis.

“Keadilan dalam organisasi berarti tidak ada dinas yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, semuanya setara. Kemudian leadership di sini adalah kemampuan memimpin mulai dari lurah, camat, dan kepala OPD,” paparnya.

Direktur Sekolah Pascasarjana Unair, Prof. Badri Munir Sukoco, turut menyampaikan apresiasi atas hasil penelitian Eri. Menurutnya, Eri memiliki pendekatan unik dengan menjadikan middle manager sebagai subjek penelitian, yang jarang dilakukan oleh mahasiswa lainnya.

“Beliau (Eri Cahyadi) memang fokusnya ke kesehatan organisasi. Karena yakin, bahwa organisasi yang sehat, pasti akan memberikan kinerja yang jauh lebih bagus dibandingkan organisasi yang tidak sehat,” ungkap Prof. Badri.

Bagi Prof. Badri, penelitian Eri tidak hanya memberikan dampak bagi Pemkot Surabaya, tetapi juga berpotensi diterapkan di berbagai daerah lain.

“Penelitian ini bisa dipresentasikan di Kementerian PANRB maupun Kemendagri, karena metodenya terbukti efektif dan mungkin satu-satunya di Indonesia,” tutupnya.[asg/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.