Perempuan Bukan Objek, Lebih dari 50 Cendekiawan Muslimah Siap Turun ke Lapangan
Surabaya (beritajatim.com) — Kepengurusan Daerah Perempuan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (DPW Perempuan ICMI) Jawa Timur memasuki babak baru. Di bawah arahan Prof. Dr. Hesti Armiwulan, S.H., M.Hum., organisasi ini bertekad mengubah pandangan tentang perempuan: bukan lagi sebagai pihak yang perlu dibantu, melainkan pelaku utama kemajuan bangsa.
Kegiatan sosialisasi dan penyamaan visi digelar di Surabaya, Kamis (24/9/2026), mendahului pelantikan resmi. Puluhan calon pengurus berkumpul — akademisi, guru besar, dokter, ahli statistik, pengusaha, hingga jurnalis — berasal dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Jawa Timur. Keberagaman ini bukan sekadar jumlah, melainkan fondasi kekuatan.
“Tujuan kami hari ini sederhana: memastikan tidak ada satu pun rekan yang dilantik tanpa memahami hakikat keberadaan kita. ICMI berdiri di atas tiga pilar yang tak dapat dipisahkan — keislaman, keindonesiaan, dan kecendekiawanan. Tanpa salah satu, bangunan ini miring,” ujar Prof. Hesti membuka acara.
Ia mengingatkan pesan pendiri ICMI, B.J. Habibie: perpaduan antara iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Ilmu tanpa takwa bisa menjadi alat penindasan. Takwa tanpa ilmu tidak efektif bermanfaat luas. Maka kita menyatukan keduanya: bertakwa dengan ilmu, berilmu dengan takwa,” tegasnya.
Prof. Hesti menegaskan, kepemimpinannya tidak akan membiarkan organisasi berhenti pada diskusi. Keahlian yang dimiliki para anggota akan langsung disalurkan ke masyarakat — pendidikan anak, kesehatan ibu dan anak di daerah terpencil, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta kegiatan sosial lainnya yang disesuaikan kebutuhan riil.
“Kita tidak hanya berbicara pemberdayaan — kita melakukannya. Perempuan muslimah adalah kekuatan besar yang selama ini sering dipandang sebagai objek. Kini kita ubah: kita adalah subjek pembangunan. Di tangan kita tumbuh generasi, terjaga keluarga, dan diperkuat tatanan sosial,” ucapnya.
Syarat bergabung pun ditegaskan: bukan gelar atau jabatan, melainkan kesediaan tulus untuk meluangkan waktu, hadir di tengah masyarakat, dan mencari solusi bersama.
Dalam kesempatan itu, H. Ismail Naschu, S.Ag., Ketua ICMI Jawa Timur periode 2010–2015, menelusuri silsilah kepemimpinan terdahulu. Ia mengingatkan: “Ukuran di sini bukan huruf di depan atau belakang nama. Yang terpenting niat tulus untuk berbuat. Estafet ini sampai ke tangan Ibu-ibu — ini bukan hak, ini amanah,” ujarnya.
Pelantikan resmi pengurus direncanakan pada Sabtu (26/9/2026), setelah seluruh calon pengurus memiliki pemahaman yang sama tentang visi dan misi organisasi. [uci/ian]
Link informasi : Sumber