BPBD Surabaya Beberkan Hasil Analisa Banjir Hari Senin, Waspadai 28-30 Juni 2026
Surabaya (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya telah memetakan hasil analisis penyebab banjir dadakan yang melanda 17 titik di wilayahnya pada Senin pagi (22/6/2026).
Berdasarkan kajian mendalam yang dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor alam.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menyatakan bahwa faktor dominan penyebab banjir hari ini adalah akibat fenomena cuaca yang signifikan.
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan awan Cumulonimbus telah memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Surabaya pagi tadi.
“Kejadian banjir di wilayah Kota Surabaya pada hari Senin disebabkan oleh tanda-tanda fenomena pertumbuhan awan Cumulonimbus yang signifikan dan menghasilkan hujan sedang hingga lebat di wilayah Surabaya,” ujar Irvan dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Irvan menjelaskan, meskipun saat ini Surabaya telah memasuki musim kemarau, kemunculan fenomena atmosfer labil dan pertumbuhan awan tersebut tetap berpotensi menghasilkan hujan lokal yang cukup ekstrem.
Selain faktor cuaca, Irvan merinci adanya kendala teknis pada sistem drainase akibat fenomena backwater effect atau arus balik air di hilir yang terhambat pasang laut.
Kondisi pasang laut yang terjadi bersamaan dengan hujan hari ini semakin memperlambat proses pembuangan air ke laut.
“Efek backwater pada sistem drainase Kota Surabaya memperbesar risiko genangan, terutama apabila bertepatan dengan hujan intensitas sedang hingga tinggi,” paparnya.
Namun, ia menekankan bahwa genangan yang terjadi hari ini bukan hanya disebabkan oleh pasang laut ekstrem, melainkan kombinasi dari tiga peristiwa, yakni hujan lebat, backwater effect, serta kiriman debit air dari hulu.
“Dengan kata lain, pasang laut pada 22 Juni 2026 berpotensi memperlambat pembuangan air, walaupun dari grafik tidak menunjukkan kondisi pasang maksimum yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Terkait kondisi ke depan, BMKG Maritim telah memprediksi adanya peningkatan bertahap tinggi muka air laut antara 1,0 meter hingga 1,4 meter pada periode 26–30 Juni 2026.
Pihak BPBD pun menetapkan periode 28–30 Juni 2026 sebagai waktu yang memerlukan kewaspadaan tertinggi karena pasang laut diprediksi mencapai nilai maksimum.
“Secara rinci, puncak pasang diprediksi terjadi pada 28 Juni sebesar +1,2 meter, 29 Juni sebesar +1,3 meter, dan mencapai puncaknya pada 30 Juni sebesar +1,4 meter,” jelasnya.
Oleh karena itu, Irvan mengingatkan warga bahwa risiko genangan pada tanggal-tanggal tersebut akan jauh lebih besar dibandingkan dengan kondisi pada 22 Juni, terutama jika hujan lebat terjadi tepat saat puncak pasang.
“Apabila pada hari-hari tersebut terjadi hujan sedang hingga lebat bersamaan dengan jam pasang puncak, maka peluang genangan akan lebih besar dibandingkan tanggal 22 Juni 2026,” pungkasnya. (rma/kun)
Link informasi : Sumber