Menakar Potensi Migas Indonesia dan Langkah Nyata PHE Mengakselerasi Produksi Nasional
Ringkasan Berita
* Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Banyuwangi menegaskan optimisme ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan potensi besar minyak dan gas bumi.
* Berdasarkan data SKK Migas, Indonesia memiliki 128 cekungan migas dengan 68 di antaranya belum dieksplorasi, serta cadangan minyak sebesar 4,70 miliar barel dan gas 55,76 triliun kaki kubik dengan total aset hulu migas mencapai US$ 67,7 miliar atau setara Rp 621 triliun.
* Pertamina Hulu Energi selaku subholding upstream turut mendorong akselerasi produksi dengan berkontribusi menyumbang 65 persen minyak mentah dan 35 persen gas nasional, yang ditopang oleh perluasan wilayah kerja domestik hingga internasional serta sinergi regulasi lintas sektor.
——————————————————–
Banyuwangi (beritajatim.com) – Tarian khas suku Osing yang menggambarkan ketegaran dan keberanian perempuan setempat itu membuka gelaran Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina pada Jumat, 10 Juli 2026.
Di balik keindahan seni budaya yang disuguhkan, tersimpan sebuah pesan besar tentang optimisme menjaga ketahanan energi nasional melalui kolaborasi erat bersama media massa.
Kehadiran para jurnalis dari berbagai daerah dalam acara yang berlangsung hingga 11 Juli 2026 ini disambut hangat oleh pemerintah setempat. Asisten III Pemkab Banyuwangi, Budi Santoso, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan apresiasinya atas pilihan Pertamina menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pertemuan.
“Kami berharap semua yang hadir di sini menjadi endorse bagi Banyuwangi dengan menceritakan yang baik-baik tentang Banyuwangi. Sebab, kami yang menyebut diri sebagai the sunrise of Java, bersemangat untuk terus bergerak agar tak kalah dengan daerah lain. Sekarang bukan bisa atau tidak, tapi siapa yang cepat bergerak akan lebih maju,” ujar Budi dalam sambutannya.

Budi memaparkan bahwa Banyuwangi sengaja mengunggulkan sektor pariwisata alam seperti Kawah Ijen, penangkaran penyu unik di Sukamade, hingga Pantai Plengkung yang diakui sebagai salah satu dari dua lokasi berselancar terbaik di dunia bersanding dengan Hawaii.
Langkah ini diambil karena keterbatasan wilayah dalam bersaing di sektor manufaktur besar. “Kalau mau bangun industri kita kalah, maka alam yang kita jadikan unggulan. Ibu Bupati bilang wisata adalah investasi paling murah dan bisa menggerakkan semua sektor, itu terbukti,” tegasnya.
Semangat pergerakan cepat ini sejalan dengan langkah Pertamina dalam mengamankan pasokan minyak dan gas bumi nasional. Senior Manager Relation Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Sigit Dwi Aryono, menegaskan pentingnya peran pers dalam industri ini.
“Media adalah mitra strategis untuk membangun pemahaman publik terkait usaha hulu migas serta untuk menghasilkan informasi yang kredibel, sehingga informasi yang diterima masyarakat bisa utuh,” kata Sigit.
Ia juga berharap agar ke depan Pertamina dan awak media bisa terus bersilaturahmi, saling berbagi pengetahuan, dan berdiskusi.
“Sehingga media bisa menjembatani informasi dari perusahaan yang harus disampaikan pada khayalak. Terimakasih dedikasi dan supportnya pada usaha hulu migas di indonesia, khususnya di Indonesia Timur. Semoga terus bersinergi untuk mewujudkan ketahanan energi nasional,” harapnya.
Potensi besar hulu migas Indonesia kemudian dipaparkan secara rinci oleh Sigit berdasarkan data resmi.
“Berdasarkan data SKK Migas yang dipaparkan dalam infografis Potensi Migas Indonesia per 31 Juli 2024, terdapat 128 cekungan migas atau basins di seluruh Indonesia, dengan 68 cekungan di antaranya belum pernah dieksplorasi,” ungkap Sigit.
Menurutnya, dari total 128 cekungan tersebut, baru 20 cekungan yang telah aktif berproduksi. Sisanya terdiri dari 8 cekungan yang telah dibor namun belum berproduksi, 19 cekungan telah terindikasi mengandung hidrokarbon, dan 13 cekungan telah dibor tetapi tidak menemukan cadangan ekonomis.
“Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi penemuan cadangan migas baru untuk mendukung ketahanan energi nasional,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Sigit menjabarkan besarnya skala operasional hulu migas nasional yang tercatat oleh SKK Migas. Indonesia saat ini mengantongi cadangan minyak sebesar 4,70 miliar barel minyak (BBO) dan cadangan gas mencapai 55,76 triliun kaki kubik (TCF), yang merupakan gabungan cadangan terbukti dan potensi.
“Dari sisi aktivitas hulu migas, hingga 31 Juli 2024 terdapat 167 wilayah kerja yang terdiri atas 104 wilayah kerja eksploitasi, 44 wilayah kerja eksplorasi, serta 19 wilayah kerja yang sedang dalam proses terminasi. Selain itu, terdapat sekitar 2.300 lapangan eksplorasi dan pengembangan, lebih dari 30.000 sumur migas, 126 proven play, serta volume migas yang telah ditemukan mencapai 159 billion barrels of oil equivalent atau BBOE,” sela Arif Hermawan, Koordinator Komunikasi di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa.

Skala raksasa ini turut ditopang oleh bentangan infrastruktur penunjang di darat maupun lepas pantai yang mencakup wilayah kerja aktif seluas lebih dari 460 ribu kilometer persegi. Operasi tersebut didukung oleh 639 platform lepas pantai, 2 kilang LNG, 6 kilang LPG, serta 22 fasilitas produksi terapung seperti FPSO, FSO, dan FPU, dengan jaringan pipa migas sepanjang sekitar 47.500 kilometer.
Secara finansial, total nilai aset sektor hulu migas nasional ini mencapai sekitar US$ 67,7 milar atau setara dengan Rp 621 triliun berdasarkan harga perolehan. Kementerian ESDM bersama SKK Migas menilai jumlah cekungan tak tersentuh yang masif ini menjadi peluang strategis untuk mendongkrak produksi nasional melalui eksplorasi yang lebih gencar di masa depan.
Langkah Pertamina dalam menopang kebutuhan energi nasional ini dipertegas oleh capaian Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream. Senior Manager External Communication & Stakeholder Relations Subholding Upstream Pertamina Hulu Energi, Fitri Erika, memaparkan bahwa PHE saat ini berkontribusi menyumbang sebanyak 65 persen minyak mentah nasional dan 35 persen gas nasional.
Fitri menguraikan bahwa akselerasi peningkatan produksi migas nasional tidak hanya bertumpu pada kesiapan teknologi tinggi dan investasi yang besar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh dukungan regulasi serta kecepatan proses perizinan. Aspek krusial seperti pemanfaatan lahan untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan memerlukan sinergi yang kokoh dari lintas sektor.
“Untuk meningkatkan produksi migas diperlukan dukungan dari berbagai aspek, termasuk regulasi dan perizinan. Kami mengapresiasi dukungan dari Kementerian ATR/BPN, Kantor Staf Presiden, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan yang membantu mempercepat proses perizinan sehingga target produksi nasional dapat tercapai,” tutur Fitri.
Baginya, kebersamaan dan kerja sama harmonis antara pemerintah, regulator, pelaku industri, serta masyarakat luas adalah kunci utama dalam mempertahankan kedaulatan energi di masa mendatang.[rea]
Link informasi : Sumber