Rumah Tak Layak Huni di Kediri, Pemkot dan Baznas Gotong Royong Bantu Subagio
Ringkasan Berita
- Pemkot Kediri bersama Baznas membantu renovasi rumah Subagio, warga Setonopande yang tinggal dalam kondisi memprihatinkan.
- Baznas menyalurkan bantuan Rp20 juta untuk pembangunan dan rehabilitasi rumah Subagio.
- Rumah Subagio tidak memiliki kamar mandi dan bagian atapnya telah roboh.
- Pemkot juga mengusulkan bantuan sosial serta melibatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar Subagio.
Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), DPRD, perangkat daerah, dan masyarakat bergotong royong membantu Subagio (56), warga Kelurahan Setonopande yang selama ini tinggal di rumah dalam kondisi memprihatinkan.
Kondisi rumah yang dinilai sudah tidak layak huni tersebut membuat Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati turun langsung melakukan survei, Jumat (21/8/2026). Bangunan tidak memiliki kamar mandi dan sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan parah, termasuk atap yang telah roboh.
“Kita bisa lihat bersama bahwa rumah dari Pak Subagio dapat dikatakan tidak layak huni. Sehingga kita, Pemerintah Kota, kemudian bersama Baznas, bersama Pak Bambang (anggota DPRD) kolaborasi untuk membantu beliau,” ujar Vinanda usai meninjau rumah Subagio.
Terpaksa Tidur di Garasi
Kondisi rumah membuat Subagio bahkan tidak dapat tidur dengan layak di kediamannya sendiri. Ia selama ini terpaksa tidur di area garasi milik keluarga Ketua RT setempat karena rumahnya sudah tidak memungkinkan untuk ditempati.
Vinanda berharap proses renovasi dapat segera dilakukan sehingga Subagio kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman.
“Harapannya nanti beliau bisa mendapatkan rumah yang layak untuk ditinggali, kemudian nantinya bisa meningkatkan kualitas hidupnya beliau karena kalau rumahnya seperti itu tentunya juga akan berdampak kepada kesehatannya beliau,” terangnya.
Sebagai langkah awal, Baznas memberikan bantuan sebesar Rp20 juta untuk membantu pembangunan dan renovasi rumah tersebut. Pemkot Kediri juga memberikan bantuan sembako serta menyiapkan kebutuhan dasar berupa kasur dan perlengkapan tidur.
Vinanda meminta bantuan tersebut digunakan sesuai peruntukannya, terutama untuk memperbaiki rumah. “Semoga ini nantinya bermanfaat untuk panjenengan dan dananya harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tujuannya untuk membangun rumah bukan yang lain. Nanti semoga panjenengan bisa betah untuk tinggal di rumah panjenengan setelah direnovasi,” ujarnya.
Rumah Dibersihkan Sebelum Direhabilitasi
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Kediri Moh. Anang Kurniawan mengatakan rehabilitasi rumah Subagio membutuhkan penanganan cukup besar.
Sebelum pembangunan dilakukan, rumah harus dibersihkan terlebih dahulu karena terdapat banyak sampah dan material di dalam maupun sekitar bangunan.
Pembersihan akan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP), BPBD, Dinas Sosial, kecamatan, kelurahan, serta masyarakat sekitar.
“Nanti bahu-membahu gotong royong untuk membersihkan. Setelah itu bersih, baru dilaksanakan eh pembongkaran dan rehabilitasi,” jelas Anang.
Rumah tersebut berdiri di atas lahan sekitar 7 x 12 meter. Kerusakan paling parah terdapat pada bagian atap yang telah roboh. Sementara bagian dinding masih memungkinkan diperbaiki melalui penyulaman.
Renovasi ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan.
Menurut Anang, proses pembongkaran dan rehabilitasi akan menggunakan bantuan Baznas. Apabila kebutuhan pembangunan melebihi anggaran yang tersedia, Pemkot akan menggandeng berbagai pihak untuk menutup kekurangan tersebut.
“Nanti kita juga melibatkan donatur-donatur yang ingin membantu. Diantaranya dari anggota DPRD, nanti dari masyarakat sekitar, dari teman-teman OPD, teman-temannya Pak Camat, teman-temannya Pak Lurah, nanti dikumpulkan untuk mendukung,” ujarnya.
Kondisi Sosial Subagio Turut Ditangani
Perhatian Pemkot Kediri tidak hanya menyasar kondisi fisik rumah. Kondisi sosial Subagio juga menjadi perhatian Dinas Sosial.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Mutakkin mengatakan Subagio baru teridentifikasi dalam pendataan. Berdasarkan hasil asesmen, terdapat kondisi disabilitas mental ringan.
Dinsos selanjutnya mengusulkan Subagio memperoleh bantuan sosial dari pemerintah pusat maupun program bantuan Pemkot Kediri. Namun, posisi data penerima saat ini masih menjadi kendala karena Subagio tercatat dalam desil 7.
“Desilnya, ya dia termasuk inclusion error lah ya. Harusnya dia menerima tapi ternyata dia di luar desil yang menerima. Jadi itu sudah kita usulkan kurang lebih sudah 2 minggu sebelumnya,” ujarnya.
Dinsos juga terus melakukan verifikasi terhadap data penerima bantuan sosial. Masyarakat diminta aktif melaporkan apabila menemukan warga yang dinilai membutuhkan bantuan tetapi belum masuk dalam pendataan.
Pelaporan dapat dilakukan melalui ketua RT untuk diteruskan ke kelurahan. Setelah itu, Dinsos akan melakukan asesmen dan verifikasi kondisi warga untuk menyesuaikan data.
“Jadi tidak bisa hanya Dinas Sosial saja kayaknya enggak sanggup. Tapi dari RT setempat yang paling peran aktifnya kita tunggu,” terangnya.
Warga Sudah Lama Prihatin
Ketua RT 7/RW 3 Kelurahan Setonopande Una Yusita mengatakan kondisi rumah Subagio sebenarnya telah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, kerusakan bermula dari kebocoran yang tidak segera diperbaiki karena keterbatasan biaya. Kondisi semakin parah ketika Subagio sempat meninggalkan rumah untuk bekerja di Gresik selama beberapa tahun.
Setelah kembali ke Kediri, bagian belakang rumah sudah banyak yang roboh. Bahkan, terdapat pohon besar yang tumbuh di bagian bangunan yang rusak.
“Jadi dulu sempat ada yang mungkin bocor ya, bocor, terus mungkin enggak ada biaya, terus Pak Subagyo-nya pernah kerja di Gresik mungkin ada beberapa tahun. Jadi semakin memperparah kondisi itu karena enggak ditinggali gitu ya. Terus waktu Subagio sudah resign dari sana, dari Gresik, terus kembali ke sini. Yang belakang itu sudah sudah banyak yang roboh. Terus tumbuh tumbuh pohon besar,” papar Una.
Warga sebenarnya sempat melakukan pembersihan pada 2024. Namun, kondisi bangunan yang terus terpapar panas dan hujan kembali mengalami kerusakan hingga semakin parah.
Setelah kembali ke Kediri, Subagio juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia banyak mengandalkan kepedulian warga sekitar. Tetangga secara bergantian membantu menyediakan makanan dan kebutuhan sehari-hari bagi Subagio.
Pemkot Bantu Warga Rentan Lain
Selain Subagio, perhatian juga diberikan kepada Endah Dwi Rahmawati (52), warga yang mengalami ODGJ dan tinggal tidak jauh dari rumah Subagio.
Pemkot Kediri memberikan bantuan berupa sejumlah kebutuhan pokok kepada Endah. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama masyarakat untuk meringankan beban warga yang berada dalam kondisi rentan.
“Semoga nanti apa yang diberikan kepada Pak Subagio, kemudian bu Endah nantinya bisa bermanfaat dan ini upaya kita bersama untuk memberikan atau meringankan beban dari masyarakat,” pungkas Vinanda.
Penanganan rumah Subagio selanjutnya akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembersihan bangunan hingga pembongkaran dan rehabilitasi. Pemkot Kediri juga membuka ruang kolaborasi dengan Baznas, DPRD, perangkat daerah, donatur, dan masyarakat agar kebutuhan renovasi dapat dipenuhi.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya mengubah kondisi fisik rumah, tetapi juga memberikan tempat tinggal yang lebih aman sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup Subagio. [nm/kun]
Link informasi : Sumber