Kekeringan Ponorogo Belum Berakhir, 915 KK Masih Bergantung Distribusi Air

0

Ringkasan Berita:

  • BPBD Ponorogo masih mendistribusikan sekitar 67 ribu liter air bersih setiap minggu untuk warga terdampak kekeringan.
  • Sebanyak 915 kepala keluarga di enam titik masih menjadi sasaran distribusi air bersih.
  • Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum memenuhi indikator masuknya musim penghujan sehingga sumur warga belum sepenuhnya pulih.
  • Di Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, BPBD menyiapkan jeriken dan enam tandon karena lokasi warga sulit dijangkau kendaraan tangki.

Ponorogo (beritajatim.com) – Krisis air bersih di Ponorogo masih belum berakhir. Data BPBD Ponorogo menunjukkan, sekitar 67 ribu liter air masih harus didistribusikan setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak kekeringan.

Sebanyak 915 kepala keluarga di enam titik masih menjadi sasaran distribusi air bersih. Kondisi tersebut menunjukkan sumber air warga belum sepenuhnya pulih meski hujan telah mengguyur beberapa wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun mengatakan, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum bisa dijadikan penanda masuknya musim penghujan. Sebab, curah hujan yang terjadi belum memenuhi indikator musim hujan.

“Sumur-sumur warga masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka,” kata Masun, Senin (5/10/2026).

Distribusi air bersih masih dilakukan di enam titik yang mengalami dampak kekeringan. Lokasinya meliputi Desa Karangpatihan, Bungkal, Gelangkulon, Sidoarjo, Tumpuk, dan Caluk.

Total terdapat sekitar 915 kepala keluarga yang masih menjadi sasaran dropping air. BPBD terus melakukan pendistribusian untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi warga.

Sementara itu, penanganan kekeringan di Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, dilakukan dengan pola berbeda. Sekitar 400 warga yang tersebar di empat RT berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan tangki.

Kondisi geografis tersebut membuat distribusi air tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti wilayah lain. BPBD kemudian menyiapkan wadah penampungan berupa jeriken dan enam tandon air.

Pemerintah desa nantinya mengambil air dari sumber yang berjarak sekitar 2-3 kilometer dari permukiman warga.

“Kami siapkan jeriken dan enam tandon. Air nantinya diambil pemerintah desa dari sumber sekitar 2-3 kilometer dari lokasi,” terangnya.

Langkah tersebut menjadi upaya BPBD untuk memastikan warga di wilayah yang sulit dijangkau tetap mendapatkan pasokan air bersih. Sebab, turunnya hujan belum otomatis membuat sumber air warga kembali normal.

Distribusi air masih diperlukan hingga kondisi sumber air benar-benar mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Hujan mulai turun Oktober, tapi permintaan air bersih masih berlangsung hingga November,” pungkasnya. [end/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.