Pengasuh Ma’had Al-Izzah Batu Susun Buku Muhadatsah Berbasis QR Code untuk Santri
Batu (beritajatim.com) – Muhammad Zulhaq, pengasuh Ma’had Al-Izzah Batu sekaligus mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Negeri Malang (UM), sukses merampungkan buku panduan muhadatsah (percakapan bahasa Arab) berjudul Istamti’ bi Lughatik.
Zulhaq merancang modul pembelajaran interaktif tersebut melalui proses penyusunan selama sepuluh bulan, terhitung sejak pertengahan 2025. Karya ini lahir sebagai luaran dari riset tesis magisternya guna menjawab kendala santri dalam mempraktikkan percakapan bahasa Arab secara kontekstual.
“Gagasan ini berawal dari interaksi rutin bersama santri kelas 10 di sela agenda halaqah. Dari diskusi lepas itu, saya menangkap kebutuhan mendesak akan materi ajar yang lekat dengan realitas keseharian kehidupan pesantren,” ungkap Zulhaq di Batu, Jumat (6/11/2026).
Secara struktur, buku Istamti’ bi Lughatik mengintegrasikan empat instrumen utama, yakni dialog percakapan tematik, glosarium kosakata khusus, ibarah yaumiyah (frasa harian), serta tautan audio interaktif berbasis Kode Respons Cepat (QR Code).
Fasilitas audio digital ini memungkinkan para santri menyimak intonasi pelafalan penutur asli secara mandiri tanpa terbatas dinding ruang kelas.
“Penyusunan modul ini tidak sekadar menyusun teori di atas meja. Kami menggelar uji coba pengajaran malam berkala untuk mengevaluasi sekaligus membedah kelayakan setiap topik bersama santri,” jelasnya.
Perkuat Ekosistem Lingkungan Berbahasa di Pesantren
Efektivitas pendekatan ini dirasakan langsung oleh warga asrama. Vio, santri Ma’had Al-Izzah kelas 11, menuturkan bahwa formula materi yang disajikan sangat fleksibel untuk diterapkan dalam rutinitas harian pondok.
“Topik-topik di dalamnya sangat dekat dengan aktivitas harian kami di asrama, sehingga kami tidak canggung saat mempraktikkannya secara langsung,” ujar Vio.
Melalui kehadiran karya ini, Zulhaq berharap pemanfaatan bahasa Arab di lingkungan pesantren tidak lagi terbatas pada pemenuhan target kurikulum kelas formal semata.
“Target utama saya adalah penguatan ekosistem lingkungan berbahasa (bi’ah lughawiyah) yang hidup dan berkesinambungan di seluruh kawasan pondok pesantren,” pungkas Zulhaq. [dan/but]
Link informasi : Sumber