Hari Arafah dan Lahirnya Madrasah Peradaban; MTs Kiai Mudrikah Menyemai Pendidikan Humanis-Spiritual
Pamekasan (beritajatim.com) – Dalam perjalanan sejarah pendidikan, terdapat momentum-momentum tertentu yang tidak sekadar tercatat sebagai peristiwa administratif, tetapi juga hadir sebagai simbol spiritual dan kebudayaan yang memiliki makna mendalam bagi masa depan masyarakat. Salah satunya tampak pada terbitnya Izin Operasional Pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kiai Mudrikah Kembang Kuning yang bertepatan dengan momentum Hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Momentum tersebut menghadirkan pesan simbolik yang melampaui sekadar legalitas kelembagaan. Lahirnya madrasah ini dipandang sebagai bagian dari ikhtiar panjang membangun kesadaran manusia, menjaga nilai-nilai ketuhanan, sekaligus merawat masa depan peradaban melalui pendidikan yang humanis dan spiritual.
Izin operasional itu tertuang dalam Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur Nomor 244 Tahun 2026 yang ditetapkan di Sidoarjo pada 20 Mei 2026 oleh Dr KH Akhmad Sruji Bahtiar dengan Nomor Statistik Madrasah 121235280228.
Penyerahan izin operasional dilakukan di Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, yakni Dr KH Mohammad Holis, Abdul Qadir Maliki, dan Achmad Humaidi. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan sejatinya dibangun melalui kerja kolektif, doa panjang, dan ketekunan yang sering kali tidak terlihat di permukaan.
Spiritualitas Arafah dalam Dunia Pendidikan
Hari Arafah dalam tradisi Islam dikenal bukan hanya sebagai bagian penting dari rangkaian ibadah haji, tetapi juga sebagai momentum kontemplasi manusia terhadap dirinya sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan arah perjalanan hidupnya. Wukuf di Arafah menjadi simbol berhentinya manusia dari hiruk-pikuk dunia untuk mengenali kembali hakikat keberadaannya.
Secara filosofis, lahirnya MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning pada momentum tersebut membawa pesan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses *ta’arruf* kemanusiaan: mengenali ilmu, mengenali diri, mengenali masyarakat, dan pada akhirnya mengenali Tuhan.
Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga membimbing manusia agar tidak kehilangan arah spiritual di tengah dunia modern yang semakin dipenuhi kompetisi materialistik.
Madrasah Ramah Anak dan Anti Bullying
Dalam sambutannya, Kabag TU sekaligus Plh Kabid Pendma Kanwil Kemenag Jawa Timur, Syaikhul Hadi, berharap agar MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning menjadi pelopor Madrasah Ramah Anak dan Madrasah Anti Bullying.
Pesan tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan pendidikan modern yang tengah menghadapi krisis psikologis di kalangan peserta didik. Banyak anak mengalami tekanan sosial, kekerasan verbal, hingga perundungan yang meninggalkan luka emosional mendalam.
Karena itu, keberadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus anti perundungan dan anti kekerasan di lingkungan madrasah menjadi langkah penting dalam membangun ruang pendidikan berbasis kasih sayang. Pendidikan Islam, menurut para pengelola madrasah, harus menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, dan penguatan kesehatan mental peserta didik.
Selain itu, fasilitas ramah anak dan disabilitas yang telah disiapkan menunjukkan komitmen madrasah terhadap paradigma pendidikan inklusif, yakni pendidikan yang memberikan kesempatan tumbuh dan belajar bagi seluruh anak tanpa diskriminasi.
Prestasi Internasional dan Budaya Literasi
Di tengah orientasi humanistik tersebut, MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning juga dikenal memiliki budaya prestasi yang kuat. Para santri tercatat meraih capaian dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad di Thailand serta Southeast Asian Mathematical Olympiad di Malaysia.
Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa santri madrasah mampu hadir dalam percakapan global ilmu pengetahuan tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Capaian ini sekaligus mematahkan pandangan lama yang memisahkan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan modern.
Tidak hanya di bidang akademik, para santri juga menorehkan prestasi dalam pencak silat, bahasa asing, pengembangan produk pembelajaran, dan berbagai kompetensi lainnya.
Yang menarik, dalam kurun empat tahun terakhir, santri madrasah berhasil menghasilkan 206 buku ber-ISBN yang diterbitkan penerbit nasional. Budaya literasi tersebut dipandang sebagai tanda tumbuhnya tradisi intelektual dalam komunitas pendidikan Islam.
Di tengah budaya digital yang serba cepat dan dangkal, kemampuan menulis menjadi bentuk ketahanan intelektual sekaligus spiritual. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga sarana refleksi manusia untuk memahami dirinya dan memberi makna terhadap kehidupannya.
Profesionalisme dan Tata Kelola Modern
Sementara itu, pesan dari operator kelembagaan Kanwil Kemenag Jawa Timur, Mas Helmi, mengenai pentingnya penguatan EMIS, verifikasi data lembaga, verifikasi peserta didik, serta koordinasi dengan Pendma kabupaten menunjukkan bahwa pendidikan Islam modern juga membutuhkan tata kelola profesional berbasis data dan teknologi.
Profesionalisme administrasi dipandang sebagai bagian penting dari kredibilitas lembaga pendidikan di era digital saat ini. “Tentu kami bersyukur dan mengapresiasi seluruh pihak yang sudah mendukung terbitnya izin operasional madrasah, khususnya kepada kepala dan guru MTs Negeri 3 Pamekasan,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Prof Dr Achmad Muhlis, Selasa (26/5/2026).
“Karena bagaimanapun keberhasilan sebuah institusi pendidikan tidak lahir dari kecerdasan individu semata, tetapi dari energi kolektif yang dibangun melalui kebersamaan, doa, dan ketulusan,” sambung dosen yang tercatat sebagai Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.
Lahirnya MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning pada momentum Hari Arafah juga menghadirkan pesan simbolik yang mendalam: bahwa pendidikan sejatinya merupakan perjalanan spiritual manusia menuju kesadaran yang lebih tinggi.
“Sebagaimana jamaah haji berhenti di Arafah untuk mengenali dirinya di hadapan Tuhan, madrasah pun diharapkan menjadi ruang bagi manusia untuk mengenali ilmu, kemanusiaan, dan nilai-nilai ketuhanan dalam hidupnya,” tegasnya.
Pihaknya juga menyimpulkan jika hal tersebut sebagai oase guna mewujudkan generasi bermanfaat. “Sehingga dari ruang-ruang sederhana madrasah ini, kelak diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi dunia, tetapi juga bijaksana menjaga hati nurani kemanusiaan di tengah zaman yang semakin kehilangan arah spiritualnya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, jumlah siswa MTs Kiai Mudrikah angkatan pertama atau yang berpotensi lulus terdata sebanyak 26 orang. Sementara calon siswa baru MTs di lingkungan IBS Padepokan Kiai Mudrikah tahun ini tercatat sebanyak 120 orang.
Bahkan pada 2027, santri inden untuk calon siswa MTs Kiai Mudrikah tercatat sudah mencapai angka 120 orang dan sudah berstatus tutup. Sedangkan santri inden pada 2028 masih dalam proses pemenuhan, per hari ini tercatat sudah terdata sebanyak 47 orang. [pin/kun]
Link informasi : Sumber