Dosen Unair: Bung Karno Tidak Pernah Memaki ‘Hei Antek-Antek Asing’
Jember (beritajatim.com) – Komitmen kerakyatan Presiden Sukarno melahirkan gagasan dan ideologi bernama Marhaenisme. Dia mengajak masyarakat Indonesia untuk mewaspadai kapitalisme dan imperialisme asing tanpa harus memaki bangsa sendiri saat berpidato.
“Bung Karno tidak semata-mata menyatakan bahwa ‘saya memiliki kecintaan kepada bangsa ini’ atau memaki-maki ‘hei antek-antek asing’ kepada rakyatnya,” kata Airlangga Pribadi Kusman, dosen Universitas Airlangga Surabaya, dalam acara bedah buku ‘Marhaenisme; Dalil Baru untuk Gen Z’, di kantor Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (29/6/2026) malam.
Menurut Airlangga yang menulis buku tersebut, Bung Karno bicara dengan lantang tentang persoalan konflik dan kehidupan nyata yang dihadapi rakyat. Bersama para aktivis kemerdekaan lainnya, Bung Karno mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk menyelesaikan persoalan bangsa.
Bung Karno memilih untuk merdeka lebih dulu sebelum menyelesaikan semua persoalan. “Kita merdeka dulu, karena kita enggak punya negara, kita enggak punya otoritas politik yang mengurusi kehidupan rakyatnya,” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini.
Namun, lanjut Airlangga, 81 tahun setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia masih menghadapi problem yang sama namun dengan yang dihadapi Bung Karno pada saat itu, namun dengan bentuk yang berbeda.
Airlangga mencontohkan tukang ojek daring (ojol) yang bekerja dengan alat produksi sendiri, yakni sepeda motor dan ponsel. “Tapi dia berada dalam kondisi tidak pasti. Besok enggak tahu apakah masih bisa mencari bekal hidup untuk makan,” katanya.
Apa yang dihadapi kelas pekerja di Indonesia ini sebenarnya sama dengan kondisi kaum Marhaen yang sepanjang hayat diperjuangkan Sukarno. “Bung Karno mau bilang dalam marhaen, itu realitas kondisi manusia yang tidak bisa memiliki kontrol terhadap kerja yang dilakukan, karena problem-problem atau hambatan struktural,” kata Airlangga.
Ketika ada problem tersebut, Bung Karno bicara tentang apa yang harus diperjuangkan, harus dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk bisa melampaui semua itu. “Kemudian muncul tesis yang seringkali kita serukan dengan lantang: merdeka!” kata Airlangga.
Merdeka dalam hal ini adalah berdiri di atas kaki sendiri. “Kedua, kita memiliki kontrol terhadap kerja yang kita lakukan. Kita memiliki kontrol terhadap segala aktivitas yang kita lakukan untuk mencari bekal hidup. Dan setelah kita bekerja, kita bisa mengatasi masalah kita,” kata Airlangga.
Saat ini rakyat sudah hidup dan tinggal dalam sebuah negara republik. “Tapi republiknya adalah republik yang mengambang. Republik yang tidak berdasarkan kehendak dari rakyat,” kata Airlangga.
“Bung Karno bilang, bahwa negara adalah berdasarkan kedaulatan rakyat, bersumber dari kehendak rakyat. Negara itu perkakasnya rakyat. Rakyat itu adalah tuan,” kata Airlangga.
Dalam demokrasi, ada ruang bagi hak rakyat untuk memperjuangkan hidup bersama. “Tapi ini menjadi republik mengambang. Kalau dalam buku saya sudah bilang, ini Republik Omon-Omon,” kata Airlangga.
Ailangga berani menyebut pemerintahan Indonesia saat ini sebagai ;republik omon-omon’, karena kebijakan yang dikeluarkan tidak terhubung dengan kehendak rakyat walau secara normatif bertujuan baik.
Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini lantas mengibaratkan tujuan baik itu dengan taman teratai yang hendak dibangun oleh seorang tukang kebun. Menjadi persoalan, du taman teratai tadi ada semak belukar yang ternyata tempat penangkaran buaya,” katanya.
Kebijakan model begitu yang disebut Airlangga sebagai kebijakan kapitalisme negara predator atau predatoric state capitalism. :Karena belum-belum, kebijakan-kebijakan tersebut menjadi sasaran pemangsa. Uang atau anggaran itu diambil untuk kepentingan orang-orang ini saja, elit-elit saja,” kata Airlangga.
Orang-orang itu yang dimaksud sebagai kaum oligarki. “Mereka hanya berbicara tentang profit, tentang laba, tentang keuntungan, persis seperti kaum penjajah. Dan siapa yang harus menanggung semua itu? Yang menanggung semua itu rakyat. Jadi realitas kita tidak pernah jauh dari apa yang dibayangkan dan yang dihadapi oleh Bung Karno,” kata Airlangga. [wir/but]
Link informasi : Sumber