Dokter AHCC Ingatkan Orang Tua Waspadai Gejala Awal Tumor Otak pada Anak

0

Surabaya (beritajatim.com) – Adi Husada Cancer Center (AHCC) meminta orang tua lebih peka terhadap gejala tumor otak pada anak. Pesan ini disampaikan dalam Surabaya Symposium of Oncology (SYMPONY) 2026, Sabtu (7/11/2026).

Simposium bertaraf nasional ini membahas penanganan kanker secara multidisiplin. Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi AHCC, dr. I Dewa Ayu Agung Shinta Kamaya, Sp.A(K), memaparkan bahaya penyakit glioma tersebut.

“Anak-anak ini beda sama dewasa. Kalau dewasa kan dia bisa bilang, ‘Aku pusing,’ gitu ya. Tapi anak-anak kecil harus dilihat, apakah satu, ada nyeri kepala gitu ya, dan nyeri kepala ini persisten,” kata dr. Shinta.

Rasa sakit kepala yang menetap sangat berbahaya bagi anak usia di bawah empat tahun. Dokter Shinta menyebut keluarga juga wajib memantau kondisi penglihatan serta tanda tekanan intrakranial.

“Contohnya dia muntah, terus nyeri kepala hebat, terus kemudian kejang, atau misalnya ada kelemahan di salah satu atau di beberapa bagian tubuh. Itu hati-hati,” tutur dr. Shinta.

Tumor otak juga bisa memengaruhi kemampuan akademis anak sekolah. Dokter Shinta menegaskan kemunduran tumbuh kembang maupun penurunan prestasi belajar secara tiba-tiba wajib mendapatkan pemeriksaan medis lanjutan.

“Ini perkembangan sudah sampai sini nih, tapi habis itu ternyata mundur perkembangannya, tumbuh kembangnya. Itu harus dipikirkan ada apa nih, gitu kan,” ucap dr. Shinta.

Banyak kalangan sering mengaitkan penyakit ini dengan konsumsi makanan atau gaya hidup. Dokter Shinta meluruskan bahwa penyebab dasar kanker pada anak selalu berkaitan dengan faktor genetik.

“Faktor risiko itu banyak, tapi semua itu akan mengerucut pada intinya adalah genetik gitu, ya. Jadi dia ada sesuatu di gen-nya yang dia bawa sehingga dia bisa mengizinkan si sel kanker ini tumbuh,” terang dr. Shinta.

Kasus tumor otak anak ini sengaja dibahas karena tingginya temuan di masyarakat. General Manager AHCC Surabaya, dr. Silvia Haniwijaya Tjokro, M.Kes, membenarkan fenomena tersebut saat membeberkan agenda hari jadi kesembilan kliniknya.

“Kebetulan kita combine dengan anak karena memang ternyata tumor glioma pada anak itu lebih tinggi kasusnya daripada dewasa. Gitu, jadi saling lah, kita saling mensinergikan,” jelas dr. Silvia.

Penanganan tumor memerlukan kerja sama banyak pakar medis. Agenda ilmiah ini menjadi ruang bagi para ahli untuk berbagi ilmu agar pasien memperoleh perawatan lintas disiplin secara cepat. [ipl/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.