Sawah Gresik Mulai Tertekan Kekeringan, Kementan Siapkan Pompa hingga Sumur Dangkal
Gresik (beritajatim.com)– Hamparan sawah di Desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Gresik, menghadapi ancaman yang datang perlahan yakni kekeringan. Tanah yang biasanya menjadi tumpuan produksi pangan mulai membutuhkan pasokan air tambahan agar tetap produktif.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat meninjau areal persawahan di Desa Munggugianti, Selasa.
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, dampak kekeringan di Jawa Timur telah mencapai 229,9 hektare lahan pertanian. Dari jumlah tersebut, sekitar 19,2 hektare berada di Kabupaten Gresik.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan air tidak bisa hanya dihadapi setelah lahan mengalami kekeringan. Pemerintah memilih menyiapkan sumber air alternatif untuk menjaga tanaman tetap tumbuh dan produksi pangan tidak terganggu.
“Untuk lahan yang masih memiliki sumber air, kami siapkan pompa. Air dari sungai atau waduk dialirkan ke sawah,” kata Amran Sulaiman, Selasa (11/8/2026).
Ia menambahkan, skema berbeda juga dilakukan pemerintah bagi lahan yang tidak memiliki akses terhadap sumber air permukaan. Kementan akan membangun sumur dangkal sebagai sumber pasokan air.
Namun, lokasi sumur tidak ditentukan secara sembarangan. Pemerintah akan melakukan survei geolistrik terlebih dahulu untuk mengetahui titik yang berpotensi memiliki sumber air sebelum pengeboran dilakukan.
Langkah itu menjadi bagian dari mitigasi menghadapi musim kering. Sebab, meski kondisi pangan Jawa Timur masih relatif aman, ancaman terhadap produksi tetap harus diantisipasi sejak awal.
Amran menyebut stok beras Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 1,3 juta ton. Ketersediaan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan, tetapi tidak berarti risiko kekeringan dapat diabaikan.
Justru, keberadaan stok pangan tersebut perlu diimbangi dengan upaya mempertahankan produktivitas lahan agar pasokan berikutnya tetap terjaga.
Di tengah persoalan air, kunjungan Mentan ke Gresik juga menyentuh sisi lain kehidupan petani, khususnya kelompok ibu-ibu buruh tani.
Dua unit traktor diserahkan kepada kelompok tersebut. Bantuan ini tidak hanya diarahkan untuk membantu pekerjaan di sawah, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan.
Alat pertanian itu dapat dimanfaatkan secara berkelompok, termasuk melalui penyewaan kepada petani lain. Dengan demikian, traktor diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi menjadi aset produktif yang mampu menghasilkan pendapatan bagi kelompok buruh tani.
Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga sawah dari ancaman kekeringan dengan memperluas akses air. Di sisi lain, kelompok tani didorong memiliki sarana produksi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi mereka.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Eko Anindito Putro menuturkan, bagi petani Gresik, persoalannya sederhana tetapi menentukan ketika air berkurang, sawah tidak bisa menunggu.
“Pompa, sumur dangkal, dan sarana pertanian menjadi bagian dari upaya memastikan lahan tetap menghasilkan meski musim kering datang, dan kondisi ini kami petakan,” tuturnya. (dny/ted)
Link informasi : Sumber