Sastra sebagai Ruang Memahami Luka, Buku Sutejo Ponorogo Diganjar Penghargaan Kemendikdasmen

0

Ringkasan Berita:

  • Penulis asal Ponorogo, Sutejo, meraih Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2026 kategori kumpulan esai atau kritik sastra.
  • Penghargaan itu diraih lewat buku Sastra sebagai Simulator Pikiran dan Jiwa setebal 494 halaman.
  • Sutejo memandang puisi dan cerpen sebagai ruang memahami luka batin, meski bukan pengganti penanganan psikologis profesional.
  • Buku tersebut merangkum pergulatan pemikirannya sejak 1989, saat ia masih mahasiswa di Malang.

Ponorogo (beritajatim.com) – Tidak semua luka bisa diceritakan secara langsung. Sebagian pengalaman justru lebih mudah diungkapkan lewat puisi atau tokoh dalam cerita pendek.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu benang merah pemikiran Sutejo dalam buku terbarunya, Sastra sebagai Simulator Pikiran dan Jiwa. Buku itu mengantarkan penulis asal Ponorogo tersebut meraih Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2026 kategori kumpulan esai atau kritik sastra.

Ruang untuk Memahami Luka

Bagi Sutejo, karya sastra bukan sekadar rangkaian kata yang disusun agar indah. Di dalamnya ada ruang bagi manusia untuk memahami pengalaman, emosi, dan pergulatan hidup. Puisi dan cerpen bisa menjadi medium untuk mengungkapkan hal yang sulit disampaikan secara langsung.

“Puisi dan cerpen merupakan ruang memahami luka batin,” kata Sutejo, Selasa (3/11/2026).

Pandangan itu berangkat dari gagasannya tentang sastra sebagai simulator pikiran dan jiwa. Lewat cerita, seseorang bisa belajar menghadapi berbagai persoalan hidup tanpa harus mengalami semuanya secara nyata.

Pengalaman pribadi yang menyakitkan juga bisa diolah menjadi puisi, atau dihidupkan lewat tokoh dalam cerpen. Proses kreatif itu memberi penulis kesempatan melihat kembali hidupnya dari sudut pandang berbeda.

Mengambil Jarak dari Peristiwa

Menurut Sutejo, proses menulis memungkinkan seseorang mengambil jarak dari peristiwa yang pernah membebaninya. Dari jarak itu, pengalaman dan emosi bisa ditinjau ulang dengan lebih jernih. Di situlah sastra berpotensi membantu seseorang memahami kondisi batinnya.

Namun, ia memberi batas yang tegas.

“Sastra memiliki potensi terapeutik, meski bukan pengganti penanganan psikologis profesional,” ungkapnya.

Rekaman Pemikiran 37 Tahun

Pemikiran tentang sastra dan kehidupan itu terangkum dalam buku setebal 494 halaman. Buku tersebut lahir dari pergulatan intelektual yang dimulai sejak 1989, ketika Sutejo masih berstatus mahasiswa di Malang.

Tulisan-tulisan lamanya dikumpulkan, dipilah, lalu diramu dengan kajian tentang perkembangan sastra Indonesia. Hasilnya adalah rekaman pemikiran yang terus tumbuh selama 37 tahun.

Di Ponorogo, Sutejo dikenal sebagai akademisi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Ia juga pernah memimpin kampus tersebut sebagai ketua pada periode 2018–2022.

Bukan Tujuan Akhir

Penghargaan yang diterima saat peringatan Bulan Bahasa dan Sastra di Jakarta itu menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya. Meski begitu, di usia 58 tahun, Sutejo tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan akhir berkarya. Ia justru ingin memanfaatkannya untuk menularkan semangat menulis kepada lebih banyak orang.

Ia berharap penghargaan ini memotivasi pendidik, calon guru, siswa, generasi muda, hingga anak-anak asuhnya untuk terus menekuni dunia kepenulisan.

Semangat itu selama ini ia jalankan lewat Sutejo Spectrum Center (SSC), wadah gerakan literasi yang ia dirikan di Ponorogo. Komunitas ini banyak diisi penulis muda.

Sastra Tak Harus Lahir dari Pusat

Dari ruang sederhana itu, Sutejo terus merawat keyakinannya. Sastra, baginya, tidak harus tumbuh dari pusat kebudayaan besar untuk bisa menjangkau pembaca nasional. Karya dari daerah punya peluang yang sama untuk ikut membentuk wajah sastra Indonesia.

Perjalanan panjangnya juga menjadi bukti bahwa menulis adalah proses yang terus mengasah cara berpikir dan kepekaan terhadap kehidupan.

“Tulisan mengasah pikiran sekaligus kepekaan manusia,” pungkasnya. [end/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.