Jualan Sejak 1970, Lontong Tahu Mbah Katinem Bojonegoro Bertahan dengan Harga Rp10 Ribu

0

Bojonegoro (beritajatim.com) – Puluhan tahun berlalu, lontong tahu Mbah Katinem di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, tetap bertahan dengan racikan bumbu tradisional. Berjualan sejak 1970, kuliner sederhana ini bukan sekadar menawarkan cita rasa khas, tetapi juga menyimpan kenangan lintas generasi bagi para pelanggannya.

Lapak Mbah Katinem berada di depan Pasar Sumberrejo, sekitar 200 meter di sebelah timur perempatan lampu merah Jalan Sumberrejo. Dengan gerobak pikul sederhana yang ditutup kain, perempuan yang sudah berjualan selama 56 tahun itu melayani pembeli setiap malam mulai pukul 19.00 WIB hingga dagangannya habis.

Seporsi lontong tahu buatannya terdiri atas potongan lontong, tahu, sambal kacang, dan kecap. Taburan kacang goreng serta bawang goreng melengkapi hidangan yang dijual seharga Rp10 ribu per porsi tersebut.

Perjalanan usaha yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu juga tercermin dari perubahan harga jualnya. Mbah Katinem mengenang, dahulu seporsi lontong tahu masih dibanderol Rp300 sebelum Pasar Sumberrejo mengalami kebakaran. “Mbiyen regane Rp300 repes pas sak durung e pasar kobongan,” kata Mbah Katinem, Sabtu (10/10/2026).

Salah satu kunci yang membuat lontong tahu tersebut tetap diminati pelanggan adalah racikan sambal kacangnya. Di tengah kemudahan teknologi pengolahan makanan, Mbah Katinem tetap memilih mengulek bumbu menggunakan cobek daripada menggilingnya dengan mesin.

Baginya, cara tradisional itu menghasilkan cita rasa yang lebih nikmat. “Nak bumbune digiling rasane gak iso sedep,” ujarnya sembari meracik sambal kacang.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan setiap hari, bahan baku yang disiapkan pun tidak sedikit. Mbah Katinem menyebut dapat menghabiskan sekitar lima kilogram beras untuk membuat lontong, dua ember tahu, serta empat kilogram kacang tanah sebagai bahan utama sambal.

Dalam menjalankan usaha tersebut, ia dibantu saudaranya yang akrab disapa Mak Ning. Selain menyiapkan tahu dan membantu mengulek bumbu, Mak Ning turut memastikan pesanan disajikan sesuai antrean.

Menurut Mak Ning, Mbah Katinem sudah berjualan lontong tahu sejak usia muda. Meski keluarga beberapa kali memintanya berhenti dan beristirahat di rumah, keinginan untuk tetap berjualan belum surut.

“Sering, Mas, diminta berhenti sama keluarga, disuruh di rumah saja. Tapi ya tetap pengen terus jualan, katanya masih kuat dan tidak mau merepotkan,” tutur Mak Ning.

Bagi pelanggan, lontong tahu Mbah Katinem bukan sekadar makanan untuk mengisi perut. Cita rasa yang dipertahankan selama puluhan tahun itu juga menjadi pengikat kenangan yang sulit dilupakan.

Kurniawan (32), salah seorang pelanggan setempat, menilai sambal kacang yang kental menjadi daya tarik utama hidangan tersebut. Ia juga mengapresiasi cara Mbah Katinem melayani pembeli secara tertib sesuai antrean.

Kenangan serupa dirasakan Misbah (30), pelanggan asal Surabaya yang merupakan warga asli Bojonegoro. Ia mengaku selalu menyempatkan diri menikmati lontong tahu Mbah Katinem setiap kali pulang ke kampung halaman.

Misbah masih mengingat masa kecilnya ketika sang ayah mengajaknya makan lontong tahu setelah panen padi dan tembakau. Hingga kini, cita rasa yang ditawarkan tetap mengingatkannya pada momen kebersamaan bersama keluarga.

“Dulu ketika habis panen padi dan tembakau diajak bapak makan lontong tahu ini. Rasanya tetap enak, masih sama seperti dulu,” ungkap Misbah.

Baginya, ketekunan Mbah Katinem dalam mempertahankan usaha juga menjadi gambaran kemandirian di tengah perubahan zaman. Dari gerobak sederhana di depan pasar, ia terus merawat usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sekaligus melekat dalam ingatan para pelanggan.

Bertahan sejak 1970, lontong tahu Mbah Katinem membuktikan bahwa kekuatan kuliner tradisional tidak semata-mata terletak pada kemewahan tempat atau kerumitan sajian. Konsistensi menjaga rasa dan kenangan yang tumbuh bersama pelanggan menjadi alasan kuliner ini tetap dicari hingga sekarang. (fif/kun)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.