Dampak Karhutla Bromo: Alam Rusak, Wisata Terhenti, Warga Kehilangan Penghasilan
Probolinggo (beritajatim.com) – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo belum dapat dihitung secara keseluruhan. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih melakukan pendataan untuk memastikan nilai kerugian yang ditimbulkan.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, penghitungan kerugian tidak bisa dilakukan secara cepat. Sebab, ada berbagai aspek yang harus diidentifikasi, mulai dari kerusakan lingkungan hingga dampak ekonomi yang muncul akibat terhentinya aktivitas wisata.
“Sekarang masih kita hitung. Kemarin fokus kita adalah mengidentifikasi areal-areal yang terdampak,” kata Rudijanta.
Ia menjelaskan, besarnya kerugian nantinya tidak hanya didasarkan pada luasan kawasan yang terbakar. Sejumlah komponen lain juga harus dimasukkan agar nilai kerugian yang dihasilkan benar-benar menggambarkan dampak karhutla.
“Komponennya banyak. Ada kerugian lingkungan, ada kerugian ekonomi. Tidak mudah juga untuk menghitungnya. Nanti pasti akan disampaikan setelah diperoleh angkanya,” ujarnya.
Sementara itu, kebijakan penutupan kawasan wisata Bromo sebagai dampak karhutla turut memukul aktivitas pariwisata. TNBTS mencatat sekitar 3.000 wisatawan yang telah memesan tiket kunjungan untuk periode 9-15 Agustus terdampak penutupan tersebut.
Para wisatawan diberikan pilihan untuk mengubah jadwal kunjungan atau mengajukan pengembalian biaya tiket.
Dampak yang lebih luas dirasakan masyarakat di sekitar kawasan Bromo. Penutupan destinasi wisata membuat aktivitas sejumlah pelaku usaha dan warga yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata ikut terhenti.
Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Indra Sutanto, yang meninjau langsung kawasan terdampak, menilai kondisi tersebut perlu segera mendapatkan penyelesaian. Ia berharap proses penanganan karhutla dapat segera dituntaskan agar roda pariwisata kembali bergerak.
“Penduduk sekitar sini mata pencahariannya di wisata. Kalau ini lama-lama ditutup, kasihan,” ujar Indra.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kepentingan pemulihan ekonomi tidak mengesampingkan faktor keselamatan. Pembukaan kembali kawasan wisata Bromo harus dilakukan setelah kondisi dinilai benar-benar aman bagi wisatawan maupun masyarakat.
Hingga kini, TNBTS masih memprioritaskan proses pendataan dan evaluasi kawasan terdampak. Nilai kerugian secara keseluruhan akan disampaikan setelah seluruh komponen yang terdampak berhasil dihitung. (rap/but)
Link informasi : Sumber