Akses Jualan Ditutup demi City Night Race, Pedagang Kecil Surabaya Kehilangan Penghasilan

0

Surabaya (beritajatim.com) – Puluhan pedagang Sentra Kuliner dan pedagang bunga di kawasan Jembatan Merah, Surabaya, mengaku merugi akibat penutupan akses jalan selama kegiatan City Night Race dalam rangka Piala Polrestabes Surabaya.

Penutupan yang berlangsung sejak Jumat sore hingga Sabtu malam itu membuat aktivitas perdagangan terganggu, bahkan sejumlah pedagang terpaksa membawa pulang dagangan yang telah disiapkan.

Salah satu pedagang di Sentra PKL Jembatan Kota Lama, Kusnan, mengatakan penutupan akses dilakukan tanpa pemberitahuan dan koordinasi dengan para pedagang. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan berjualan selama dua hari, padahal penghasilan dari lapak tersebut menjadi tumpuan hidup keluarga.

“Kami memang sangat keberatan dengan kegiatan itu. Sebab, dua hari perdagangan kami lumpuh, meskipun tidak total-total amat,” ujar Kusnan dalam surat terbukanya kepada Kapolrestabes Surabaya, Sabtu (24/10/2026).

Kusnan menceritakan, akses jalan mulai ditutup pada Jumat sore tanpa penjelasan kepada pedagang mengenai kegiatan yang akan berlangsung. Ketika kembali datang pada Sabtu malam, dia mendapati lokasi berjualan sudah tertutup sehingga aktivitas perdagangan tidak bisa berjalan normal.

“Jumat sore sudah ditutup, kami sendiri heran ada kegiatan apa ini kok ditutup. Akhirnya pada Sabtu malam Minggu, kami datang, lokasinya sudah ditutup. Jadi, tanpa pemberitahuan kepada kita, tanpa koordinasi kepada pedagang,” ungkapnya.

Dampak penutupan tersebut dirasakan langsung oleh pedagang yang sudah menyiapkan barang dagangan untuk dijual. Kusnan menyebut sejumlah pedagang makanan bahkan harus menutup lapak karena lokasi tidak bisa diakses hingga malam hari.

“Ada beberapa pedagang yang tutup total, masak sore tetapi lokasi ditutup sampai malam, akhirnya dibawa pulang. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para pedagang di situ,” katanya.

Menurut Kusnan, terdapat sekitar 20 pedagang yang menggantungkan penghasilan dari lapak di kawasan tersebut. Meski jumlahnya terbatas, usaha mereka menopang kebutuhan puluhan anggota keluarga di rumah masing-masing.

“Memang jumlah kami sedikit, cuma 20 orang yang harus menghidupi puluhan orang di rumah masing-masing. Kami berjualan di situ untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bukan untuk menumpuk kekayaan,” ujarnya.

Kusnan juga menyayangkan kegiatan yang menggunakan akses jalan perdagangan tersebut tidak didahului komunikasi dengan pedagang. Dia berharap penyelenggara mempertimbangkan dampak ekonomi yang harus ditanggung pelaku usaha kecil ketika akses menuju lapak mereka ditutup.

“Tempat kami di depan sudah tertutup untuk tenda, tempat tiket, tempat parkir, dan lain-lain. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para pedagang di situ,” tuturnya.

Pedagang Minta Koordinasi agar Tak Kembali Merugi

Kusnan mengatakan pedagang sebenarnya tidak bermaksud menghalangi kegiatan yang diselenggarakan di kawasan Jembatan Merah. Namun, dia meminta penyelenggara membuka ruang komunikasi agar pedagang mengetahui rencana penutupan dan dapat mengantisipasi kerugian.

Dia mencontohkan kegiatan pengambilan gambar untuk sebuah film nasional yang sebelumnya juga menutup lokasi selama dua hari. Saat itu, menurut dia, pedagang diajak berdiskusi untuk membahas dampak penutupan dan mencari solusi.

“Kemarin juga tempat kita dibuat syuting untuk sebuah film nasional, ditutup untuk dua hari. Tapi kita diajak ngomong, Pak, kita diskusi. Apa solusinya bila ditutup, dan kami masih diorangkan oleh mereka,” katanya.

Kusnan berharap pengalaman merugi akibat penutupan akses dalam kegiatan City Night Race menjadi bahan evaluasi bagi Kapolrestabes Surabaya dan penyelenggara acara lainnya. Dia meminta setiap rencana penutupan jalan yang berdampak pada aktivitas perdagangan dibicarakan terlebih dahulu dengan para pedagang.

“Siapa pun yang akan menutup akses jalan di Jembatan Merah, ajak bicara para pedagang. Itu mata pencaharian kami,” tegasnya.

Bagi Kusnan dan pedagang lainnya, kehilangan waktu berjualan berarti berkurangnya kesempatan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, dia berharap kegiatan serupa pada masa mendatang tidak kembali membuat pedagang kecil menanggung kerugian tanpa adanya koordinasi.

“Kami mohon dengan sangat, siapa pun mereka yang akan menutup akses jalan Jembatan Merah, koordinasilah dengan kami, pedagang cilik. Kami hanya butuh makan, bukan untuk menumpuk kekayaan,” pungkas Kusnan. [asg/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.