Jadi Ketua Masyumi, Taktik Jitu KH Hasyim Asyari Siasati Jepang

0

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, diselenggarakan dalam suasana peringatan Kemerdekaan. Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam perjuangan panjang itu. Tak hanya melalui gerakan bersenjata, tapi juga manuver organisasi.

Hal ini diceritakan Robin Bush dalam buku Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia yang terbit pada 2009. Dalam buku itu disebutkan, NU dan Muhammadiyah yang sempat bersitegang sepanjang 1920-1930 karena perbedaan doktrin dan tafsir praktik keislaman akhirnya mencapai kesepakatan membentuk organisasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada September 1937.

MIAI adalah organisasi payung bagi organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammaduyah, yang dibentuk atas prakarsa Abdul Wahab Chasbullah dan Achmad Dachlan Kebondalem dari NU, Mas Mansur dari Muhammadiyah, dan W. Wondoamiseno dari Sarekat Islam.

MIAI bertujuan mendorong persatuan dan kerja sama di antara umat Islam. Sementara bagi NU, MIAI adalah medium untuk menunjukkan identitas dan aktivitas politik organisasi.

Setelah menduduki Indonesia, Jepang rupanya memandang MIAI memendam sentimen antikolonial. Maka organisasi ini dibubarkan dan digantikan Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia pada November 1943 yang hanya terdiri atas Muhammadiyah, NU, dan dua kelompok tradisionalis kecil.

Tujuan organisasi ini tunggal yakni “memperkuat persatuan seluruh organisasi Islam” dan “membantu Dai Nippon demi kepentingan Asia Timur Raya”. Dengan pembentukan Masyumi, Jepang membungkam unsur-unsur yang lebih radikal dalam MIAI.

Tokoh besar NU KH Hasyim Asy’ari ditunjuk menjadi ketua Masyumi. Sementara posisi wakil ketua dijabat putranya KH Wahid Hasyim, dan Mas Mansur. Empat pejabat NU dan empat pejabat Muhammadiyah bertugas sebagai penasihat eksekutif

Mas Mansur kemudian mengundurkan diri pada 1944, sehingga kepemimpinan sehari-hari berada di tangan Kiai Hasyim. Hasyim Asyari sendiri menilai pergantian nama MIAI menjadi Masyumi hanya untuk menyenangkan Jepang.

“Namanya Masyumi. Kedengarannya seperti kata Jepang, jadi mereka akan senang. Sudahlah, apa arti sebuah nama?” kata Hasyim,

“Jadi kita akan membantu Jepang?” tanya Saiufuddin Zuhri, murid Hasyim yang kelak menjadi Menteri itu.

Hasyim menjelaskan, bahwa Jepang mengira organisasi itu untuk mengerahkan umat Islam membantu meraih kemenangan Dai Nippon. Namun Jepang tidak tahu, bahwa Hasyim Asyaei dan para pemimpin Masyumi memaksudkan organisasi itu untuk kemenangan kelompok-kelompok Muslim Indonesia.

Menurut Hasyim, NU dan kelompok-kelompok Muslim lainnya akan membuat Jepang berpikir bahwa umat Islam Indonesia bekerja demi kepentingan Jepang. Sementara pada saat yang sama umat Islam menggunakan infrastruktur Masyumi untuk memperkuat posisi mereka sendiri.

“Apakah kita mampu menipu Jepang?” tanya Zuhri.

“Jangan lupa, Nabi pernah bersabda Al-harbu khidah, ‘Dalam perang akan selalu ada tipu daya’. Kita hidup dalam masa perang, bukan? Dalam perang hanya ada satu kepastian: membunuh atau dibunuh, menipu atau ditipu … Kita hanya harus memilih yang mana,” kata Hasyim.

Sikap akomodatif Nahdlatul Ulama berubah menjadi konfrontatif setelah Belanda kembali untuk menjajah Indonesia setelah Perang Dunia II usai. Kaum Nahdliyyin terlibat aktif dalam revolusi dengan mengerahkan kelompok gerilya Hisbullah yang dipimpin kiai NU Zainul Arifin. Ulama NU juga mengeluarkan Resolusi Jihad yang terkenal, yang menyatakan perang melawan Belanda sebagai perang suci pada Oktober 1945. [wir/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.