BRIDA Surabaya Tambah Koleksi Mangrove Kebun Raya Jadi 100 Jenis Tahun Depan

0

Surabaya (beritajatim.com) – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya berambisi menambah koleksi tanaman mangrove di Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar menjadi 100 jenis pada tahun depan.

Target tersebut menjadi fokus pengembangan memasuki usia ketiga KRM untuk memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat riset biodiversitas mangrove. Saat ini, KRM Gunung Anyar telah memiliki 74 jenis mangrove.

Selain menambah populasi tanaman melalui penanaman rutin, BRIDA juga akan memperkaya keanekaragaman hayati (biodiversitas) dengan mendatangkan spesies yang belum dimiliki.

Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan bahwa penanaman mangrove akan terus dilakukan setiap tahun. Namun, sasaran utama pengembangan ke depan adalah meningkatkan jumlah spesies mangrove yang tersedia sebagai bahan penelitian.

“Kalau populasi dari jenis jumlahnya kita terus bertambah, kan tiap tahun menanam terus,” ujar Agus pada Kamis (30/7/2026).

Agus juga menjelaskan, bahwa untuk mencapai 100 koleksi mangrove di tahun depan ini BRIDA Kota Surabaya akan melakukan ekspedisi ke berbagai daerah, tujuannya untuk mencari jenis-jenis mangrove yang belum ada di KRM Gunung Anyar.

“Nah, target yang lain adalah biodiversity, keanekaragamannya. Kita nanti berburu, ber-ekspedisi, ke banyak tempat yang punya jenis mangrove yang belum ada di sini, untuk ditanam di sini,” katanya.

Ia menegaskan, penambahan jenis mangrove tidak semata-mata untuk memperkaya koleksi tanaman. Keberagaman spesies tersebut dibutuhkan karena KRM Gunung Anyar dikelola BRIDA sebagai kawasan yang berorientasi pada riset dan inovasi.

“Jadi buat penelitian. Karena pengampu dari Kebun Mangrove ini adalah BRIDA. BRIDA core-nya adalah riset. Maka, harus menyediakan banyak spesies untuk bahan riset,” paparnya.

Agus mengungkapkan, pengembangan kawasan mangrove di Surabaya dilakukan melalui pembagian peran antarperangkat daerah. Kawasan mangrove di Romokalisari, Tambak Sarioso, Asemrowo, dan wilayah pesisir lainnya tetap difokuskan sebagai kawasan konservasi yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

“Kalau untuk konservasi, itu tetap ada di sana. Dan yang menghandle dinas yang terkait, katakanlah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP),” paparnya.

Sementara itu, BRIDA memusatkan kegiatan riset di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar dengan memperbanyak variasi jenis mangrove sebagai objek penelitian.

“Kalau yang untuk BRIDA, di sini (KRM). Karena kalau BRIDA fokusnya tidak hanya untuk konservasi, tapi juga riset. Di sana enggak (riset), nah konservasinya dikuati. Terus risetnya di sini (KRM),” pungkasnya. (rma/aje)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.