Mengeja Ulang Nusantara Lewat Pameran Tenun di Perpustakaan Bung Karno Blitar
Blitar (beritajatim.com) – Selasar Perpustakaan Proklamator Bung Karno Kota Blitar mendadak menjelma menjadi panggung peradaban kain nusantara. Komunitas Patria Wastra kembali menggandeng pihak perpustakaan untuk menggelar pameran wastra.
Menariknya, jika dua gelaran sebelumnya selalu berfokus pada batik, kali ini sorot lampu utama diarahkan pada kain tenun, sebuah warisan budaya yang dinilai masih minim literasi di tengah masyarakat.
Sebanyak 50 kain tenun otentik dipajang apik, membentang dari khazanah motif Pulau Sumatera hingga eksotisme Indonesia Bagian Timur.
Perwakilan dari Patria Wastra, Rian Yoga, mengungkapkan bahwa peralihan fokus pameran dari batik ke tenun ini merupakan langkah inisiatif yang sengaja diambil untuk mendobrak ketidaktahuan publik.
“Pertama, kami sebagai komunitas kolaborasi dengan perpus sudah sering mengadakan pameran. Biasanya dua pameran sebelumnya seputar batik. Karena sudah batik, kami berinisiatif menggelar pameran tenun, sekaligus mengawali. Sebab, literasi soal tenun untuk masyarakat Indonesia ini sangat kurang,” ujar Rian saat ditemui di lokasi pada Sabtu (4/7/2026).
Rian menambahkan, ada miskonsepsi geografis yang perlu diluruskan. Jika batik cenderung terpusat dan mengakar kuat di Pulau Jawa, maka tenun justru memiliki sebaran yang jauh lebih masif di seluruh penjuru negeri.
“Padahal wastra tenun itu paling banyak berada di daerah luar Jawa, menyebar di seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Koleksi yang dipamerkan kali ini bukan sekadar kain pajangan, melainkan koleksi pribadi yang dirawat secara saksama oleh sejumlah kolektor dan pencinta wastra.
Dalam jajaran 50 kain tersebut, kekayaan tenun lokal Jawa Timur juga turut unjuk gigi. Dua yang paling menyedot perhatian adalah Tenun Gedog khas Tuban yang bernuansa magis dan Tenun Ikat Kediri yang sudah terkenal dengan dinamika motif modernnya.
Namun, di balik kemegahan pameran ini, ada satu catatan reflektif bagi publik Blitar. Rian menyayangkan hingga saat ini belum ada identitas tenun yang benar-benar hidup dan diproduksi secara aktif di Bumi Bung Karno.
“Sayang sekali belum ada tenun di Blitar. Saya sebenarnya dapat informasi dari teman bahwa dulu di Blitar ada perajin tenun, tapi sekarang sudah tidak produksi lagi. Kami sendiri bahkan belum tahu bentuk fisik dan motifnya seperti apa,” ungkap Rian dengan nada prihatin.
Melalui pameran ini, Patria Wastra menaruh harapan besar agar ada titik terang atau penelusuran sejarah untuk menemukan kembali atau bahkan menghidupkan ulang geliat wastra tenun asli Blitar.
Pameran ini bukan sekadar ajang nostalgia estetika, melainkan sebuah gerakan perlawanan kultural. Di era modern, industri mode Indonesia sedang digempur habis-habisan oleh tekstil bermotif tiruan alias kain printing pabrikan yang kerap salah dikira sebagai wastra asli oleh awam.
“Kita harus mengedukasi masyarakat supaya tahu mana wastra tenun yang asli dan mana batik yang asli. Ini krusial, agar para perajin di daerah bisa hidup dari karya mereka. Kalau tidak ada yang peduli, wastra tenun lambat laun akan punah,” tegas Rian.
Tak mau hanya menjadi tontonan pasif, pameran ini juga diintegrasikan dengan Event Berkain. Sebuah gerakan aplikatif yang mengajak generasi muda dan masyarakat Blitar untuk tidak sekadar mengagumi kain tradisional di dalam bingkai pameran, melainkan berani mengenakannya dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui harmoni antara edukasi literasi dan aksi nyata berkain, Perpustakaan Bung Karno dan Patria Wastra optimistis, denyut nadi para perajin tenun di pelosok negeri akan terus berpajangan. (owi/ian)
Link informasi : Sumber