Dari Goresan Kuas, Cak Luk Menghidupkan Jejak Para Pendiri NU Menyambut Muktamar di Jombang

0

Ringkasan Berita:

  • Seniman asal Diwek, Jombang, Lukman Hakim atau Cak Luk, membuat karya lukis bertema muassis NU sebagai bentuk penghormatan menjelang Muktamar NU ke-35. Salah satu karya terbesarnya menampilkan 15 tokoh pendiri NU yang kini masih dalam proses pengerjaan.
  • Melalui kanvas dan warna, Cak Luk menghadirkan kembali sosok ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari, Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan KH Ridwan Abdullah sebagai simbol perjuangan NU.
  • Selain lukisan berukuran besar, Cak Luk telah membuat sejumlah karya kecil bertema tokoh NU. Ia berharap karyanya dapat ditampilkan dalam pameran atau lelang sebagai bagian dari rangkaian Muktamar NU ke-35 di Jombang.

Jombang (beritajatim.com) – Lukman Hakim berdiri diam di hadapan kanvas besar yang terbentang di ruang kerjanya. Di tangan kanannya, sebuah kuas masih basah oleh warna cat. Perlahan, ia menggerakkan kuas itu, meninggalkan jejak-jejak warna yang pada awalnya tampak tanpa bentuk.

Namun bagi Lukman, setiap goresan memiliki makna. Satu demi satu sapuan kuas ia tambahkan hingga perlahan muncul sebuah gambaran yang penuh penghormatan: barisan para kiai yang menjadi tonggak sejarah Nahdlatul Ulama (NU).

Di atas kanvas itu, wajah-wajah para muassis (pendiri) NU mulai menemukan bentuknya. Ada sosok Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Abd Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, hingga KH Ridwan Abdullah. Mereka bukan sekadar objek lukisan, melainkan simbol perjuangan, ilmu, dan keteladanan yang ingin ia abadikan melalui seni.

Bagi Lukman Hakim—atau yang akrab disapa Cak Luk—melukis para pendiri NU adalah caranya menyampaikan rasa hormat. Seniman asal Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang itu ingin memberikan persembahan menjelang momentum besar, yakni Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, pada 27 hingga 31 Agustus 2026.

“Beberapa waktu terakhir ini, saya membuat sejumlah lukisan tentang muassis atau pendiri NU. Beberapa di antaranya bahkan telah terjual,” ujar Cak Luk saat ditemui di studio lukisnya, Sabrang Art, Dusun Tanggungan, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Sabtu (1/8/2026).

Saat ini, salah satu karya terbesarnya masih dalam proses pengerjaan. Lukisan berukuran besar itu akan menampilkan 15 tokoh muassis NU. Di dalamnya terdapat para ulama besar yang menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Karya itu kini telah mencapai sekitar 60 persen pengerjaan. Setiap detail wajah, ekspresi, dan karakter para tokoh dikerjakan dengan penuh ketelitian. Bukan sekadar mengejar kemiripan rupa, Cak Luk ingin menghadirkan ruh perjuangan para kiai melalui goresan kuasnya.

Menurutnya, karya-karya tersebut merupakan bentuk respons seorang seniman terhadap rencana digelarnya Muktamar NU ke-35 di tanah kelahiran banyak ulama besar itu. Sebagai warga Jombang dan bagian dari masyarakat yang antusias menyambut hajatan besar NU, ia ingin ikut mengambil peran dengan kemampuan yang dimilikinya. “Selama ada muktamar, akan saya proses melukis tokoh-tokoh NU,” ungkapnya.

Foto BeritaJatim.com
Hasil karya Cak Luk tentang tokoh-tokoh NU

Tak hanya membuat satu karya besar, Cak Luk juga mengerjakan sejumlah lukisan berukuran lebih kecil. Salah satunya adalah lukisan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Hingga kini, setidaknya sudah ada delapan karya bertema muassis NU yang telah ia buat, dan jumlahnya masih akan terus bertambah.

Baginya, setiap lukisan adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar perjuangan NU. Melalui warna dan kanvas, ia berusaha menjaga ingatan generasi mendatang terhadap sosok-sosok yang telah memberikan warisan besar bagi bangsa.

Menjelang Muktamar NU ke-35, Cak Luk berharap karya-karyanya dapat menjadi bagian dari perhelatan tersebut. Ia membuka peluang adanya kerja sama dengan panitia muktamar, baik dalam bentuk pameran maupun lelang karya seni. “Entah dalam bentuk pameran atau lelang (lukisan),” harapnya.

Dari sebuah goresan yang awalnya tak berbentuk, lahirlah wajah-wajah sejarah. Di tangan Cak Luk, kuas bukan hanya alat melukis, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengenang jasa para ulama yang telah menanamkan nilai perjuangan dan keteladanan bagi umat. [suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.