Cerita Satpam SPPG di Bondowoso saat MBG Libur Panjang

0

Bondowoso (beritajatim.com) – Libur panjang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso Badean 2 tidak berarti aktivitas keamanan ikut berhenti. Di balik sunyinya area kerja, petugas keamanan tetap berjaga penuh selama 24 jam.

Salah satu satpam SPPG Bondowoso Badean 2, Aditya Aidhil Rifki, menjadi bagian dari mereka yang tetap siaga ketika sebagian aktivitas layanan di lingkungan SPPG melambat selama libur panjang.

“Walaupun kegiatan MBG libur, pengamanan tetap harus jalan. Risiko tetap ada, jadi tidak boleh lengah,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Di hari-hari libur panjang, suasana SPPG cenderung lebih sepi dari biasanya. Justru kondisi ini, menurut Aditya, menjadi alasan utama kewaspadaan harus ditingkatkan. Area yang lengang dinilai lebih rentan terhadap potensi gangguan keamanan seperti pencurian, kebakaran, hingga gangguan pada instalasi teknis.

Foto BeritaJatim.com
Aditya Aidhil Rifki saat bertugas menjaga keamanan di SPPG Bondowoso Badean 2, Rabu (24/6/2026). (Deni Ahmad Wijaya/Beritajatim.com)

Untuk itu, sistem pengamanan tetap berjalan seperti biasa dengan pembagian tiga shift selama 24 jam. Petugas melakukan patroli rutin setiap satu hingga dua jam, menyisir area gelap, serta memeriksa titik rawan seperti instalasi gas dan panel listrik.

Tak hanya itu, setiap akses masuk dan keluar tetap melalui pemeriksaan ketat, termasuk kendaraan dan orang yang beraktivitas di lingkungan SPPG.

Laporan kondisi keamanan juga tetap dilakukan secara berkala kepada Kepala SPPG setiap tiga jam melalui aplikasi pesan singkat sebagai bentuk koordinasi berkelanjutan selama masa libur panjang MBG.

Aditya menegaskan, risiko yang paling diwaspadai adalah gangguan teknis seperti kebocoran gas dan korsleting listrik, selain potensi tindak kriminal di saat lingkungan lebih lengang dari biasanya.

Dalam situasi darurat, petugas keamanan akan melakukan tindakan awal sebelum melaporkan kejadian kepada pihak terkait, termasuk kepolisian jika diperlukan.

Di balik rutinitas itu, Aditya mengaku ada konsekuensi yang harus diterima: bekerja saat orang lain menikmati libur bersama keluarga. Namun hal tersebut sudah menjadi bagian dari tanggung jawab profesi yang dijalani.

“Tentu ada rasa ingin bersama keluarga, tapi ini sudah tugas. Kalau kami tidak siaga, dampaknya bisa besar,” katanya.

Aditya yang telah mengantongi sertifikasi Gada Pratama juga menilai bahwa pelatihan yang ia ikuti sangat membantu dalam menjalankan tugas di lapangan, terutama dalam menghadapi situasi darurat secara cepat dan sesuai prosedur.

Ia berharap profesi satpam semakin mendapat apresiasi dan seluruh petugas keamanan memiliki standar sertifikasi yang sama, agar kualitas pengamanan di berbagai fasilitas publik semakin meningkat.

“Satpam itu garda terdepan. Sebelum aparat lain datang, kami yang pertama di lokasi,” pungkasnya. (awi/but)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.