Videotron di Alun-alun Jember Nusantara Bisa Jadi yang Terbesar di Indonesia

0

Jember (beritajatim.com) – Alun-alun ‘Jember Nusantara’ di Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan dilengkapi videotron senilai Rp 6 miliar dengan lebar delapan meter dan panjang 20 meter.

“Ini bisa terbesar se-Indonesia. Paling besar biasanya lima meter,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Bobby Arie Sandi, dikutip beritajatim.com, Sabtu (19/10/2024).

Videotron ini sebenarnya sudah dianggarkan untuk dikelola Diskominfo dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Jember Tahun Anggaran 2022. Terjadinya inflasi nasional membuat pemerintah pusat mengingatkan Pemerintah Kabupaten Jember untuk berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran, dan pengadaan videotron pun ditunda.

Pemkab Jember baru kembali mengalokasikan anggaran videotron pada APBD 2024. Kali ini, anggaran pengadaan konstruksi dikelola Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya. Sementara anggaran panel dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika Jember.

“Kami berupaya untuk berkonsultasi dengan beberapa teman aparat penegak hukum. Dengan terpisah ini, dari sisi nomenklatur pengadaan tidak ada masalah. Namun dari sisi politik kondisi saat ini, kami harus berhati-hati,” kata Bobby.

Videotron ini akan diletakkan di alun-alun sebelah timur berhadapan dengan Jalan Ahmad Yani dan Bank Mandiri. “Sekarang sedang dalam tahapan tender,” kata Bobby. Diskominfo mengecek ketersediaan barang dan kesesuaian spesifikasi yang dipersyaratkan di pabrik produsen videotron itu di Bandung, Jawa Barat.

Pengadaan videotron ini ternyata tak semudah dibayangkan. Diskominfo sebenarnya bisa saja melakukan pengadaan pada awal tahun anggaran. “Risikonya, ketika kami sudah berjalan, tapi Dinas PU belum berjalan, dan barang (videotron) sudah datang, akan ada kesulitan. Mau ditaruh di mana, (videotron) sebegitu besarnya,” kata Bobby.

Apalagi pasokan daya listriknya juga sangat besar. “Di perencanaan kami membutuhkan tiga trafo, kurang lebih hampir enam ribu watt. Kalau dinyalakan terus, sebagaimana perencanaan kami pada 2022 dan hasil konsultasi dengan PLN, dari jam tujuh pagi sampai 12 malam, per bulannya (butuh anggaran) hampir Rp 100 juta,” kata Bobby.

Opsi kedua adalah melakukan pengadaan pada saat konstruksi berjalan 50 persen. Namun, kata Bobby, harus betul-betul diyakini bahwa konstruksi itu cukup kuat untuk menopang videotron tersebut.

Opsi ketiga adalah pelaksanaan pengadaan videotron ketika Dinas PU Cipta Karya sudah menandatangani BAST (Berita Acara Serah Terima) pembuatan konstruksi kerangka tempat videotron dengan pihak ketiga. Namun ini bukannya tanpa risiko juga. “Kalau selesainya November, kapan saya pengadaan,” kata Bobby.

Apalagi, menurut Bobby, sempat ada adendum 15 hari pemasangan konstruksi dari Dinas Cipta Karya karena material dan infrastruktur trafo dari Perusahaan Listrik Negara belum tersedia.

“Kami akhirnya melakukan pengadaan (videotron) dengan cara ambil tengah-tengah. (Konstruksi penopang videotron) sudah berdiri, tinggal masalah power supply,” kata Bobby.

Jangka waktu pengadaan videotron ini sebenarnya cukup memakan waktu 40 hari. Namun bila ada kendala teknis, bisa diperpanjang hingga 60 hari, asalkan tidak melebihi tahun anggaran. “Kalau melebihi tahun anggaran pasti didenda,” kata Bobby.

Saat ini, tahapan pengadaan sudah memasuki penilaian asas nyata oleh PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) dan tim Diskominfo. “Kami tidak punya tenaga teknis ahli bidang videotron. Oleh karena itu kami mengambil dari pihak luar,” kata Bobby. Syaratnya, tenaga teknis itu tidak terlibat dalam proses lelang.

Diskominfo juga bekerja sama dengan ahli videotron yang biasa bekerja sama dengan Jember Fashion Carnaval. “Mereka yang paham betul secara detail, spesifikasi apa saja yang dibutuhkan. Kadang kala berkembang informasi, dengan detailnya spesifikasi yang kami butuhkan, dikatakan bahwa Diskominfo mengunci spesifikasi,” kata Bobby.

Detailnya spesifikasi ini tak lepas dari fungsi videotron tersebut ke depan untuk mendukung penyelenggaraan event. “Contoh kita melakukan rapat di DPRD Jember, bisa ditayangkan di sana (di alun-alun melalui videotron, red),” kata Bobby.

Barang-barang dengan spesifikasi yang dibutuhkan itu tidak tersedia di katalog elektronik, sehingga dilakukanlah tender. “Akhirnya berjalanlah tahapan, yang kalau lancar, seharusnya pada 21 Oktober 2024, kami sudah berkontrak dengan pihak ketiga,” kata Bobby. Semua tergantung hasil pengecekan tim yang berangkat ke pabrik produsen di Bandung.

Bobby ingin videotron yang terbaik di aluu-alun. Bahkan ia ingin garansi barang tak hanya setahun melainkan tiga tahun. “Dan kami kunci, produksi sebesar itu, 200 panel itu adalah satu batch, yang artinya dalam satu kali produksi sama (kualitasnya). Sebab kalau tidak sama, blank,” katanya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jember Hasan Basuki berharap proses tender videotron berjalan lancar. “Sekarang Oktober, tinggal dua bulan lagi. Kalau dengan anggaran Rp 6 miliar tidak bisa terealisasi, tempatnya tidak terisi dan akhirnya keelokan alun-alun tidak bagus,” katanya.

Hasan berharap Diskominfo terus berupaya agar videotron bisa terealisasi. “Kalau tidak sampai terealisasi, lalu yang muncul banner, kan semakin tidak elok,” katanya, tertawa. [wir]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.