Bangun Nalar Ekologis, PBSI Unisma Ajak Siswa SMAN 4 Malang Bedah Fiksi Lingkungan
Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma) mengajak generasi muda peduli terhadap isu kelestarian lingkungan hidup di wilayah perkotaan. Mereka membuat model kurasi mandiri di SMAN 4 Kota Malang, Selasa (8/9/2026).
Program yang didanai melalui Skema HIMA Unisma ini dirancang oleh dosen PBSI, Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd. Tim pengabdian mengarahkan agar membaca kritis tidak lagi diarahkan pada sekadar tugas rangkuman hafalan, tetapi dirancang memantik kepedulian generasi muda terhadap isu kelestarian lingkungan hidup di wilayah perkotaan.
Ari Ambarwati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menggeser pola apresiasi sastra yang selama ini cenderung pasif dan terbatas pada penyusunan ulasan cerita belaka. Menurutnya pemahaman teks fiksi yang dialami para siswa sengaja diarahkan menjadi gagasan serta tindakan nyata yang aplikatif dalam merespons persoalan ekologis.
”Pendampingan ini mengubah ekspresi sastrawi yang biasanya berhenti di resensi fiksi menjadi proyeksi aksi nyata. Nah setelah menyusun resensi, dalam pendampingan ini murid ditantang untuk mampu merekomendasikan bacaan fiksi yang sudah dibaca kepada orang lain disertai argumentasi yang jelas. Setelah itu mereka harus merekomendasikan atau memproyeksikan aksi nyata untuk menyelesaikan masalah lingkungan di sekitar sekolah atau di kota Malang,” ujar Ari Ambarwati sebagai perwakilan tim pengabdi PBSI Unisma.
Apresiasi datang dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMAN 4 Malang, Dini Alfiyanti Wahyuni, S.Pd. Dini mengamati adanya lonjakan rasa ingin tahu para murid saat disuguhi bacaan dengan isu pelestarian alam, kendati mereka sempat menghadapi tantangan diksi sastra yang lebih padat.
”Anak-anak ini biasanya lebih familier dengan sastra populer. Ketika dihadapkan pada fiksi lingkungan, mereka memang harus beradaptasi dengan kosakata yang lebih ‘nyastra’. Namun, secara keseluruhan, tema lingkungan ini sangat bagus dan efektif untuk memancing nalar kritis anak-anak kita,” ujar Dini.

Hal senada diungkapkan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Brawijaya yang turut bertugas di kelas, Ana Tasya Faradinanwar. Ana menilai perpaduan analisis bacaan dengan medium visual memberikan ruang ekspresi yang luas bagi peserta didik.
”Model Kurasi Mandiri ini sangat menyenangkan. Siswa tidak hanya sekadar membaca atau merangkum tulisan, tetapi mereka juga dibebaskan berkreasi dengan warna dan gambar. Ini tentu menjadi inspirasi pendekatan baru bagi saya kelak saat resmi menjadi guru,” kata Ana.
Agenda perumusan draf Jurnal Bergambar dijadwalkan berlanjut pada Rabu (9/9/2026) pagi. Keseluruhan proses kurasi sastra lingkungan ini nantinya akan dipamerkan ke hadapan publik melalui ajang Pameran Jurnal Bergambar dan Gelar Wicara pada November mendatang sebagai katalog rekomendasi literasi hijau.
Sebanyak 28 pelajar kelas 11 Maestro Creative Art (MCA) terlibat aktif dalam lokakarya tersebut. Jalannya forum pembelajaran dikawal langsung oleh tiga mahasiswa peneliti Unisma, yakni Mukhammad Yusril Muzakky, Masykur Syauqi, dan Kamelia Nafiah.
Peserta dibagi ke dalam tim kecil beranggotakan empat orang guna mendalami cerita pendek bernafaskan ekokritik. Diskusi berjalan dinamis saat kelompok yang diperkuat Ihsan, Afiq, Rian, dan Nala mengupas cerpen berjudul Pohon-pohon Jalan Protokol.
Teks memotret dilema antara aspek keselamatan pengguna jalan dan keberadaan pohon berusia tua di kawasan kota. Perwakilan kelompok tersebut menyatakan bahwa alur cerita yang terbuka justru memicu refleksi moral yang mendalam.
Mereka menilai narasi fiksi tersebut menyadarkan pembaca agar tidak bersikap serakah terhadap lingkungan dan menjauhi praktik perusakan alam.
”Ceritanya memang sedikit menggantung, tapi justru bikin kita mikir bahwa kita tidak boleh serakah terhadap alam. Jangan sembarangan menebang pohon secara ilegal,” kata salah satu anggota kelompok saat memaparkan temuan analisisnya di depan kelas.
Respons emosional sekaligus kritis turut dirasakan oleh kelompok lain. Siswi perwakilan kelompok, Alma, mengaku tersentuh kala membedah cerpen Tragedi Asap.
Cerita mengisahkan kepedihan tokoh Siti Hajar yang kehilangan buah hatinya akibat kepungan kabut asap kebakaran hutan.
“Keserakahan ekspansi lahan korporasi sawit dalam cerpen tersebut merefleksikan potret nyata krisis ekologis yang kerap menimpa masyarakat kecil,” kata Alma. (dan/but)
Link informasi : Sumber