Ganggu Jalur Akuifer Air Tanah Desa Puncu Dan Satak, PT. Empat Pilar anugerah Sejahtera Ditolak Ratusan Warga.

0

Jatimpedia.co| 22 November 2025. Kediri– Masyarakat Desa Satak dan Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tengah menghadapi krisis serius terkait penurunan debit air bersih yang berlangsung selama musim kemarau.

Untuk diketahui dirangkum radarkediri.jawapos.com , opsi penertiban galian C tersebut dilakukan setelah Bupati Dhito sidak ke lokasi galian C di Desa Tiron, Banyakan (18/2). Usai memeriksa lokasi, bapak satu anak ini memastikan jika galian C tersebut tak mengantongi izin. “Akan kami bereskan (tutup, Red) apabila memang tidak ada izin. Tidak sesuai aturan penambangan,” kata Dhito terlihat geram. pada 22 Februari 2022.

Kondisi ini semakin memburuk sehingga memaksa warga untuk mencari alternatif penyediaan air dengan biaya yang tidak sedikit, menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang cukup berat bagi masyarakat setempat, Seorang warga Desa Satak yang enggan disebutkan namanya, namun menyebut diri dengan inisial Yit, mengungkapkan keluhannya kepada awak media.

Ia menceritakan bahwa selama musim kemarau ini, sumber air bersih di kedua desa semakin menipis hingga mencapai titik kritis. “Kami harus membeli air dengan harga sekitar Rp80.000 untuk dua tangki air yang hanya cukup untuk kebutuhan selama dua sampai tiga hari,” ujarnya dengan nada prihatin.

Menurutnya, harga tersebut cukup memberatkan bagi sebagian besar warga yang sebagian besar berpenghasilan rendah, Penurunan debit air bersih ini diduga kuat terkait aktivitas pertambangan yang sedang berlangsung di wilayah Kecamatan Puncu.

Penambangan galian C yang tidak terkontrol telah menyebabkan gangguan pada sumber air tanah, sehingga debit air berkurang drastis, Sejak awal beroperasi aktivitas tambang ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat karena dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari, Kondisi tersebut akhirnya menarik perhatian Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia (LSM Gerak Indonesia).

Organisasi ini secara aktif mengadvokasi hak-hak masyarakat dan perlindungan lingkungan hidup di Kediri, Achmad Masliyanto, Kepala Bidang Informasi LSM Gerak Indonesia, secara tegas menyatakan keprihatinannya atas masalah ini. Ia menuntut agar Pemerintah Kabupaten Kediri dan DPRD Kabupaten Kediri segera mengambil langkah konkret dan terukur untuk menyelesaikan masalah yang berdampak luas bagi masyarakat Desa Satak dan Puncu.Menurut Achmad, permasalahan penurunan debit air tidak bisa ditunda lagi. “Kami mendesak pemerintah daerah untuk menindak tegas semua aktivitas penambangan galian C yang diduga menjadi akar permasalahan. Aktivitas ini harus dievaluasi secara menyeluruh, terutama mengenai izin Hak Guna Usaha (HGU) yang mereka pegang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika izin tersebut ternyata merugikan masyarakat atau menyebabkan kerusakan lingkungan signifikan, maka pencabutan izin harus diprioritaskan.

Lebih lanjut, Achmad menekankan pentingnya keberlanjutan sumber daya air sebagai hak dasar warga negara. “Air bersih bukan hanya kebutuhan pokok, tetapi juga hak asasi yang harus dijaga oleh pemerintah,” tegasnya. Ia berharap agar persoalan ini tidak hanya menjadi isu sementara, melainkan mendapat perhatian serius dan solusi khusus yang tuntas serta berkelanjutan agar masyarakat Desa Satak dan Puncu dapat menikmati akses air bersih secara normal kembali.Selain itu, LSM Gerak Indonesia juga berharap pemerintah dapat mengadakan kajian mendalam terhadap dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan ini, Kajian ini penting agar pemerintah punya dasar ilmiah dalam mengambil keputusan yang tidak hanya adil bagi masyarakat tetapi juga ramah terhadap lingkungan sekitar.

Pengawasan secara ketat dan transparan dari semua pihak terkait diharapkan mampu menjamin penggunaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan tidak merusak ekosistem, Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan akibat kekurangan air bersih ini juga perlu diantisipasi. Banyak warga yang sebelumnya menggantungkan hidupnya pada pertanian dan usaha kecil kini mengalami kesulitan akibat ketersediaan air yang minim.

Air yang semakin langka menyebabkan produksi menurun dan menambah beban biaya harian masyarakat yang harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hal ini tentu dapat memperburuk kondisi ekonomi desa yang selama ini sudah tergolong rendah.

Tidak hanya masalah air bersih, aktivitas pertambangan juga dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan lingkungan lain seperti erosi tanah, perubahan bentang alam, dan polusi air yang bisa berdampak lebih luas lagi bila tidak segera ditangani. Kehadiran LSM dan tuntutan mereka kepada pemerintah diharapkan menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam di wilayah ini agar tidak semakin memperparah krisis lingkungan dan sosial.

Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada respons resmi dari Pemerintah Kabupaten Kediri maupun DPRD Kabupaten Kediri terkait tuntutan LSM Gerak Indonesia dan keluhan masyarakat Desa Satak dan Puncu. Ketiadaan tanggapan ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga yang merasa hak dasar mereka atas air bersih diabaikan.Krisis air di Desa Satak dan Puncu ini menjadi contoh nyata bagaimana eksploitasi sumber daya alam tanpa pengelolaan yang berkelanjutan dapat menimbulkan dampak negatif langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Permasalahan ini mengingatkan pentingnya peran aktif pemerintah dalam mengatur dan mengawasi aktivitas pertambangan agar tidak menimbulkan kerusakan yang merugikan banyak pihak.Dengan tekanan terus-menerus dari LSM dan masyarakat, harapan terbesar adalah adanya solusi menyeluruh dan berkelanjutan. Pemerintah harus bertindak sebagai pelindung dan pemenuh hak masyarakat, sekaligus sebagai pengelola lingkungan yang bijak.

Penanganan yang tepat dan cepat akan menghindarkan desa ini dari krisis air yang bisa berlanjut semakin parah dan mempengaruhi generasi berikutnya.Apabila pemerintah dapat bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, termasuk LSM dan warga setempat, maka perbaikan segera bisa diwujudkan.

Langkah-langkah seperti penghentian sementara operasi tambang yang merusak, pemulihan sumber air, serta program literasi dan penyuluhan tentang konservasi air bisa menjadi bagian dari solusi efektif, Masalah ini tentu bukan hanya persoalan lokal, melainkan gambaran penting tentang bagaimana sumber daya alam harus dikelola secara bertanggung jawab agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, kini dan masa mendatang. (Red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.