Cuaca Ekstrem Lumpuhkan Penyeberangan, Keluarga Patungan Pulangkan Jenazah ke Bawean

0

Gresik (beritajatim.com) – Langit mendung yang menggantung di kawasan Pelabuhan Gresik seolah menambah duka yang dirasakan sejumlah keluarga dari Pulau Bawean. Di saat layanan kapal penyeberangan berhenti akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi, dua jenazah warga Bawean akhirnya harus dipulangkan menggunakan perahu nelayan atau kalotok.

Keputusan itu bukan pilihan yang mudah. Namun, ketika akses laut lumpuh selama beberapa hari, keluarga hanya memiliki satu harapan, yakni membawa pulang orang tercinta agar bisa dimakamkan di tanah kelahirannya.

Suasana haru terlihat di Dermaga Pelabuhan Gresik. Dua jenazah asal Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, dan Desa Peromaan, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, dipersiapkan untuk menempuh perjalanan laut selama sekitar 12 jam menggunakan kalotok menuju kampung halaman.

Kedua jenazah tersebut diketahui telah meninggal dunia sejak Selasa (23/6/2026). Cuaca ekstrem yang memicu gelombang laut lebih dari dua meter membuat seluruh layanan transportasi penyeberangan menuju Bawean terhenti.

Akibat kondisi itu, proses pemulangan jenazah pun tertunda hingga dua hari. Di tengah keterbatasan pilihan, keluarga akhirnya berinisiatif menyewa perahu nelayan. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit, berkisar antara Rp7,5 juta hingga Rp10 juta untuk satu kali perjalanan.

“Mau bagaimana lagi, kalau menggunakan pesawat tentu biayanya jauh lebih mahal. Kami keluarga patungan agar jenazah bisa segera dipulangkan,” ujar Rahman, salah satu anggota keluarga yang mendampingi proses keberangkatan, Kamis (25/6/2026).

Perahu kalotok yang digunakan berangkat dari kawasan Pelabuhan Gresik sekitar pukul 14.30 WIB. Sementara dari sisi lain, nelayan Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak, sebelumnya juga telah melakukan perjalanan sejak Rabu (24/6/2026) malam untuk membantu proses penyeberangan.

Bagi keluarga, perjalanan panjang di tengah laut bukan lagi persoalan utama. Yang terpenting, jenazah bisa segera tiba di Pulau Bawean dan dimakamkan oleh keluarga besar yang telah menunggu.

Sabariyah, salah satu pihak keluarga, mengaku hanya bisa pasrah menghadapi situasi tersebut. Sejak awal pekan tidak ada kapal penumpang yang beroperasi akibat cuaca buruk.

“Sudah beberapa hari tidak ada kapal yang berangkat. Kami terpaksa menggunakan kalotok. Nanti keluarga di Bawean yang akan menjemput dan langsung memakamkan jenazah setelah tiba,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah dua jenazah yang harus menempuh perjalanan panjang menggunakan perahu nelayan ini menjadi potret nyata bagaimana cuaca ekstrem masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat kepulauan.

Ketika ombak tinggi menghentikan kapal-kapal penyeberangan, warga Pulau Bawean kembali bergantung pada kalotok, yakni alat transportasi tradisional yang selama puluhan tahun menjadi penghubung kehidupan di tengah Laut Jawa.

Di balik suara mesin perahu yang meraung memecah ombak, tersimpan harapan sederhana dari keluarga yang berduka untuk mengantarkan orang tercinta pulang untuk terakhir kalinya. (dny/kun)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.