PKB Jember Lakukan Pertobatan Politik, Tengok Akar Islam dan Sosialisme
Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa melakukan pertobatan politik. Kembali menengok akar ideologis Islam dan sosialisme yang dicetuskan Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati menjadi relevan untuk menegaskan arah perjuangan partai.
HOS Tjokroaminoto dikenal sebagai guru ideologi paea bapak bangsa. Rumahnya menjadi tempat indekos sejumlah anak muda yang kelak menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan lintas ideologi, mulai dari Semaun, Alimin, Musso yang komunis, Sukarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang Islamis. Tjokro sendiri memadukan Islam dan Sosialisme dan menuliskannya dalam sebuah buku.
Sementara itu Ali Syari’ati adalah pemikir revolusioner Islam asal Iran. Karya-karyanya mengilhami perlawanan rakyat Iran terhadap penindasan yang dilakukan rezim Shah Iran.
PKB membahas pemikiran keduanya dalam sebuah diskusi di Cafe CusCuss, Jalan Semeru, Minggu (8/11/2026). “Sebagai partai, atas arahan dari Ketua Umum kita Gus Muhaimin Iskandar, kita harus melakukan taubatan politik karena situasi kondisi zaman seperti ini. Apakah ini yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa kita,” kata Ayub Junaidi, Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Selama ini pemikiran intelektual yang mengaitkan Islam dan sosialisme selama puluhan tahun jarang dibicarakan di muka publik. “Kalau kita ngomong Islam seakan-akan kita menjadi ekstrem kanan, seakan-akan menjadi teroris dan sebagainya,” kata Ayub.
Padahal, Islam memiliki tawaran solusi atas persoalan bangsa. Ayub berharap diskusi yang dihadiiri anak-anak muda dan pelajar tersebut bisa menjadi awal yang mencerahkan dan bisa dirumuskan bersama menjadi perjuangan PKB.
Rijal Mumazziq, Rektor Uniiversitas Al-Falah As-Sunniyah yang menjadi narasumber diskusi, mengaku kaget dengan pendekatan PKB. “Wah gila ini, anak-anak pelajar mulai diperkenalkan dengan gagasan-gagasan pemikiran founding fathers. Ini salah satu terobosan,” katanya.
Rijal mengingatkan, bahwa PKB tidak pernah terpisah dari gagasan-gagasan ideologis keislaman nasional. “Kiai Haji Raden Asnawi.adalah salah satu muasis NU sekaligus penasihat Sarikat Islam, sebuah organisasi yang dikembangkan Haji Oemar Said Tjokroaminoto,” katanya.
Ketika berada di Mekah, Arab Saudi, Asnawi juga menjadi penasihat SI bersama salah satu sekretarisnya, KH Abdul Wahab Hasbullah yang juga tokoh kunci berdirinya NU pada 1926.
“Kesimpulannya, SI maupun Nahdatul Ulama yang kemudian melahirkan PKB ini tunggal guru sanad. Makanya ketika hari ini memperbincangkan tema sosialisme Islam saya tidak heran,” kata Rijal.
“Mungkin ada yang berserak dan kemudian coba dihimpun, hari ini dipopulerkan khususnya bagi generasi muda, sehingga anak-anak muda sekarang tidak lagi abai terhadap politik, memiliki kepedulian terhadap politik, sekaligus juga memikirkan nasib bangsa Indonesia,” kata Rijal.
Sementara itu narasumber lainnya, Muhammad Iqbal, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, bersyukur PKB membuka ruang diskusi sosialisme dan Islam.
“Hanya di partai yang waras, diskusi di terik panas, bersama kopi panas, menjadi sebuah obrolan cerdas yang diharapkan menjadi langkah gerak bagi kader-kader partai untuk mendapatkan dan merebut kursi. Yang penting berkah untuk menjalin hablum minannas,” katanya.
Iqbal ingin para kader dan simpatisan PKB bisa menjadi lilin yang menerangi kegelapan sebagaimana diharapkan Ali Syari’ati, pemikir Islam asal Iran. “Di gulitanya kegelapan, jadilah cahaya meskipun sebentuk lilin tetapi punya daya terang untuk menjadi penunjuk jalan menegakkan kebenaran dan keadilan. Certainly, itu bahasanya Ali Syari’ati,” katanya. [wir/ian]
Link informasi : Sumber