Ritual 1 Suro Sri Aji Jayabaya Kediri Dihadiri Wisatawan Prancis, Antusiasme Meningkat

0

Ringkasan Berita

  • Ritual 1 Suro digelar di Petilasan Sri Aji Jayabaya, Kediri.
  • Tradisi tahunan ini telah berlangsung sejak tahun 1972.
  • Sebanyak 15 wisatawan asal Prancis turut menyaksikan prosesi budaya.
  • Kirab tahun ini diperpanjang hingga Sendang Tirta Kamandanu.

Kediri (beritajatim.com) – Ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, berlangsung khidmat pada Selasa (16/6/2026). Tradisi tahunan yang telah digelar sejak 1972 itu kembali menarik ribuan perhatian masyarakat, pegiat budaya, hingga wisatawan mancanegara yang datang untuk menyaksikan prosesi sakral pergantian Tahun Baru Jawa.

Tahun ini, rangkaian ritual berlangsung lebih panjang dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Selain dipusatkan di Petilasan Sri Aji Jayabaya, kirab budaya juga dilanjutkan hingga Sendang Tirta Kamandanu yang memiliki keterkaitan erat dengan kisah spiritual Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.

Mengenang Jasa dan Warisan Sri Aji Jayabaya

Ketua Panitia Satu Suro, Hartono, menjelaskan bahwa ritual tersebut digelar untuk memperingati pergantian Tahun Baru Jawa sekaligus mengenang jasa-jasa Sri Aji Jayabaya yang dikenal luas melalui karya ramalannya, Jangka Jayabaya.

“Tujuan diadakannya upacara peringatan ritual 1 suro ini untuk memperingati pergantian tahun baru Jawa dan sekaligus untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya yang terkenal dengan karyanya yaitu ramalan atau Jangka Jayabaya,” katanya.

Menurut Hartono, terdapat perbedaan pelaksanaan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu prosesi hanya berlangsung dari Balai Desa Menang menuju Pamoksan Sri Aji Jayabaya, tahun ini rangkaian ritual diperluas hingga Sendang Tirta Kamandanu karena bertepatan dengan Selasa Wage.

“Kalau kemarin kan pada hari Jumat. Jadi upacaranya cuma dari Balai Desa menuju Pamoksan. Kalau hari ini kan hari Selasa Wage, jadi di Sendang juga diadakan,” jelasnya.

Diawali Tari Gambyong dan Kirab Pusaka

Rangkaian acara dimulai dari halaman Balai Desa Menang dengan penampilan Tari Gambyong sebagai bentuk penyambutan tamu dan peserta ritual.

Setelah itu dilakukan prosesi serah terima tongkat pusaka Kyai Bima dari Yayasan Hondo Dento kepada pelaku upacara. Tongkat pusaka tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam kirab budaya menuju kawasan Pamoksan Sri Aji Jayabaya.

Ratusan peserta berjalan kaki mengikuti kirab dengan suasana yang penuh khidmat. Setibanya di Pamoksan, sejumlah prosesi adat langsung dilaksanakan.

Prosesi Sakral di Pamoksan Sri Aji Jayabaya

Di kawasan Pamoksan Sri Aji Jayabaya, ritual diawali dengan caos dhahar yang dipimpin juru kunci. Selanjutnya dilakukan peletakan tongkat pusaka Kyai Bima, pembacaan naskah Munjul Atur, hingga prosesi tabur bunga.

Prosesi tabur bunga dilakukan oleh 16 remaja putri yang dipilih secara khusus sesuai ketentuan adat yang berlaku.

“Karena 16 itu kan gadis di bawah usia 16 tahun ke bawah yang masih suci belum pernah M,” terang Hartono.

Rangkaian ritual tersebut menjadi simbol penghormatan kepada Sri Aji Jayabaya sekaligus bagian dari pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dilanjutkan ke Sendang Tirta Kamandanu

Usai prosesi di Pamoksan, peserta kembali melanjutkan kirab menuju Sendang Tirta Kamandanu.

Dalam tradisi masyarakat setempat, lokasi tersebut dipercaya sebagai tempat Sang Prabu Sri Aji Jayabaya melakukan penyucian diri atau melukat sebelum mencapai moksa.

“Kalau di Pamoksan Sri Aji Jayabaya itu kan tempat moksanya Prabu Sri Aji Jayabaya. Kalau untuk di Sendang Tirta Kamandanu ini kan tempat melukat atau bersuci Prabu Sri Aji Jayabaya sebelum melakukan moksa,” ujarnya.

Keberadaan dua situs tersebut menjadikan rangkaian ritual memiliki makna historis dan spiritual yang saling berkaitan.

Wisatawan Prancis Turut Menyaksikan Tradisi Suro

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam pelaksanaan tahun ini adalah kehadiran wisatawan mancanegara.

Sebanyak 15 wisatawan asal Prancis tampak mengikuti dan menyaksikan jalannya prosesi budaya dari awal hingga akhir. Kehadiran mereka menambah warna tersendiri dalam peringatan Satu Suro di Kediri.

Hartono menyebut kehadiran wisatawan asing bukan kali pertama terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, ritual ini secara rutin menarik minat wisatawan dari luar negeri yang ingin mengenal lebih dekat budaya dan tradisi Jawa.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ritual Satu Suro tidak hanya memiliki nilai spiritual bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mulai dikenal secara internasional.

Antusiasme Masyarakat Meningkat

Panitia mencatat jumlah peserta dan pengunjung tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain sekitar 130 peserta inti dari Desa Menang, kirab juga diikuti berbagai paguyuban budaya, komunitas pecinta sejarah, kelompok spiritual, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah.

“Untuk animo pengunjung kalau saya lihat lebih banyak tahun ini. Karena tahun ini kan tidak malam satu suronya kan tidak hari Jumat,” ujar Hartono.

Meningkatnya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tradisi Satu Suro masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat modern.

Rangkaian Bulan Suro Masih Berlanjut

Perayaan Bulan Suro di Desa Menang tidak berhenti pada ritual 1 Suro. Panitia telah menyiapkan sejumlah agenda budaya lanjutan yang akan berlangsung sepanjang bulan.

Salah satunya adalah pagelaran kesenian jaranan yang akan digelar pada 10 Suro di kawasan Sendang Tirta Kamandanu. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisional yang hidup di tengah masyarakat.

Menjelang akhir Bulan Suro, masyarakat kembali akan disuguhkan pertunjukan jaranan sebagai penutup rangkaian tradisi tahunan tersebut.

Hartono berharap kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade ini terus menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memperkuat nilai spiritual masyarakat.

“Semoga dengan diadakannya kegiatan upacara ini, eh kita semua mendapatkan berkah dan mendapatkan apa ya, petunjuk pertolongan dari Tuhan Sang Pencipta,” pungkasnya. [nm/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.