Bukan Sekadar Magang, 50 Mahasiswa Turun ke Desa Dukung Swasembada Pangan

0

Gresik (beritajatim.com)- Saat sebagian mahasiswa menghabiskan masa libur dengan mencari pengalaman kerja di perkantoran, 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi pertanian justru memilih jalan berbeda. Mereka rela meninggalkan ruang kuliah untuk terjun langsung ke sawah, mendampingi petani, hingga tinggal di berbagai daerah selama enam bulan.

Mereka adalah peserta Taruna Makmur Batch IX, program yang digagas Petrokimia Gresik untuk mencetak generasi baru agronomis Indonesia. Bukan sekadar menjalani magang, para peserta mendapat tugas nyata menjadi pendamping petani sekaligus penghubung berbagai inovasi pertanian di lapangan.

Selama enam bulan ke depan, mereka akan ditempatkan di berbagai wilayah kerja Petrokimia Gresik yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali. Mereka berasal dari beragam disiplin ilmu, mulai dari agribisnis, hortikultura, teknologi benih, penyuluhan pertanian berkelanjutan, hingga pengelolaan perkebunan.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, menegaskan masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada pupuk, benih, maupun teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mampu mendampingi petani menghadapi tantangan zaman.

“Keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Melalui Taruna Makmur, kami ingin menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang pertanian,” ujarnya, Senin (1/7/2026).

Taruna Makmur sendiri telah berjalan sejak 2022. Dalam kurun waktu tersebut, sebanyak 423 peserta telah dilahirkan sebagai calon agronomis muda yang siap mendukung pembangunan sektor pertanian nasional.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta mengikuti pembekalan intensif. Mereka tidak hanya mempelajari budidaya pertanian berkelanjutan, tetapi juga dibekali kemampuan komunikasi, personal branding, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern.

Bekal itu menjadi modal penting agar mereka mampu berinteraksi dengan petani sekaligus menjadi penyampai inovasi di tingkat akar rumput.

Program ini juga menjadi jawaban atas salah satu tantangan terbesar sektor pertanian Indonesia, yakni regenerasi petani. Di tengah semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menggeluti dunia pertanian.

“Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, petani, dan pelaku usaha harus terus diperkuat agar kita mampu membangun ekosistem pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan,” ungkap Adityo Wibowo.

Semangat itu juga dirasakan Olivian Rizky, salah satu peserta Taruna Makmur Batch IX asal Jawa Barat. Baginya, kesempatan mengikuti program ini bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga kesempatan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

“Saya berharap pengalaman mendampingi petani secara langsung mampu memperkaya ilmu sekaligus menjadi langkah kecil untuk ikut meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia,” pungkasnya. [dny/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.