Putus Rantai Generasi Sandwich, AAJI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan Sejak Bangku Kuliah
Ringkasan Berita
* Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia mengimbau mahasiswa dan generasi muda untuk bijak mengelola keuangan serta mengenal pentingnya proteksi asuransi sejak usia perkuliahan.
* Langkah ini dinilai sangat penting untuk memutus rantai generasi sandwich yang berisiko membebani keluarga secara berkepanjangan, sekaligus menjembatani kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.
—————————————————
Surabaya (beritajatim.com) – Kesadaran untuk mengelola keuangan secara tegas dan teratur perlu ditanamkan sejak usia muda. Langkah disiplin ini menjadi fondasi utama agar seluruh kebutuhan hidup di masa depan dapat tercukupi tanpa memicu krisis finansial.
Ketua Panitia TADEA Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) 2026, Antonius Probosanjoyo, menegaskan bahwa masa perkuliahan merupakan momentum paling ideal bagi seseorang untuk mulai memahami perencanaan keuangan secara matang. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para mahasiswa dalam acara Smartfin Day yang berlangsung di Ruang Auditorium Ternate, Gedung ASEEC Tower, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Antonius menyoroti realitas di lapangan yang menunjukkan masih banyaknya anak muda, khususnya kalangan mahasiswa, yang memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif harian seperti kebiasaan membeli kopi. Menurutnya, menikmati gaya hidup masa kini tentu tidak dilarang, namun harus tetap diimbangi dengan kesadaran menyisihkan dana untuk investasi dan proteksi diri.
Salah satu alasan mendasar pentingnya perencanaan keuangan sejak dini adalah hadirnya fenomena generasi sandwich. Tanpa proteksi keuangan yang memadai seperti asuransi jiwa, masalah finansial keluarga akan bergulir bak bola salju dari satu generasi ke generasi berikutnya. Beban penanggungan tidak hanya berhenti pada orang tua dan anak, tetapi dapat meluas hingga merugikan paman, bibi, maupun keponakan.
Di samping persoalan gaya hidup, industri keuangan juga masih menghadapi tantangan pada tingkat pemahaman masyarakat. Mengutip data Ketua Bidang Literasi AAJI Wianto, Antonius menjelaskan bahwa tingkat inklusi keuangan masyarakat sebenarnya sudah terbilang tinggi, yaitu mencapai sekitar 80 persen. Namun, tingkat pemahaman atau literasi masyarakat terhadap produk keuangan yang digunakan masih tertahan di angka 60 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa benar-benar memahami risiko yang melekat di dalamnya. Oleh karena itu, edukasi keuangan secara berkelanjutan sangat dibutuhkan. Antonius meluruskan bahwa kepemilikan asuransi tidak boleh lagi dianggap sebagai kebutuhan lansia semata, melainkan instrumen krusial yang idealnya dimiliki sejak memasuki usia produktif.[rea]
Link informasi : Sumber