Menapaki Jejak Khalifah Abu Bakar As-Siddiq di Dekat Masjid Nabawi
Madinah (beritajatim.com) – Bagi jutaan jemaah yang memadati Masjid Nabawi di Madinah, kemegahan kubah hijau dan payung-payung raksasa kerap menjadi pusat perhatian utama.
Namun, jika Anda melangkah sedikit ke luar pagar pintu 310 halaman barat daya Masjid Nabawi, Anda akan menemukan sebuah situs bersejarah yang menyimpan kisah mendalam tentang persahabatan, kesetiaan, dan fondasi awal Islam. Tempat itu adalah Masjid Abu Bakar As-Siddiq.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) melakukan penyusuran langsung masuk ke dalam Masjid Abu Bakar As-Siddiq. Meski ukurannya tidak besar, masjid ini memancarkan daya tarik spiritual dan arsitektur yang sangat unik di tengah modernisasi Kota Suci.
Tempat Salat Id sang Khalifah
Mengapa dinamakan Masjid Abu Bakar? Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, situs ini bukan sekadar monumen penghormatan biasa. Berdasarkan catatan sejarah, lokasi berdirinya masjid ini adalah tempat di mana Khalifah pertama Islam, Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu, sering memimpin ibadah salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) semasa beliau menjabat sebagai khalifah, menggantikan tradisi yang sebelumnya dilakukan oleh Rasulullah SAW di area lapang (mushalla) sekitar wilayah tersebut.
Bahkan, beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa di area sinilah salah satu tempat Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan salat Id dan salat Istisqa (meminta hujan).
Harmoni Gaya Ottoman dan Batu Basalt Hitam
Jika Anda berkunjung ke sana hari ini, Anda akan disuguhi pemandangan arsitektur yang sangat kontras namun indah jika dibandingkan dengan perluasan modern Masjid Nabawi.
Bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil renovasi besar-besaran pada masa kekhalifahan Ottoman (Usmani), khususnya di era Sultan Mahmud II pada abad ke-13 Hijriah (abad ke-19 Masehi), dan sempat diperbarui lagi pada masa Raja Fahd.
Dinding luar masjid ini dibangun menggunakan batu basalt hitam lokal Madinah, menciptakan nuansa kokoh, klasik, dan bersahaja.
Bagian atas dinding dihiasi dengan lapisan plester putih bersih, berpadu sempurna dengan kubah tunggal besar yang menaungi ruang utama salat.
Di sudut timur laut berdiri sebuah menara (minaret) kecil dengan gaya arsitektur khas Ottoman yang meruncing ke atas, menambah keanggunan struktur bangunan ini.
Menengok ke Dalam Ruang Utama
Melangkah ke bagian dalam, Anda akan merasakan atmosfer yang tenang dan intim. Berbeda dengan Masjid Nabawi yang luas tanpa batas, ruang dalam Masjid Abu Bakar dirancang kompak dengan dimensi sekitar 12.5×9 meter.
Dinding bagian dalam dilapisi plester putih dengan dekorasi kaligrafi yang halus. Cahaya alami masuk melalui jendela-jendela melengkung yang berada di bawah kubah, memberikan pencahayaan yang syahdu dan menenangkan bagi siapa saja yang merenung di dalamnya.
Bagian dari “Kluster” Masjid Bersejarah: Masjid Abu Bakar tidak berdiri sendiri. Ia berada di kawasan yang sama dengan beberapa masjid kecil bersejarah lainnya, seperti Masjid Ali bin Abi Thalib dan Masjid Ghamamah. Dahulu, kawasan ini adalah tanah lapang di pinggir kota Madinah lama.
Demi menjaga kelestarian struktur bangunan yang sangat tua dan karena lokasinya yang sudah sangat dekat dengan perluasan halaman Masjid Nabawi, masjid ini umumnya tidak dibuka untuk aktivitas salat lima waktu harian secara umum, melainkan dijaga sebagai situs warisan sejarah (heritage site) yang dilindungi oleh pemerintah Arab Saudi.
Bagi para pencinta fotografi dan sejarah, sudut di sekitar Masjid Abu Bakar menawarkan kontras visual yang luar biasa—perpaduan antara arsitektur batu hitam klasik Ottoman dengan latar belakang payung raksasa dan menara modern Masjid Nabawi.
Mengapa Anda Harus Mengunjunginya?
Saat Anda berada di Madinah, meluangkan waktu beberapa menit untuk berjalan ke arah barat daya pelataran Nabawi dan berdiri di depan Masjid Abu Bakar akan memberikan perspektif baru.
Tempat ini adalah pengingat fisik tentang bagaimana generasi terbaik Islam dahulu beraktivitas. Di sinilah sang As-Siddiq, sahabat terdekat Nabi, berdiri memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah.
Menyaksikan masjid ini tegak berdiri di tengah kepungan arsitektur modern adalah sebuah perjalanan melintasi waktu yang akan memperkaya pengalaman spiritual ziarah Anda di Kota Nabi. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber