Sepi Peminat, SDN Dermo 2 Bangil Pasuruan Hanya Terima Empat Murid Baru Pada PPDB 2026
Pasuruan (beritajatim.com) – Krisis minimnya perolehan peserta didik baru kembali melanda sejumlah lembaga pendidikan dasar negeri di awal tahun ajaran baru ini.
Kondisi kontras justru terlihat pada sekolah kompetitor di wilayah yang sama yang justru kebanjiran pendaftar hingga melebihi daya tampung normal.
Ketimpangan jumlah murid yang cukup ekstrem ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan legislatif daerah yang membidangi sektor pendidikan rakyat. Pemerintah daerah didorong untuk segera mengambil tindakan taktis yang konkret guna menyelamatkan keberlangsungan operasional sekolah yang terancam mati suri.
“Terkait PPDB, memang ada beberapa sekolah yang belum memenuhi pagu, salah satunya SD Dermo. Kondisi ini dipengaruhi persebaran penduduk usia sekolah dan karakteristik wilayah,” aku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, Tri Krisni Astuti.
Krisni juga membenarkan bahwa SDN Dermo 2 di Kecamatan Bangil menjadi salah satu sekolah yang paling mencolok karena hanya mengantongi empat siswa baru sepanjang pelaksanaan pendaftaran tahun 2026/2027.
Menurut otoritas pendidikan, sistem seleksi tingkat sekolah dasar sangat bergantung pada kepadatan populasi anak usia dini di lingkungan sekitar area bangunan fisik. Karakteristik ini berbeda dengan jenjang sekolah menengah pertama yang penataan kuota lingkungannya diatur secara ketat lewat regulasi berbasis jarak udara.
Di sisi lain, perwakilan rakyat daerah menilai ada kesalahan teknis yang mendasar pada penataan kapasitas rombongan belajar antar-sekolah yang dibiarkan tidak seimbang. Sekolah yang sudah berstatus favorit dinilai cenderung terus menambah ruang kelas baru tanpa memedulikan nasib sekolah pinggiran yang sepi peminat.
“Harus ada pembatasan rombel, misalnya satu angkatan cukup dua kelas dengan kapasitas 35 siswa per kelas, jangan terus ditambah kelas baru. Pemerataan siswa harus menjadi perhatian,” kritik Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, Najib Setiawan.
Najib juga menegaskan bahwa pembatasan kuota kelas di sekolah besar merupakan kunci utama agar sebaran calon siswa baru dapat terdistribusi secara adil ke sekolah-sekolah yang kekurangan pagu.
Selain masalah teknis rombongan belajar, aspek manajerial internal sekolah juga dianggap menjadi faktor penentu minat para orang tua untuk menitipkan anak mereka. Lembaga yang dikelola secara monoton tanpa adanya pembaruan program ekstrakurikuler lambat laun akan ditinggalkan oleh masyarakat modern.
“Inovasi kepala sekolah dan peningkatan kualitas guru sama pentingnya. Kalau kualitas sekolah merata, masyarakat tidak akan menumpuk di sekolah tertentu,” pungkas Najib.
Melalui pemerataan kualitas tenaga pendidik, DPRD Kabupaten Pasuruan optimistis marwah seluruh sekolah negeri di tingkat kecamatan akan kembali terangkat secara kompetitif. (ada/ted)
Link informasi : Sumber