Pakar Komunikasi Ingatkan Bahaya Cuaca Panas Terhadap Emosi Warga
Surabaya (beritajatim.com) – Suhu udara Surabaya yang menembus 37 derajat Celsius pada Rabu (21/10/2026) siang memicu keluhan fisik. Cuaca terik ini ternyata juga memicu tekanan psikologis dan merusak pola komunikasi masyarakat.
Pakar Komunikasi Universitas Airlangga, Suko Widodo, menilai suhu tinggi menciptakan tekanan lingkungan yang membuat orang cepat kehilangan konsentrasi.
“Panas berlebihan berisiko menyebabkan dehidrasi, kelelahan, menurunkan konsentrasi, dan meningkatkan rasa mudah tersinggung,” kata Suko, Rabu (21/10/2026).
Perubahan kondisi fisik tersebut langsung berdampak pada cara seseorang bersosialisasi. Suko menyebut ketidaknyamanan tubuh akan merusak kendali emosi saat berinteraksi dengan orang lain di ruang publik.
“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi emosi, sementara emosi memengaruhi pilihan kata, nada bicara, dan cara merespons sesama. Kesalahpahaman kecil pun bisa berkembang menjadi pertengkaran,” imbuhnya.
Berdasarkan pantauan BMKG, suhu di Jatim sempat menyentuh angka 38 derajat Celsius pada pertengahan bulan. Panas menyengat ini diprediksi masih melanda sejumlah wilayah hingga 26 Oktober.
Pemanasan ini terjadi akibat minimnya tutupan awan serta posisi semu matahari. Kondisi jalanan bersuhu tinggi akibat aspal dan beton juga membuat keringat sulit menguap, sehingga tubuh terasa makin gerah.
“Bayangkan kemacetan, klakson bersahutan, dan pengendara saling mendahului di tengah terik matahari. Kesabaran mudah diuji, sementara kewaspadaan dapat menurun,” jelas Suko.
Sebagai bentuk mitigasi, akademisi ini meminta warga beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar. Masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih, beristirahat saat lelah, serta menahan diri dari perdebatan saat berkendara.
“Mari lebih sabar, termasuk di rumah, kampus, dan tempat kerja. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan,” tutup Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jatim itu. [ipl/ian]
Link informasi : Sumber