Riyono Peringatkan Pabrik Pakan: Jangan Naikkan Harga, Peternak Magetan Sudah Tertekan

0

Ringkasan Berita:

  • Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS Riyono Caping meminta pabrik pakan tidak menaikkan harga di tengah tekanan yang dialami peternak ayam petelur Magetan.
  • Harga pakan di tingkat peternak berada di kisaran Rp8.000 per kilogram, dengan sejumlah jenis pakan disebut naik Rp150-Rp400 per kilogram.
  • Peternak menyebut HPP telur sekitar Rp23.000 per kilogram, sedangkan harga jual hanya Rp19.000-Rp20.000 per kilogram.
  • Riyono mendorong stabilisasi harga pakan dan pasokan jagung melalui program SPHP jagung yang dialokasikan hingga 150.000 ton.

Magetan (beritajatim.com) – Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS, Riyono Caping, memperingatkan pabrik pakan agar tidak menaikkan harga di tengah kondisi peternak ayam petelur di Magetan yang sedang tertekan. Ia bahkan meminta peternak maupun pemerintah daerah melaporkan jika menemukan produsen yang menaikkan harga pakan.

Riyono menegaskan persoalan harga pakan menjadi salah satu hal yang harus segera ditangani pemerintah karena berpengaruh langsung terhadap biaya produksi peternak. Apalagi, harga jual telur saat ini dinilai belum mampu memberikan keuntungan yang layak bagi peternak.

“Kalau ditemukan pabrikan menaikkan harga pakan silakan sampaikan pada kami. Itu akan kami tindak lanjuti,” kata Riyono saat menyerap aspirasi peternak di Kabupaten Magetan.

Menurut dia, pemerintah pusat telah mengambil kebijakan agar harga pakan tidak dinaikkan. Karena itu, apabila di lapangan ditemukan adanya kenaikan harga yang tidak sesuai ketentuan, pihaknya siap membawa persoalan tersebut ke tingkat pusat.

Ia meminta dinas terkait maupun DPRD Kabupaten Magetan tidak ragu menyampaikan informasi apabila menemukan kenaikan harga pakan dari produsen.

“Saya tegas saya sampaikan kalau ada Bu Kadis, teman-teman DPRD, kalau ditemukan pabrikan menaikkan harga pakan silakan sampaikan pada kami,” ujarnya.

Riyono mengatakan persoalan yang dihadapi peternak Magetan sebenarnya sudah menjadi perhatian pihaknya sejak sekitar satu bulan terakhir. Ia sebelumnya telah bertemu dengan sejumlah peternak untuk menyerap keluhan sekaligus mencari solusi terkait harga telur, harga pakan, dan serapan produksi.

Namun, dari sejumlah persoalan tersebut, harga pakan menjadi faktor penting yang harus dikendalikan karena merupakan komponen utama biaya produksi peternakan ayam petelur.

Dalam dialog bersama peternak, terungkap harga pakan berada di kisaran Rp8.000 per kilogram. Peternak menilai harga tersebut sudah cukup berat dan membuat usaha mereka sulit mendapatkan keuntungan.

Peternak juga menyampaikan adanya kenaikan harga sejumlah jenis pakan dengan besaran bervariasi, mulai Rp150, Rp200, Rp250, Rp300 hingga Rp400 per kilogram.

Besarnya harga pakan juga bergantung pada kandungan dan komposisinya. Semakin tinggi kebutuhan protein dalam pakan, semakin tinggi pula biaya yang harus dikeluarkan peternak.

Kondisi tersebut semakin berat ketika harga jual telur tidak mampu menutup biaya produksi. Dalam dialog tersebut, peternak menyebut HPP telur berada di kisaran Rp23.000 per kilogram, sedangkan harga telur berada di sekitar Rp19.000-Rp20.000 per kilogram.

Artinya, peternak menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus, yakni biaya produksi yang tinggi dan harga jual telur yang berada di bawah biaya produksinya.

Karena itu, Riyono menilai stabilisasi harga pakan menjadi salah satu langkah penting untuk membantu peternak bertahan. Pengendalian biaya produksi dinilai penting ketika harga telur belum berada pada tingkat yang memberikan keuntungan bagi peternak.

Selain meminta harga pakan tidak dinaikkan, Riyono juga mendorong pemerintah memperkuat pasokan bahan baku pakan, terutama jagung. Ia menyebut program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung dialokasikan hingga 150.000 ton.

“Mudah-mudahan segera bisa direalisasikan di tengah kondisi teman-teman peternak kecil yang memang sekarang sedang berjuang untuk kemudian ada stabilisasi harga,” katanya.

Riyono berharap kebijakan tersebut segera terealisasi sehingga tekanan biaya produksi peternak dapat berkurang. Ia juga memastikan aspirasi peternak Magetan akan dibawa ke tingkat pemerintah pusat untuk mendapatkan tindak lanjut.

Bagi peternak, pengendalian harga pakan menjadi penting karena penurunan biaya produksi akan sangat menentukan kemampuan mereka bertahan ketika harga telur belum berada pada tingkat yang menguntungkan. [fiq/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.