‘Batu-Batu Bersuara’ di UNIM Mojokerto, Ludruk Besutan Kuatkan Identitas Budaya

0

Mojokerto (beritajatim.com) – Suara tradisi, desa, dan kearifan lokal menggema di Gedung Nuswantara Kampus Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto. Melalui pentas Ludruk Garingan atau Besutan bertajuk ‘Batu-batu Bersuara’, kelompok Meimura mengajak generasi muda untuk kembali mendengar suara akar budaya yang mulai tenggelam di tengah arus modernitas.

Pementasan yang merupakan bagian dari program ‘Jajah Deso Milangkori’ itu tak sekadar menghadirkan hiburan rakyat, tetapi juga menyentil persoalan lingkungan yang kini menjadi isu lokal di Mojokerto, khususnya terkait eksploitasi pasir dan batu di sungai. Dalam pementasan tersebut, dua pemain lokal turut ambil bagian.

Yakni Taufiq Hidayat, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UNIM, yang memerankan tokoh Man Jamino, serta Kukun Triyoga dari Komunitas Persada sebagai Sumo Gambar. Cerita berkembang ketika tokoh Man Jamino yang berprofesi sebagai penambang pasir dan batu diperingatkan agar tidak mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan.

Foto BeritaJatim.com
Pentas Ludruk Garingan atau Besutan bertajuk ‘Batu-batu Bersuara’ di Gedung Nuswantara Kampus UNIM Mojokerto. [Foto : ist]

Penggalian batu sungai tanpa memperhatikan keselamatan disebut dapat memicu bencana. Namun peringatan itu justru memicu perdebatan sengit hingga akhirnya tokoh Besut turun tangan menengahi.
Tak berhenti di atas panggung, pertunjukan khas ludruk interaktif itu juga melibatkan penonton.

Dekan FKIP UNIM, Wawan Hermawan, bahkan mendapat ‘sampur’ dan ikut naik ke panggung untuk menyampaikan pesan pentingnya menjaga lingkungan serta menjauhi tindakan yang melanggar hukum. Sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan, seluruh penonton yang duduk lesehan di atas karpet diajak berdiri bersama menyanyikan lagu ‘Bagimu Negeri’.

Penutupan itu menjadi akhir yang tak biasa bagi sebuah pertunjukan seni tradisi. Sebelum ludruk dimulai, acara dibuka dengan monolog ‘Balada Sumar’ karya Temtrem Lestari yang dibawakan Nazmatus Zahira, mahasiswi semester 4 Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga sekaligus anggota UKM Teater Damar UNIM.

Program ‘Jajah Deso Milangkori’ sendiri merupakan bagian dari Dana Indonesiana kategori Pemberdayaan Ruang Publik yang diterima Meijono atau yang dikenal dengan nama panggung Meimura. Dalam pentas kelima dari total 10 kota itu, Meimura menegaskan bahwa ludruk harus terus diselamatkan dan dikembangkan meski dalam keterbatasan.

Kreativitas juga ditampilkan dalam pertunjukan tersebut. Jika biasanya tembang ludruk dibawakan tanpa iringan, kali ini Meimura menghadirkan sentuhan baru lewat gesekan biola Herry Biola yang memberi nuansa berbeda dalam pertunjukan tradisi itu.

Foto BeritaJatim.com
Pentas Ludruk Garingan atau Besutan bertajuk ‘Batu-batu Bersuara’ di Gedung Nuswantara Kampus UNIM Mojokerto. [Foto : ist]

Usai pementasan, diskusi budaya digelar menghadirkan sejumlah narasumber.

Diskusi yang dipandu dosen sastra UNIM, Henri Nurcahyo, juga menyoroti bagaimana budaya kerap dipakai secara simbolik tanpa dipahami maknanya secara mendalam. Mayoritas penonton dalam pentas kali ini merupakan mahasiswa. Kehadiran generasi muda dinilai memberi warna tersendiri dibanding pementasan sebelumnya.

Pementasan sebelumnya digelar di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk yang dihadiri komunitas berbeda-beda.

Dekan FKIP UNIM, Dr. Wawan Hermawan MPd, dalam sambutannya mengatakan bahwa, tema ‘Batu-batu Bersuara’ mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga identitas budaya dan kearifan lokal. “Jajah Deso Milangkori mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar, sebab dari sanalah identitas tumbuh,” ungkapnya.

Seperti pohon yang tak mungkin tegak tanpa akar yang menancap dalam tanah. Wawan menambahkan, jika ludruk bisa pentas tanpa grup besar, tanpa gedung megah, tanpa gamelan, bahkan bisa dilakukan di mana saja bersama masyarakat. Wawan menegaskan kegiatan tersebut bukan hanya forum akademik.

“Melainkan ruang penyadaran budaya bagi generasi muda. Spanduk boleh dilipat, tetapi kesadaran budaya jangan ikut terlipat. Seperti pesan yang sering disampaikan Presiden Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri,” katanya.

Ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur, Ki Bagong Sinukarto, menegaskan bahwa ludruk bukan sekadar hiburan, tetapi juga media perjuangan budaya. Menurutnya, tokoh-tokoh seperti Sarip dan Sakerah yang sering muncul dalam ludruk merupakan tokoh nyata yang dahulu melawan penjajahan.

“Pada masanya, ludruk menjadi sarana perlawanan melalui budaya,” ujarnya.

Sementara itu, budayawan Akhmad Fatoni SS MHum menilai Besutan ala Cak Mei menghadirkan ruang tafsir baru tentang identitas budaya Majapahit yang kini banyak digunakan sebagai nama komunitas, usaha, hingga simbol gaya hidup anak muda. [tin/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.