Dialog Lintas Zaman di Candi Tegowangi: Kukuhkan Kediri Berbudaya Lewat Gema Sudamala

0

Kediri (beritajatim.com) – Pelataran Candi Tegowangi kembali menjadi saksi bisu pertemuan antara keagungan masa lalu dan kreativitas masa kini dalam gelaran tahunan “Inspiration Art of Tegowangi”.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, acara yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1.222 ini sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata.

Ribuan masyarakat berjubel menyaksikan harmoni pertunjukan yang dibawakan oleh Flying Star Dance, aksi jenaka pelawak Joni Sukro, syahdunya Sekartaji Kontemporer, hingga alunan Kidungan yang menghidupkan suasana malam di situs sejarah peninggalan era Majapahit tersebut.

Asisten II Setda Kabupaten Kediri, Sonny Subroto Maheri Laksono, yang hadir mewakili Bupati Hanindhito Himawan Pramana, menekankan bahwa pagelaran ini merupakan bukti nyata bahwa Kediri tidak pernah lepas dari akar peradabannya. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa identitas budaya adalah fondasi yang sudah lama ada jauh sebelum pembangunan fisik menyentuh wilayah ini.

“Kediri bukan yang baru belajar tentang budaya jauh sebelum kita mengenal kata pembangunan, leluhur kita sudah meninggalkan jejak peradapan melalui candi, cerita, tari, filosofi dan hidup yang hingga kini masih kita rawat bersama, termasuk dalam hal ini karya-karya sastra kita,” ujar Sonny dengan penuh penekanan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kediri, tagline “Kediri Berbudaya” bukanlah sekadar pemanis kata, melainkan sebuah gaya hidup yang harus mendarah daging, terutama bagi Generasi Z dan Generasi Alpha. Sonny mengkhawatirkan jika frekuensi acara seni seperti ini berkurang, maka generasi mendatang akan kehilangan jati dirinya sebagai orang Kediri.

“Harapannya anak-anak muda, gen Z, apalagi gen Alpha yang mungkin saat ini masih duduk di sekolah, bisa diajak untuk melihat gelar seni, melihat kekayaan-kekayaan budaya. Mungkin saat ini kita masih suka dan mampu untuk merawat kesenian dan kebudayaan. Tetapi hal ini tidak dibiasakan, tidak dibudayakan, bisa jadi anak-anak kita sudah tidak tahu lagi siapa sebenarnya leluhurnya,” katanya mengingatkan pentingnya pewarisan nilai.

Menariknya, Sonny juga mengaitkan lonjakan pembangunan infrastruktur, seperti beroperasinya Bandara Dhoho Kediri, sebagai peluang besar untuk memperkenalkan budaya Kediri ke kancah yang lebih luas. Baginya, konektivitas udara harus menjadi gerbang agar dunia luar bisa merasakan denyut nadi kesenian di Kediri secara langsung.

“Ini bukan hanya soal penerbangan, tetapi tentang pembukaan pintu agar Kediri semakin dikenal. Pintu agar sejarah dan kebudayaan kita semakin mudah diakses. Pintu agar orang datang ke Kediri bukan hanya untuk singgah, tetapi untuk mengalami, merasakan denyut seni, tradisi, dan keramahtamahan masyarakatnya,” terangnya.

Dari sisi teknis, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Mustika Prayitno Adi, menjelaskan bahwa pemilihan lakon Sudamala yang dikemas dalam fragmen drama kolosal menjadi daya tarik utama tahun ini. Penggunaan Candi Tegowangi sebagai latar panggung bukan tanpa alasan; situs ini memberikan jiwa pada setiap gerakan yang ditampilkan oleh para seniman.

“Jadi kita perkenalkan dan pertunjukan di sini kalau dengan latar belakang candi ini sangat luar biasa karena candi sudah bagus. Ada pementasan di sini, saya kira dari semua pertunjukannya akan semakin sakral. Semakin sakral, karena memang di sini eksotis, sangat-sangat estetik juga, sehingga setiap pertunjukannya bisa lebih hidup,” jelas Mustika.

Kepuasan pun terpancar dari wajah para pengunjung, salah satunya Fenty asal Pare, yang mengaku tidak pernah melewatkan ajang ini setiap tahunnya. Baginya, eksplorasi cerita dalam bentuk drama kolosal memberikan kesegaran baru bagi penikmat seni.

“Art of Tegowangi itu setiap tahun bagus sih. Ada saja, beda sama yang tahun kemarin, beda-beda. Bagus sih ini. Cuma enggak menampilkan tarian begitu banyak, tapi drama kolosalnya bagus juga,” ungkap Fenty.

Ke depan, Art of Tegowangi dipastikan akan tetap menjadi agenda rutin dengan rencana pengembangan tema dan lokasi di situs-situs budaya lain yang tak kalah eksotis di Kabupaten Kediri.

“Jadi memang ini agenda tahunan. Nanti kalau ada event-event lain, kita bukan di Art of Tegowangi, kita ambil tema yang lain, mungkin tidak di sini, karena kita punya tempat-tempat yang lain lebih bagus,” pungkas Mustika optimis.

Candi Tegowangi memang punya aura magis tersendiri ya saat dijadikan latar panggung drama kolosal Sudamala, apalagi dengan penataan lampu yang estetik. [nm/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.