Tradisi Rombekan Meriahkan Maulid Nabi di Mojokerto, Warga Berebut Uang
Ringkasan Berita:
- Ratusan warga Desa Kauman, Bangsal, Mojokerto mengikuti tradisi rombekan saat Maulid Nabi.
- Uang yang dibagikan terdiri dari pecahan Rp500 hingga Rp20 ribu.
- Tradisi tersebut telah berlangsung puluhan tahun dan diwariskan lintas generasi.
- Salah satu tokoh masyarakat menyiapkan sekitar Rp2 juta untuk tradisi rombekan tahun ini.
Mojokerto (beritajatim.com) – Suasana penuh kegembiraan mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Senin (24/8/2026). Ratusan warga mengikuti tradisi rombekan, tradisi turun-temurun berupa pembagian uang yang menjadi bagian dari kemeriahan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi rombekan digelar di Masjid Darussalam Desa Kauman, sejumlah musala, hingga rumah warga. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias ketika uang mulai ditebarkan oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pengurus masjid.
Uang yang dibagikan terdiri dari berbagai pecahan, mulai Rp500, Rp1.000, Rp2.000 hingga Rp20.000. Warga kemudian berebut mengambil uang yang berjatuhan di tengah kerumunan.
Meski harus berdesakan, antusiasme warga mengikuti tradisi tersebut tidak surut. Anak-anak juga terlihat bersemangat mengais uang yang jatuh di antara warga lainnya.
Salah satu warga, Eva (40), mengaku senang bisa kembali mengikuti tradisi rombekan yang setiap tahun digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi di desanya.
Menurut Eva, uang yang diperoleh bukan sekadar soal nominal, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman yang selalu dinantikan warga bersama keluarga.
“Senang bisa ikut, iya ini tradisi tiap tahun di Desa Kauman. Dapat banyak, mulai pecahan Rp500 perak, tidak tahu jumlahnya berapa. Iya berebutan dengan banyak warga, teriak-teriak. Seneng,” ujarnya.
Tokoh masyarakat Desa Kauman, Sampiono, mengatakan tradisi rombekan telah berlangsung selama puluhan tahun. Tradisi tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurut Sampiono, uang yang dibagikan berasal dari dana pribadi sejumlah tokoh masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur.
“Tradisi Maulid Nabi di Desa Kauman ini sudah turun temurun mulai dari saya kecil sampai sekarang, menikah dan punya anak dua. Memang tradisi turun temurun di Desa Kauman ini, Yang diperebutkan uang koin mulai pecahan Rp500 sampai Rp1 ribu. Yang berebut warga, anak-anak. Yang ingin ikutan juga silahkan,” ungkapnya.
Sampiono mengatakan dirinya menyiapkan sekitar Rp2 juta untuk tradisi rombekan tahun ini. Jumlah tersebut belum termasuk sumbangan dari tokoh masyarakat lainnya.
“Kalau dari saya sendiri Rp2 juta, tidak tahu dari teman-teman. Tiap tahun seperti ini, keyakinan dari nenek moyang dulu, kita yang meneruskan,” tuturnya.
Sebelum tradisi rombekan dimulai, ratusan warga terlebih dahulu mengikuti pembacaan selawat Nabi secara bersama-sama. Lantunan pujian kepada Rasulullah SAW menjadi pembuka kegiatan sebelum warga mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kauman tersebut.
Bagi warga, rombekan bukan sekadar kegiatan berebut uang. Tradisi ini menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Tradisi yang bertahan hingga kini juga memperlihatkan bagaimana nilai berbagi dan kebersamaan dapat berjalan beriringan dengan warisan budaya keagamaan masyarakat Desa Kauman.
Warga berharap tradisi rombekan tetap lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan makna utama peringatan Maulid Nabi, yakni meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta memperkuat silaturahmi. [tin/beq]
Link informasi : Sumber