IHSG Menguat 7,38 Persen, Asing Kembali Net Buy, Ini Rekomendasi Saham IPOT Pekan Ini
Ringkasan Berita:
- IHSG ditutup menguat 7,38 persen ke level 6.007 pada perdagangan Jumat (12/6/2026).
- Penguatan ditopang sentimen global, kebijakan Bank Indonesia, dan mulai masuknya dana investor asing.
- Investor pekan ini mencermati data ekonomi China dan keputusan suku bunga Bank of Japan.
- IPOT merekomendasikan saham TPIA, MNCN, MAPI, serta obligasi pemerintah FR0091.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (12/6/2026), di zona hijau pada level 6.007 atau menguat 7,38 persen. Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah pada pekan sebelumnya, 5 Juni 2026, IHSG sempat melemah hingga 8,69 persen.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, mengatakan IHSG sempat bergerak melemah pada awal pekan. Namun, indeks berhasil berbalik menguat berkat kombinasi sentimen positif dari faktor global maupun domestik.
Dari sisi global, pasar merespons rilis inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 4,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 3,8 persen. Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi.
“Meskipun inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga oleh The Fed, pasar relatif merespons data tersebut secara positif,” jelas Imam.
Pasar juga mencermati revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh World Bank. Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen.
Meski demikian, kekhawatiran pasar mulai mereda setelah muncul pembahasan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup pencabutan sanksi ekspor minyak Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.
“Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga energi,” ujar Imam.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi 144,9 miliar dolar AS dari sebelumnya 146,2 miliar dolar AS. Meski menurun, posisi tersebut masih sangat kuat karena setara dengan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Sentimen domestik lainnya datang dari keputusan Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredam tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.
Pasar juga menyambut positif klarifikasi Danantara terkait implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Danantara menegaskan DSI tidak akan bertindak sebagai trading house maupun mengambil margin perdagangan sehingga mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap arus kas dan ekspor komoditas nasional.
Secara sektoral, data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil nasional pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit atau tumbuh 14 persen secara tahunan. Secara kumulatif, penjualan Januari-Mei 2026 meningkat 12,8 persen menjadi 359.015 unit.
Sebaliknya, penjualan ritel pada April 2026 mengalami kontraksi 3,7 persen secara tahunan setelah bulan sebelumnya masih tumbuh 3,4 persen.
Menariknya, investor asing mulai kembali mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp287,4 miliar pada akhir pekan lalu. Meski demikian, Imam mengingatkan angka tersebut belum cukup menjadi sinyal bahwa arus dana asing akan kembali masuk secara konsisten ataupun menandai dimulainya fase rebound IHSG.
Pada pekan perdagangan yang berlangsung selama empat hari karena libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi global.
Fokus pertama adalah rilis data Industrial Production China yang menjadi indikator pemulihan aktivitas manufaktur negara tersebut. Data ini penting karena China merupakan mitra dagang terbesar sekaligus tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.
Investor juga akan memperhatikan keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan naik 25 basis poin menjadi 1 persen dari sebelumnya 0,75 persen, disertai rilis data inflasi Jepang.
Jika BoJ kembali mengeluarkan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, investor berpotensi menutup posisi carry trade sehingga dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, Imam menilai IHSG masih berada dalam tren turun karena struktur pergerakan indeks masih membentuk pola lower low dan lower high. Namun, tekanan jual mulai berpotensi mereda karena penurunan yang terjadi diperkirakan telah menyelesaikan lima gelombang (impulsive wave).
“Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” kata Imam.
Ia menambahkan, dua candlestick terakhir menunjukkan momentum penguatan mulai melemah. Setelah muncul pola spinning top, perdagangan berikutnya membentuk shooting star sehingga pasar masih menunggu konfirmasi arah selanjutnya.
“Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” terang Imam.
Rekomendasi Saham IPOT Pekan Ini
Merespons kondisi pasar, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan obligasi yang dinilai menarik untuk dicermati investor.
1. Buy on Pullback TPIA
- Entry: 1.715–1.790
- Target Price: 2.070
- Stop Loss: di bawah 1.680
TPIA dinilai menarik setelah SCG Chemicals (SCGC) melakukan shareholding rebalancing yang meningkatkan porsi saham publik menjadi sekitar 25,7 persen. Langkah ini diperkirakan meningkatkan likuiditas perdagangan dan menarik minat investor institusi global.
2. Buy MNCN
- Entry: 214
- Target Price: 230
- Stop Loss: di bawah 206
Secara teknikal, MNCN mulai bergerak sideways dengan potensi pembalikan arah setelah membentuk pola double bottom dan bullish harami di area MA50.
3. Buy on Breakout MAPI
- Entry: 1.525
- Target Price: 1.645
- Stop Loss: di bawah 1.465
MAPI mendapat sentimen positif setelah Pacific Universal Investments Pte. Ltd. resmi mengakuisisi 51 persen saham perseroan dengan nilai transaksi mencapai Rp11,8 triliun.
4. Buy Obligasi FR0091
- Kupon: 6,5 persen
- Yield: 7,35 persen
- Estimasi harga: 95,45
IPOT menilai obligasi pemerintah kembali menarik dikoleksi karena kenaikan yield membuat valuasi lebih murah. Stabilnya rupiah setelah kenaikan BI Rate serta meredanya tensi geopolitik diperkirakan membuka peluang capital gain ketika yield kembali menurun. [beq]
Link informasi : Sumber