Napas Panas di Langit Tan’im, 43 Derajat Celsius Luluh oleh Gema Talbiyah Jemaah Indonesia
Makkah (beritajatim.com) – Matahari di Tan’im sore itu, Rabu, 13 Mei 2026, tidak sekadar bersinar. Ia memeluk pelataran parkir Masjid Sayyidah Aisyah dengan napas yang membara. Begitu pintu mobil terbuka, suhu panas 43 derajat Celsius langsung menyambar wajah, membawa hawa kering gurun yang seolah menusuk hingga ke pori-pori kulit.
Aspal dan dinding-dinding bangunan berwarna pucat di utara Kota Makkah itu memantulkan panas yang membuat udara tampak bergetar. Kelembaban yang hanya menyentuh angka 16 persen membuat setiap tarikan napas terasa berat, meninggalkan rasa perih di tenggorokan bagi siapa pun yang baru saja turun dari kendaraan.
Di tengah suhu ekstrem ini, kerinduan jemaah kepada Baitullah justru semakin membuncah. Mobil-mobil pribadi dan taksi berderet rapat, menurunkan orang-orang yang bersiap menjemput niat. Kain ihram putih yang mereka kenakan menjadi kontras yang indah di tengah gersangnya perbukitan tandus yang memagari wilayah Tan’im.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa jemaah Indonesia tetap menjadi warna yang paling dominan di antara ribuan manusia dari berbagai bangsa. Mereka mudah dikenali dari syal warna-warni bertuliskan embarkasi asal bagi perempuan, serta kain ihram bertuliskan “Indonesia” bagi para lelaki.
Langkah-langkah kecil jemaah bergerak menuju beranda masjid. Ada yang tergesa membasuh wajah dengan air wudhu untuk mengusir rasa menyengat, ada pula yang duduk termenung sambil mengipas wajah dengan ujung kain ihram. Angin yang berembus tidak membawa kesejukan, melainkan hawa kering yang memedihkan mata.
Namun, segalanya berubah saat kaki melangkah masuk ke dalam ruang utama masjid. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan menyapa lembut wajah-wajah yang sejak tadi terbakar matahari. Di sana, suasana berubah khidmat. Suara penceramah Arab menggema melalui mikrofon, berbicara tentang tauhid dan keikhlasan yang menjadi nyawa dari setiap gerakan ibadah haji.
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik…”
Kalimat talbiyah itu dilafalkan perlahan, diikuti dengan anggukan jemaah yang menyimak penuh takzim. Di tempat ini, tak ada lagi sekat kebangsaan. Semua bersatu dalam pengakuan total sebagai hamba di hadapan Sang Khalik.
Di tengah kesakralan itu, terselip pemandangan yang menyentuh hati. Tiga jemaah lansia asal Indonesia berdiri berjajar, hendak menunaikan salat sunnah miqat. Salah seorang dari mereka berkali-kali membatalkan takbiratul ihram karena merasa ragu akan lafal niatnya. Ia berbisik kepada rekannya, meminta validasi dan tuntunan pelan.
Kejadian itu berulang beberapa kali. Teman di sebelahnya membimbing dengan sabar, membisikkan kata demi kata niat hingga akhirnya mereka bertakbir bersamaan. Salat dimulai dengan gerakan yang perlahan, hati-hati, dan tampak begitu khusyuk. Sebuah potret perjuangan fisik dan batin dari mereka yang tak lagi muda.
Di sudut lain, sekelompok jemaah duduk melingkar usai salat. Suara talbiyah lirih keluar dari bibir mereka yang bergetar. Suara-suara itu seolah tenggelam dalam riuh manusia yang terus bergerak, namun terasa begitu kuat sebagai bentuk kepasrahan diri.
Masjid Sayyidah Aisyah di Tan’im memang menjadi magnet bagi jemaah Indonesia. Jaraknya yang hanya tujuh kilometer dari Makkah menjadikannya lokasi miqat paling strategis dan ekonomis. Namun, di balik kemudahan itu, terselip pesan waspada dari para petugas haji.
Erti Herlina, salah satu petugas di lapangan, mengingatkan bahwa aktivitas umrah sunnah yang terlalu sering bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jemaah. Mengingat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tinggal menghitung pekan, stamina menjadi aset yang paling berharga.
“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji,” pesan Erti lembut namun tegas. Ia menyarankan waktu selepas ashar sebagai saat terbaik untuk mengambil miqat karena suhu udara yang lebih ramah dibanding waktu zuhur, namun belum sepadat saat selepas maghrib atau isya yang berisiko membuat jemaah lansia terpisah dari rombongan.
Sore itu di Tan’im, panas memang tetap menyengat. Namun, bagi mereka yang datang dengan pakaian putih yang suci, terik matahari hanyalah sekadar penghias dari sebuah perjalanan panjang menuju rida-Nya. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber