Siaga 24 Jam, Petugas Halte Pastikan Jemaah Jawa Timur Tak Salah Rute Bus Shalawat
RINGKASAN BERITA:
- Petugas transportasi bersiaga 24 jam dalam dua sif di 23 rute bus shalawat di Makkah.
- Kehadiran petugas halte membantu jemaah lansia men-stop bus dan memastikan titik turun yang tepat.
- Halte 3 Sektor 4 Syishah menjadi titik krusial bagi jemaah asal Jawa Timur agar tidak tersasar rute.
- Optimalisasi layanan dilakukan guna melindungi jemaah dari kelelahan akibat suhu ekstrem 43 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersiaga penuh selama 24 jam di 23 rute bus shalawat guna memastikan kelancaran mobilitas jemaah Indonesia di Kota Makkah.
Keberadaan petugas halte menjadi sangat krusial untuk membantu jemaah, khususnya lansia, agar tidak salah memilih rute bus maupun terlewat titik turun di tengah suhu ekstrem yang saat ini menembus 43 derajat Celsius.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, layanan bus shalawat yang menghubungkan hotel dengan Masjidil Haram ini beroperasi nonstop dengan pembagian rute di 10 sektor. Petugas transportasi dikerahkan untuk menjaga halte-halte strategis di lima wilayah utama: Syishah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah.
Ahmad Hajri, seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir yang bertugas di Halte nomor 3 Sektor 4 wilayah Syishah-Raudhah, menjelaskan bahwa para petugas bekerja dalam sif selama 12 jam per hari. “Kami disebar ke halte-halte. Terus sekarang kita kerja itu 12 jam per hari. Kalau saya dapat jadwal dari 8 pagi ke 8 malam,” ungkap Hajri saat ditemui tim MCH.
Peran petugas halte menjadi signifikan karena banyak jemaah yang masih mengalami kendala komunikasi atau kebingungan mengenali titik pemberhentian bus. Meski bus telah ditempeli nomor rute—seperti bus nomor 5 yang melayani 10 hotel di Sektor 1—kendala teknis di lapangan tetap sering terjadi.
“Jadi banyak jemaah yang tidak bisa komunikasi, bahkan sebatas untuk men-stop busnya juga enggak bisa,” kata Hajri. Tanpa kehadiran petugas yang sigap men-stop armada, jemaah berisiko menunggu terlalu lama di bawah terik matahari yang menyengat atau bahkan terlewat dari halte tujuannya.
Halte 3 Sektor 4 yang dijaga Hajri merupakan titik krusial bagi jemaah asal Jawa Timur. Ia harus memastikan jemaah dari wilayah Jatim tidak terbawa bus hingga ke halte berikutnya yang menjadi area pemondokan bagi jemaah asal daerah lain.
“Karena saya jaga 4 hotel di sini, rata-rata Jawa Timur. Kalau telat untuk turun, mereka keburu dibawa ke rombongan halte empat, itu saudara-saudara kita dari Lombok. Jadi itu salah satu kenapa harus ada penjaga di sini,” jelas pemuda asal Jambi tersebut.
Jarak antar halte yang cukup jauh di Makkah membuat kesalahan titik turun menjadi persoalan serius bagi kondisi fisik jemaah. Mengingat suhu udara yang menyentuh angka 43 derajat Celsius, berjalan kaki kembali ke halte sebelumnya dapat memicu kelelahan kronis atau dehidrasi berat bagi jemaah risiko tinggi.
Kemenhaj RI melalui petugas transportasi terus mengoptimalkan penggunaan perangkat digital “Bravo” dan pantauan GPS real-time untuk memantau frekuensi bus. Dengan total jemaah yang telah tiba mencapai 152.724 orang, kehadiran fisik petugas di halte seperti Ahmad Hajri menjadi pelengkap vital bagi sistem teknologi yang ada.
Petugas tidak hanya membantu menaikkan jemaah ke dalam bus, tetapi juga memastikan setiap jemaah mendapatkan informasi yang tepat mengenai nomor stiker rute bus mereka. Langkah preventif ini diharapkan dapat menjaga stamina jemaah agar tetap prima hingga fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) pada akhir Mei mendatang. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber